Masih tertarik baca fanfiction ini ? :(
***
Selamat malam.
Dua kata yang sangat disukai seorang Reyes Baskara.
Ah, mungkin kalian belum mengenal siapa sosok cowok yang kalau menurut Sandi ini penggila wanita. Adapun tanggapan Dizar... yang selalu menganggap Reyes orang yang munafik.
Sekarang, mari kita kenali siapa sosok Reyes ini.
Reyes lahir di Bandung, tanggal---ets--bukan perkenalan seperti ini yang dimaksud. Tetapi, mari lihat Reyes yang sedang bersandar di sisi jendela kamarnya malam ini.
2.15
Tengah malam ini pasti bakal jadi situasi paling horor bagi setiap orang. Mau itu di luar rumah, dalam kamar, atau juga di atas pohon... situasi di jam 2 pagi itu selalu mencekam.
Bukan perihal hantu aja... tetapi juga isi pikiran yang seolah-olah sedang mengancam setiap kehidupan manusia.
Di jam 2 pagi, semua pikiran terbuka. Semua hal-hal yang terjadi selama hari itu perlahan teringat kembali. Semua.. kesalahan orang lambat laun bisa dimaafkan di bawah alam sadar kita.
Kira-kira begitulah yang ada di pikiran Reyes saat ini.
Cowok jangkung yang hanya memakai kaus oblong berwarna putih serta celana boxer bermotif macannya itu (jujur motif macan adalah motif yang paling Reyes suka) sedang memangku tangannya di kusen jendela. Wajahnya termenung menatap udara malam yang sangat dingin itu.
Reyes juga tak ketinggalan memakai kacamatanya---ah, Dizar itu salah. Kacamata yang dikenakan Reyes juga membantunya melihat di siang hari.
Sekali lagi, Reyes bersandar pada sisi jendela kamarnya untuk memikirkan polemik kian masalah yang ada di hidupnya.
Ini sudah menjadi kebiasaan cowok itu.
Reyes bukan seperti Dizar yang mudah bergaul---bahkan dengan hantu sekaligus. Apalagi, curhat sana-sini meski ke orang yang tidak terlalu dikenalnya.
Reyes juga bukan Sandi---yang selalu blak-blakan mengenai perasaannya meski cowok itu akan terang-terangan tak mau mengaku (gengsi).
Reyes....
Sulit mengekspresikan diri.
Reyes tidak pernah berani mengungkapkan isi hatinya kepada orang lain bahkan itu Sandi ataupun Dizar. Dua manusia yang mau menemaninya sejak beberapa tahun yang lalu. Dua manusia yang setidaknya mau mengisi hari-harinya yang sepi.
Ah, perihal hari sepi. Reyes selalu merasakan itu.
Hari-harinya selalu kesepian.
Reyes selalu sendirian.
Makanya, setidaknya ia bersyukur ada Sandi dan Dizar yang beberapa tahun belakangan mau mewarnai hari-harinya itu.
Dulu, waktu Reyes duduk di bangku sekolah dasar. Dia terpaksa sekolah di SD Internasional yang di mana teman-temannya adalah orang asing.
Well, dulu Reyes hanyalah anak kecil yang menyukai puisi. Cowok itu... sejak dulu mencintai seni berbahasa, seni kata, atau sejenis lainnya.
Inilah yang membuatnya sulit bergaul dengan teman-temannya yang lain. Terlebih, mereka adalah sekelompok orang-orang yang berbeda budaya hingga bahasa.
Hari-hari Reyes di sekolah diisi oleh belajar seperti biasa, lalu begitu pulang ia lanjut les berbagai keterampilan seperti renang, matematika, piano, bahkan bahasa Inggris.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Trinity ✓
FanfictionReyes, Sandi, dan Dizar membuktikan kalau sahabat adalah orang yang dapat dipercaya. Tapi, bagaimana kalau suatu keadaan membuat mereka terpaksa saling mengkhianati? warning! °°mental health issues, harsh words, drugs, alcohol, etc. ©tanbaebaes, 20...
