4. cool starts

417 87 12
                                        

Mereka lahir di rumah sakit yang sama. Makanya nggak heran kalau di SMA kelas 3 sekarang ini mereka udah kayak saudara.

Mulai dari Sandi yang keras di luar padahal aslinya soft. Reyes yang dari luarnya baik, tipe-tipe cowok idaman padahal aslinya nggak begitu—jauh dari kata idaman. Dan terakhir, Dizar—cowok ganteng yang memutuskan buat jadi jelek.

Kepribadian mereka yang bervariasi membuat hubungan ketiganya malah makin erat. Dengan kata lain, saling melengkapi.

Waktu itu, waktu mereka baru aja masuk kelas 1 SMP. Disitulah mereka bertemu lagi.

🐙⚽👑

Pagi itu, Sandi bangun telat. Tapi, nggak kayak orang telat yang lain—Sandi tetap santai. Padahal hari pertama MOS. Cowok itu belum pakai dasi, kemejanya masih berantakan lantas berjalan menuju sekolah barunya.

Begitu sampai gerbang, Sandi langsung didorong-dorong sama seniornya buat baris bareng mereka yang telat juga di tengah lapangan—saat apel pembukaan berlangsung.

Apel pembukaan sedang berlangsung—tepatnya, kepala sekolah SMP barunya itu sedang membuat sambutan. Nah darisini lah, di seberang Sandi jauh di sana, cowok dengan kemeja yang kancingnya terkancing semua sampai leher berhadapan dengan Sandi.

Karena mereka diharuskan menghadap ke depan, otomatis pandangan Sandi pertama adalah cowok itu.

Awalnya, Sandi biasa aja. tapi, lama-lama, kok.. kayak kenal?

Tapi tetap aja, seorang Sandi mencoba tidak peduli..

Tidak lama kemudian, lapangan menjadi heboh seketika. Saat Sandi mengangkat pandangannya, seorang cowok yang pakai kacamata lagi lari-lari di tengah lapangan.

Murid-murid MOS sekaligus senior sekolahnya ini langsung saling berteriak-ketawa-heboh. Sementara Sandi masih menganalisa—apa yang sedang terjadi.

Cowok yang Sandi tebak tingginya lebih pendek darinya itu berlari dari ujung lapangan ke tengah lapangan sebelum akhirnya—bruk! Dia jatuh. Persis di tengah lapangan.

Tawaan langsung menggelegarkan suasana sekolah. Kepsek yang sedang berbicara di podium juga langsung berhenti. Sementara senior yang lain—osis berbondong-bondong ke tengah lapangan buat bantu cowok itu berdiri.

Alis Sandi langsung tertaut heran saat melihat cowok itu bangun dan sambal memegangi perutnya. Sandi juga bisa lihat jelas kalau cowok itu mau pergi tapi gak dibolehin sama senior.

Makin dilihat—makin aneh. Akhirnya cowok itu tetap di tengah lapangan, sementara pidato kepsek dilanjutkan lagi. Begitu salah satu senior lewat depan Sandi, dia langsung mendengar, "Kita gak keterlaluan nih? Dia bener-bener kebelet pup." "Hah? Lo gak liat tuh anak pura-pura? Dia pasti gak mau ikut apel."

Sandi langsung heran. Pura-pura? dia kebelet pup sampe lari dari ujung lapangan—barisannya ke tengah lapangan, dibilang pura-pura?

Sandi paling nggak suka yang kayak gini. Dia langsung  menepuk bahu seniornya yang tadi padahal seniornya udah jauh dari tempatnya.

"Dia nggak pura-pura." jelas Sandi langsung.

Seniornya itu mengangkat sebelah alisnya. "Maksud lo?"

"Dia," Sandi menunjuk cowok yang ada di tengah lapangan, masih memegangi perutnya kesakitan. "Harus ke kamar mandi."

Tapi seniornya malah tertawa remeh. "Terus kenapa?"

"Dia lari dari ujung lapangan ke seberang lapangan—toilet. Dibilang pura-pura cuma karena gak mau ikut apel... kesimpulan darimana? Coba, otaknya dipake." sarkas Sandi, berhasil bikin seniornya itu membulatkan matanya terkejut.

