Fantasy - Yoon Jaehyuk II

655 101 29
                                        

Hello!!!

Yang nunggu Asahi sabar dulu ya.

Insyaallah Minggu depan😌

Wkwk..

Gimana kabarnya? Sehat? Bahagia? Mental aman kan?

Lagi ada yang berat nggak?

Lagi kangen siapaa?

Saran nih. Bilang aja, jangan dipendem, jangan dibawa gengsi. Rugi. Dia pergi Lo galau setengah mati. Kan mampuss. Upss..

Yukk lha. Langsung.

Bantuin cek barang kali ada typo ya gengsss..

Thank you😘

__________

"kenapa?" Gue bertanya saat mendapati Jae sedang menatapi laki-laki yang duduk di depan komputer sebelah.

Jae mengangkat bahu. "Dia terlihat berbeda euk." Katanya berkomentar, masih sibuk menatap Asahi dari atas ke bawah.

Gue tersenyum tipis, memperbaiki kacamata hologram yang gue kenakan sebelum menghadap layar monitor. "Yang lo lihat bukan dia jae."

"Lalu?" Tanyanya kini mengambil duduk di sisi meja yang kosong.

"Sama seperti kecerdasan hologram yang sedang gue ciptakan, lo tahu." Jelas gue  singkat. "Kita tidak bisa membicarakannya di sini. Mereka akan curiga jika ada sesuatu yang tengah kita rencanakan."

Jae mengangguk paham. Menemani gue sejak lahir pasti sudah membuatnya hapal betul apa apa tentang gue.

"Boleh gue membaca pikiran Lo?" Tanyanya dengan wajah penuh tanya.

Gue yakin dia tengah diliputi banyak pertanyaan. Tentang gadis desa bernama Mia yang siang tadi gue perintahkan Jae untuk meminta bantuannya.  Tentang tempat luas yang sangat amat canggih di tengah hutan begini, juga mungkin tentang Asahi yang bukan Asahi di kursi sebelah kami.

Gue hanya mengangguk singkat, kembali mengetikkan kode-kode dan memasukkannya ke komputer.

Oh ayolah. Gue sebel banget dengan semua ini.

Bagaimana mereka memperlakukan para profesor dengan begini?

Maksudnya. Heii, selemah apa penjagaan dari bodyguard TEU - Treasure Engineer University -  sampai kecolongan begini?
Sampai-sampai pemilik, profesor, insinyur bahkan mahasiswa berprestasinya bisa diculik?
Lalu dipaksa untuk membuat kepintaran buatan sesuai keinginan mereka?

"Berhenti mendumel, Euk. Aku tak fokus membacamu." Protes Jae yang melintas dalam kepala gue.

Gue berdehem mengiyakan. Kembali memasukkan kode dengan asal tapi tidak terlalu asal juga. Setidaknya gue paham kode kode yang gue masukkan bukan suatu yang baru atau sesuatu yang bahaya apalagi sesuatu yang spesial. Ini kode dasar untuk para pengembang IT seperti gue.

"Jadi dia bukan Asahi?" Tanya Jae masih dalam kepala gue. Gue menjawab dengan hanya memikirkannya dalam kepala tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulut gue.

"Oh God." Dia memang selalu berhasil membuat gue selalu ingat Tuhan. Jae seolah hadir untuk itu dalam hidup gue. "Lalu bagaimana dia mengisi energi? Maksudku dia bukan manusia yang akan mendapatkan energi dengan makan, kan? Dia butuh baterai?"

"Jae. Lo tau secanggih apa tempat ini kan?"

"Yaa." Jawabnya mengambang, gue menutup mata, menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Meski dalam ruangan berisi 12 orang - ralat maksud gue 11 orang dan satu robot juga satu jin(?). "Gue bukan jin." Jae memrotes. - okee dan Jae. Kita tidak bisa untuk berunding mencari jalan keluar dari tempat terkutuk ini. Ada kamera pengawas super canggih di setiap sudut ruangan. Di setiap lorong menurut laporan Jae. "Yap itu benar."

"Robot Asahi bisa menyerap energi dari sumber listrik Jae. Ada banyak di sini, dan untung saja Asahi sudah menambahkan fitur terbaru dalam robot itu hingga penyerapan energinya meski besar tidak akan terdeteksi."

"Dia terlalu sempurna sampai tidak seorang pun tau dia bukan manusia." Gumam Jae sangat kagum.

"Tentu saja, hanya kami yang tahu. Walau kami tau juga saat sudah dalam ruangan ini."

"Apa yang Asahi lakukan di luar sana?"

"Entah, dia bukan orang yang bisa kita tebak pikirannya kan Jae? Lo pernah mencobanya."

"Yang gue yakin, dia akan mengusahakan untuk menyelamatkan kita." Lanjut gue masih berkomunikasi dengan Jae dalam kepala gue.

"Bagaimana Asahi akan tahu tempat ini? Ini sangat terpencil, Euk."

"Kita sudah melakukannya, dia akan segera datang."

"Melalui Mia dan dua kawannya?" Gue mengangguk mendengar Jae bertanya dalam kepala gue.

"Jika Lo udah melakukan tugas yang gue perintahkan, kita hanya perlu menunggu bantuan datang, Jae."

"Gue sudah melakukannya Euk. Rencana Lo bagus. Gue harap semua akan berjalan sesuai rencana."

"Meski gue khawatir orang-orang di sini akan menyadari dia bukan Asahi."

"Dia terlalu manusia untuk dikatakan sebagai robot, Jae. Apa yang Lo khawatirkan?"

"Robot Asahi yang memberi alat yang Lo simpan di rumah Mia, Jae. Dia punya pikiran, dia punya insting." Lanjut gue sambil menatap Asahi. Yang ditatap jadi mengalihkan tatapannya dari layar monitor. Tersenyum atau lebih baik gue sebut menyeringai. Gue memberi kode oke dengan jari membuat Asahi mengangguk dan kembali ke pekerjaannya.

Dua belas manusia, ah salah. Sebelas manusia dan satu robot itu - tak ada yang mengerjakan perintah penculik dengan benar. Profesor Danny sudah memberi perintah kepada kami, lakukan dengan asal-asalan jangan sampai tercipta sesuatu yang baru di ruangan terkutuk ini. Dan yaaa tentu saja semua menuruti setiap kata dari pemilik TEU.

"Bagaimana dengan hologram yang sedang Lo kembangkan Euk?"









________________
Author note ;

Sudah terjawab ya gengs.

jae bukan tuyul😭

Nangis banget gantengnya gue dikira tuyul.

Mau gue bawain langsung asahi. Tapi nanti kalian makin bingung. Jadinya yaudah gue bawain bagian ini dulu.

Biar kalian mudeng dan gak salah paham lagi.

Tapi nanti Asahi bukan fantasy tapi lebih ke sci fi maybe.

Tapi kalo nggak berubah pikiran si. Garis bawahi ya.


Oh ya. Kemungkinan "Fantasy" ini bakal jadi series terakhir di work ini.

Ada beberapa ide yang udah tersimpan lama dan mendesak ingin keluar sarang😌

Berdoa saja supaya banyak banyak dikasih waktu luang.

See you soon girls.

Tunggu flow Dateng bareng Asahi Yap, dadahhh👋

-flow

Treasure ImagineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang