3. story pain

538 90 22
                                        

Angin sejuk menyambut Dizar yang baru saja membuka pintu mobilnya. Kepalanya mendongak memandang sekitarnya dan merasakan semilir angin yang menyentuh kulitnya. Cowok itu membuka kacamatanya, melepas tompel hijau palsunya. Memasukkannya ke dalam kantung celana dan memasuki gedung besar di hadapannya.

Pintu kaca otomatis terbuka dan Dizar melangkah ke dalam. Bertepatan dengan itu, seorang wanita yang tepat di sisi kanan belakang pintu melebarkan senyum. "Dizar!" panggilnya.

Cowok itu otomatis menoleh. Lalu mendekatinya. "Malam ibu," ucapnya ramah.

Ibu itu, yang memakai jas putih lantas memukul pelan bahu Dizar. "Kamu belum pulang ke rumah?" tanyanya mengalihkan topik.

Dizar melirik pakaiannya yang masih memakai seragam. Lalu menyengir lebar. "Ibu taulah, anak SMA tingkat akhir sibuknya hampir sama kayak presiden."

Ucapan Dizar yang dilebih-lebihkan lantas membuat Ibu itu merengut lalu tertawa. Tangannya terulur mengusap bahu kiri cowok itu. "Yaudah, sana temuin bunda kamu."

Dizar mengangguk sambil tersenyum sebelum akhirnya pergi.

Langkahnya menuntunnya pada sebuah pintu dengan kaca kecil yang sekarang sedang ia intipi. Darisana, Dizar dapat melihat seorang wanita paruh bayah yang menatap jendela, duduk membelakanginya.

Tanpa aba-aba Dizar menarik napasnya, lalu menggeser pintu. 

"Bunda!" seru Dizar, lantas berubah ceria. Ia buru-buru melepas tasnya dan melemparnya pada ranjang kasur sebelum akhirnya memeluk wanita itu dari samping.

"I miss you, Bunda." bisik Dizar yang tangannya melingkar pada leher wanita itu.

"Bunda... Kangen aku juga ngga?" tanya Dizar masih dengan posisi yang sama.

Namun tidak ada jawaban. Wanita itu tetap memandang lurus pemandangan di luar sana. Sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Dizar. Cowok itu tau. Tau dan sudah hafal sekali. Ia tau kalau wanita ini—Bundanya, akan bersikap seperti ini.

Diam. Dan tidak mengenalinya.

Bukannya melepas pelukannya, cowok itu malah makin mempererat. Memejamkan matanya sambil menghirup aroma yang ia selalu rindukan. "Bunda... Tidur nyenyak?" katanya, ikut memandang pemandangan di luar.

"Akhir-akhir ini aku nggak bisa tidur nyenyak."

"Papa makin jarang pulang. Aku kesepian."

"Apa bunda nggak kesepian? Cepat sembuh, Bun. Biar bisa pulang ke rumah, temenin Sharga."

Masih tidak ada jawaban.

Selalu seperti ini. Dan Dizar tau ini akan terjadi meski hatinya terus-terus terasa sesak.

Cowok itu melepas pelukannya, berdiri dengan tegak dan memegang pegangan kursi roda.

Namun hal yang tidak ia sangka terjadi. Bundanya menggapai tangan Dizar yang ada di pegangan kursi roda.

Cowok itu lantas terkejut. Ia dengan sigap mendekatkan tangannya pada gapaian tangan wanita itu, masih tidak menyangka. Selain itu dengan cepat ia memutarbalikkan kursi roda, hingga akhirnya ia dapat melihat kejujuran di mata Bundanya.

Dengan kaku, mulut wanita itu bergerak.
"Sa...ga..?"

Membuat harapan Dizar luntur seketika.

🐙🐙🐙

Bak! Pintu kamar terbuka begitu saja saat Reyes baru mendudukkan tubuhnya bersiap untuk tidur. Dizar masuk tanpa basa-basi melempar tasnya kasar ke kasur, lalu berteriak marah.

Sweet Trinity ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang