Bug!
Bug!
Bug!
Suara orang saling memukul menghiasai gelapnya malam ini-menggantikan menggelegarnya petir di luar sana.
Baju Sandi yang berkeringat dan basah itu sama sekali tidak mengganggunya untuk memukuli dua kawanan berbaju hitam ini. Sampai akhirnya, seseorang berteriak.
"Rakun!" suara itu berasal dari dapur rumah Dizar. Sementara itu Sandi yang baru saja menendang kepala orang berbaju hitam itu menoleh ke sumber suara dengan terengah.
Reyes yang sedang merangkul Dizar ada disana. Menyuruhnya mendekatinya.
Tanpa aba-aba Sandi berlari kesana.
"Bantu gue," ucap Reyes begitu Sandi ada di sana. Cowok itu menunjuk sebuah lubang di bawah meja dapur.
Sandi segera menyingkirkan beberapa kayu dan benda lain yang menghalangi lubang besar itu sampai akhirnya ia menyingkirkan benda terakhir.
Suara seseorang menginterupsi.
"Angkat tangan kalian!"
Sandi yang sedang menunduk sontak membeku. Begitupun Jeno dan Hyunjin.
Perlahan, Sandi mengangkat tangan beserta tubuhnya, pandangannya bertemu dengan sekelompok orang berbaju hitan yang mengangkat pistol dan seseorang yang amat dia kenali.
"Ayah?"
Pria berkacamata yang kurus itu melihat Sandi dengan heran sebelum akhirnya berbisik pada orang di sebelahnya.
Dan yang terjadi selanjutnya ialah... seluruh orang berbaju hitam itu menurunkan pistolnya.
Dalam satu helaan napas, Sandi mengerti. Matanya memanas, melirik kedua temannya yang meringkuk takut sekaligus bingung.
Lalu berpaling pada ayahnya yang menatapnya datar. "Let's go home."
Untuk kesekian kalinya, Sandi mendapati ayahnya sebagai pengkhianat hukum.
👑🐙⚽
Reyes dan Dizar sontak saling melirik satu sama lain, melihat Sandi yang mendadak diam karena ingatannya 5 tahun lalu.
Reyes akui, itu memang tidak terlalu berpengaruh besar baginya. Malah Reyes menganggap itu sebagai pengalaman kerennya sebagai remaja SMP. Begitu juga Dizar.
Namun beda halnya dengan Sandi. Kejadian 5 tahun lalu itu seperti sebuah samsak baginya, yang mempunyai pengaruh tajam bagi cowok itu sendiri.
Dizar menusukkan sedotan pada sekotak susu dan menyerahkannya pada Sandi-karena suara serat sedotan kosong yang bersumber dari cowok itu. Tanpa bicara apapun, Sandi menerimanya-tentu saja tanpa menatap Dizar karena pandangannya menghadap ke bawah.
Reyes tertawa garing, mengangkat teleponnya yang berbunyi. "Ehehehe. Cewek gue nih gengs."
"Halo?"
"Halo Reyes?"
"Iya, Shar. Ada apa?"
"Gue boleh.. minta tolong ga?"
Reyes langsung melihat ke kedua sahabatnya yang sedang menatapnya juga. cowok itu langsung terkekeh kecil. "Boleh dong. Kenapa?"
"Datang ke rumah gue sekarang."
Dizar yang tadinya mau menuangkan wine di gelasnya langsung terhenti. Sandi yang tadinya lagi menyedot susu kotaknya berhenti. Dua sahabatnya itu langsung memerhatikan Reyes.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Trinity ✓
FanfictionReyes, Sandi, dan Dizar membuktikan kalau sahabat adalah orang yang dapat dipercaya. Tapi, bagaimana kalau suatu keadaan membuat mereka terpaksa saling mengkhianati? warning! °°mental health issues, harsh words, drugs, alcohol, etc. ©tanbaebaes, 20...
