Brother - Park Jihoon

5K 509 15
                                        

"Dek. Laper."

"Dek. Ayo makan."

"Masak dong dek."

"Dek mau nasi goreng ayam."

"Dek."

"By."

"Huft. Budek banget punya adek satu."

"Brisik Jihoon! Pergi sana. Gak liat apa lagi sibuk?" Protes gue kesel.

Bang Jihoon terkekeh. Kini memeluk gue dari samping. "Halah, baca wattpad sok-sokan sibuk." Ocehnya begitu melihat layar ponsel gue.

Dia memejamkan mata kini menjadikan gue sebagai bantal guling. "Punya Abang satu laknat bener!" Gue memukul lengannya yang sialnya gue malah kesakitan sendiri. Lengannya kokoh banget anjir berotot. Oh iya Abang kan gini-gini suka nge-gym.

"Laper." Rengeknya lagi tepat disamping telinga gue.

"Ya makan elah. Ribet banget." Gue menggulir layar. Tapi jadi melempar hape asal saking sebelnya sama Abang jomblo satu ini. "Masakin."

"Beli aja kenapa si. Biasa juga gofood." Gue mendorong dia. Pengap lama-lama, sesek napas gue.

Jihoon melepas pelukannya. "saldo gue abis. Abis kerkom di tempat Jaemin. Pesen makan pake hape gue sialan."

"Bodoamat. Gak peduli."
Dia mengumpat. "Ayodong. Temenin ke depan komplek deh. Beli nasi goreng." Bang Jihoon mengguncang tubuh gue lumayan kenceng.

"Ogah. Ketemu gebetan Lo lagi gue yang berabe."

Gue masih dendam ya karena sebulan lalu gue dilabrak gebetannya jihoon pas lagi makan sama Abang gue di McD. Gue dikira selingkuhannya Jihoon. Dia nyiram gue pake minum. Es mending seger lagi panas-panas. Itu kopi itemnya jihoon, yang masih ngepul asapnya. Ngelepuh lha kulit gue.
Terus langsung dijauhin sama jihoon tuh cewek.

Gedeg banget punya Abang satu. Gebetan dimana-mana. Gue yang bahaya.

"Ayolha, Dek." Kali ini dia goncang gue lebih kenceng.

"Ogah. Gebetan Lo serem. Gue aduin papi nih." Ancam gue udah mau nelfon papi. Padahal ya gak akan diangkat. Papi masih sibuk jam segini.

"Cuman ke depan astaga. Gak ada gebetan gue." Jihoon masih belum mau membiarkan gue tenang.

"Iya-iya setan. Beliin buat gua sekalian." Amuk gue.

Dia nyengir lebar. "Siap princess."

"Yaudah sana keluar. Gue mau ganti." Usir gue ke jihoon yang masih asik rebahan di kasur.

"Aelah. Ribet. Cuman ke depan doang juga."

"Mamang parkirnya genit bego!"

Akhirnya dia keluar. Gue buru-buru ganti celana pendek gue sama training item panjang. Gak lupa ambil Cardi karena malam pasti dingin.

Jihoon udah nungguin di ruang tengah. Di rumah emang cuman berdua. Papi di Surabaya lagi ngurus cabang perusahaan baru, mami tentu saja lagi bertugas sebagai istri yang baik. Tapi ninggalin gua sama Abang lucknut. Argh sebel.

"Ayok." Jihoon langsung bangkit.

"Jalan aja ya? Motor gue abis bensin."

"Anjir. Miskin banget." Umpat gue kesel. Sumpah.

"Abis jalan sama gebetan." Sudah kuduga.

"Bodoamat. Pokoknya gue mau nasi goreng spesial."

"Iya, Nyai." Bang Jihoon emang biasa iya-iya aja kalo gue udah ngamuk. Dia masih ngerasa bersalah karena kejadian sebulan lalu. Oh tentu saja kejadian semacam itu bukan sekali dua kali. Sering anjir. Hampir tiap keluar bareng Jihoon gue dapet masalah. Makanya gue males banget.

"Akhirnya jalan berdua juga sama sayangku ini."

Hemm. Gebetan doang banyak. Yang jadi kesayangan ya tetep gue. Mana ada pacar, manusia-manusia itu cuman jadi korban PHP aligator satu ini. Kasian.

A/n : jiun suka bunga ya?Dia suka aku dong

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

A/n : jiun suka bunga ya?
Dia suka aku dong.

-Flow

Treasure ImagineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang