Semilir angin menerpa rambut Sandi yang ternyata sudah memanjang. Hal itu bikin Sandi sadar kalau akhir-akhir ini dia jarang memerhatikan penampilannya.
Padahal, dia paling tidak suka jika rambutnya memanjang dan tak beraturan. Sandi lebih suka potongan rambut cepak atau botak sekalian. Sayangnya, ketika Sandi botak, wajahnya itu semakin terlihat bulat. Well, meskipun Sandi tidak terlalu ingin menarik perhatian cewek, tetap saja penampilan sempurna tetap menjadi pilihannya.
Tak lama setelah Sandi menggerutu perihal rambutnya yang mulai gondrong itu, Reyes datang sambil menyodorkan sebuah kotak susu.
Sandi mendongakkan kepala dengan tatapan bertanya, baju pasien rumah sakit ini entah kenapa terasa sangat besar di tubuh Sandi. Angin malam yang kian berhembus kencang lantas membuatnya berterbangan ke sana-ke mari.
Melihat Sandi yang terdiam, Reyes hanya menggerakkan dagunya pelan memerintah Sandi untuk segera mengambil alih kotak susu tersebut.
Sandi pun mengambilnya sambil tersenyum tipis.
Reyes terduduk sambil menghela napas berat, ia meminum sodanya dengan tergesa-gesa.
"Tadi polisi ke sini."
Reyes memang paling jago jika membuat orang jantungan. Bagaimana tidak? Dia langsung membuka percakapan dengan kalimat to the point itu. Sandi yang sedang meminum susunya itu tersedak.
"Udah gue suruh balik. Gue bilang lo tidur dan gak boleh diganggu," ucap Reyes sambil menoleh. Mata Reyes yang melihat penampakan Sandi yang terkejut itu hanya terkekeh kecil. "Gue udah beliin lo cukuran. Jangan sampe Jelita datang liat lo kayak gembel gini."
Well, ini sudah dua hari Sandi menginap di rumah sakit ini.
Eric mengatakan kalau pihak kepolisian sedang memeriksa Haris perihal kecelakaan itu. Syukurlah, setidaknya Eric---cowok sekaligus kenalannya yang selalu memaksa Sandi balapan lagi itu mau bertanggung jawab.
Haris memang merencanakan kecelakaan lagi karena dia masih dendam dengan Sandi.
Entah apa yang membuatnya seperti itu. Tetapi yang jelas, Eric menyampaikan bahwa Haris masih tidak terima bahwa dirinya kalah di pertandingan terakhir. Selama ini yang menyuruh Eric membujuk Sandi juga Haris. Oleh karenanya, Eric merasa bersalah dan dia berpikir dia harus bertanggung jawab atas kejadian ini.
Polisi yang dimaksud Reyes tadi mungkin datang ingin meminta kesaksian Sandi mengenai kasus yang dialaminya.
Hah, sial...
Apakah Tuhan sedang menghukum Sandi karena sudah menjilat ludahnya sendiri?
Dia yang membuat perjanjian itu, dia pula yang melanggar. Biadab memang.
Namun, Sandi tak perlu merasa sebegitunya---toh, lelaki di sampingnya ini sama saja. Siapa lagi kalau bukan Reyes?
"Gue udah jelasin semuanya ke Sharline."
Kedua kalinya Reyes hampir bikin Sandi jantungan---tetapi tidak separah yang pertama. Sandi yang sedotannya mulai mengeluarkan suara tercekik itu menoleh dengan kedua matanya yang membulat. "Hah? Kapan? Kenapa? Gimana?" tanyanya bertubi-tubi.
Reyes bersandar pada bangku ini, mengeluarkan sekotak susu dari plastik yang dibawanya dan memberinya kepada Sandi.
Syukurlah rooftop ini menyediakan bangku dengan sandaran. Sebab, akhir-akhir ini punggung Reyes memang sangat berat. Menangguhkan seluruh beban....
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Trinity ✓
Fiksi PenggemarReyes, Sandi, dan Dizar membuktikan kalau sahabat adalah orang yang dapat dipercaya. Tapi, bagaimana kalau suatu keadaan membuat mereka terpaksa saling mengkhianati? warning! °°mental health issues, harsh words, drugs, alcohol, etc. ©tanbaebaes, 20...