Nggak ada habisnya buat tegur orang kayak gitu. Makanya Sandi memutuskan buat samperin cowok yang ada di tengah lapangan, tapi baru aja dia balik badan—Sunwoo langsung liat cowok itu lagi di rangkul sama cowok yang tadi ada di seberangnya—cowok dengan kemeja terkancing semua.

Dan bisa ditebak, pidato kepsek terhenti lagi dan seluruh lapangan fokus ke mereka bertiga.

Sandi yang agak sedikit lega karena masih ada yang mau dihukum bareng dia nanti langsung lupa diri. Dia langsung naik ke podium dan meminta mic pada kepala sekolah dengan sopan.

Kepsek yang keliatan agak kebingungan mau gak mau ngasih mic itu karena pembawaan Sandi yang kelewat serius. Setelah memegang mic, Sandi gak lupa mengetes suara dengan memukul ujung mic. Dia berdeham, "Menahan buang air besar dapat menyebabkan feses mengeras, pergerakan usus yang melambat, dan infeksi bakteri. Mungkin ini hal kecil tapi mengasumsikan bahwa seseorang berpura-pura ingin BAB hanya karena tidak ingin mengikuti apel dan menghukumnya di tengah lapangan adalah hal kecil yang dapat berakibat fatal. Saya harap pihak sekolah bisa menyaring, siapa yang berhak menjadi pengurus sekolah yang baik."

Semenjak pidatonya yang hanya ada dua titik itu. Sandi langsung terkenal. Baik di kalangan siswa-siswi maupun guru-guru.














👑⚽🐙





Sebotol pulpyorenji terulur di hadapannya, Sandi yang tengah menyandar di pilar dinding lantas berdiri tegak dan menerima minuman itu.

"Awal sekolah yang keren," celetuk cowok berkancing semua itu.

Sandi tersenyum tipis sebelum akhirnya meneguk minumannya.

"By the way, mindblowing banget lo tau semua penyebab orang menahan BAB."

"Gue sering baca di Internet."

"Ugh, positive activity." Ia mengacungkan jempolnya. "Lagipula emang osisnya keterlaluan sih. gila aja bikin orang nahan BAB di tengah lapangan."

Sandi hanya menghabiskan pulpyorenji dengan satu tegukan dengan senyum miring mengiyakan.

Cowok berkancing semua itu berucap. "Gue Reyes."

Sandi langsung menoleh saat cowok itu tiba-tiba memperkenalkan dirinya. Cowok itupun membalas tatapan Sandi sambil tersenyum.

"Gue Sandi."

"Dan gue Dizar." Saat Sandi dan Reyes saling berhadapan, suara orang lain menginterupsi. Dan di seberang Sandi menyandarkan tubuhnya di pilar, cowok dengan kacamata pecah itu menyahut. Tangannya masih memegang pinggangnya. Ia lantas mendekati Reyes dan Sandi.

"Thanks dude. Untung eek gue nggak keras." Katanya, tangannya langsung mengambil alih pulpyorenji milik Sandi dan meminumnya.

Reyes tertawa lantas mengambil kacamata yang Dizar kenakan dan memakainya. "Ganteng nggak gue? Bakal jadi tren nih kalo gue pake kacamata-pecah-karena-kebelet beraq."

Dizar tertawa. Sandi tersenyum lebar.

Sebelum akhirnya suara orang lain lagi menginterupsi. "Sandi Wiguna. Reyes Baskara, dan Aldizar Sharga." Ketiganya menoleh ke belakang. Seorang wanita kurus tinggi menjulang di hadapannya dengan dua alisnya yang naik bak angry bird muncul.

"Ikut saya ke ruang BK."

Bukannya merasa salah, Reyes malah mengajak Sandi tos, dan Sandi mengajak Dizar tos, dan Reyes mengajak Dizar tos.

Mereka semua tau ini pasti akan terjadi. Dipanggil ke ruang BK di hari pertama sekolah? Cool starts, bro.
















"Awal sekolah yang keren, men."








⚽👑🐙

halo halooo ada yang baca gak sih????👀

Sweet Trinity ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang