Sci Fi - Hamada Asahi

1.1K 117 9
                                        

Selamat siang wahai kaum sabun cuci piring.


Ini Flow dateng bareng babang Sahi.


Punyanya Flow. Jangan diambil.

_____________





Layaknya Jaehyuk dengan Jae. Gue pengin punya seseorang yang bakal selamanya bersama gue. Gue nggak punya atau mungkin gue nggak sadar kalau gue punya sosok kayak Jae juga, karena memang gue nggak bisa lihat begituan. Jadi, dengan berbekal pengetahuan yang gue punya.. gue pengin bikin sosok lain dari diri gue.

Mm.. gue bakal kasih dia nama dari nama gue juga biar samaan kayak jae - jaehyuk. Namanya Asa? Sahi? Hikun? Sakun? Akun?

Gue menggeleng memikirkan nama-nama yang bermunculan dalam pikiran gue. Aneh.
Mending gue cepet-cepet menyelesaikan robot Asahi gue, karena Minggu besok ada perjalanan ke luar kota sama yang lain. Target gue, gue bisa selesein nih robot sebelum berangkat. Toh tinggal tahap finishing aja.

Dua Minggu lalu, baru saja diuji coba sama prof. Danny, prof Yoshi juga. Kurangnya dua, dia terlalu kaku kayak gue. Eh tapi kan emang duplikatnya gue..
Yang kedua, energinya cepet abis. Jadi selama dua Minggu itu gue berusaha bikin robot itu bisa menyimpan energi yang lebih besar, atau pengisian daya baterai yang lebih cepat.

Gue dibantu profesor Yoshi menyempurnakan robot gue.
Soal ekspresif, katanya sii bisa dikembangkan nanti lagi, seiring waktu.

Ya oke oke aja gue mah.

_____________________

"Hallo, kenapa dek?" Tanya gue langsung saat mendapati panggilan telepon dari adek gue di rumah. Gue masih sibuk mondar-mandir karena harus siap-siap buat perjalanan ke luar kota jam 9 nanti, sekarang udah jam 8, dan gue baru beres mandi karena kesiangan.

"Kak Hi bisa pulang nggak? Mama sakit, adek nggak bisa bawa ke rumah sakit sendirian." Jawab adek gue sambil nangis. Semenjak gue diterima di TEU, adek sama mama cuman berdua di rumah. Papa masih di luar negeri, di pertambangan minyak bumi di Mesir.

Gue mengatupkan bibir, jadi menghentikan tangan yang lagi susah payah masang kancing kemeja. Gue bimbang. Tapi kalo gue ngomong juga nanti adek tambah bingung, kasian.

"Kak?"

Gue menghembuskan napas panjang, "iya, nanti siangan kakak pulang. Izin dulu sama profesor ya."

Nggak ada jawaban dari seberang, gue yakin adek cuman ngangguk doang. "Jangan nangis lagi, adek sarapan dulu sana, mama juga ya suruh sarapan. Nanti kakak pulang kita langsung ke rumah sakit."

"Iya, ini adek lagi bikin bubur buat mama." Jawabnya masih dengan suara serak dan bindeng (suara khas orang pileg/flu gitu). "Kakak jangan buru-buru juga, hati-hati."

"Iya." Jawab gue menoleh ke arah robot yang kini sedang memperhatikan gue. "Kakak tutup ya, dek. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam." Setelah mendengar jawaban adek gue menutup sambungan telepon.

"Hikun, Lo harus bantuin gue." Ujar gue dengan semangat. Gue meraih jas laboratorium milik gue yang tergantung di belakang pintu. Lalu mengenakannya pada robot hikun.

"Perintah pertama. Hikun gantikan saya di acara pembukaan fakultas TEU terbaru hari ini bersama para profesor."

"Siap laksanakan." Jawabnya dengan suara yang sama persis seperti suara gue.

Gue memberinya id card atas nama gue yang sudah gue duplikasi.

"Keberangkatannya jam 9. Kamu harus sudah ada di sana 15 menit sebelum keberangkatan." Kata gue kini meraih jaket di dalam lemari, mengenakannya dan mengambil ransel besar juga di laci bawah. Mengisinya dengan beberapa kaos juga celana, serta keperluan lain yang gak begitu banyak juga.

"Temui profesor Yoshi. Dan katakan padanya bahwa aku harus pulang karena ibu sakit. Sampaikan maafku juga." Kata gue kini menutup ransel dan mengenakannya di punggung.

"Oh." Gue berbalik ke meja kerja gue. Mengambil tas kerja dan memberikannya ke tangan Hikun. "Bawa ini."

"Kau bisa menghubungiku kapan pun. dan turuti perintah profesor Yoshi dan profesor Danny. Mengerti?"

Dia mengangguk, "tentu."

"Kalau begitu ayo keluar. Kita harus berangkat." Ajak gue dan kita berpisah. Gue menuju gerbang samping karena belum banyak yang tahu soal hikun karena belum dipublikasikan, jadi nggak ada yang boleh tau kalau gue keluar diem-diem. Dan hikun yang menuju ke rooftop di mana helikopter yang akan membawa para profesor ke bandara terparkir.





_________

Prof. Yoshi : Robot mu sudah sempurna, Sa. Bahkan yang lain tidak menyadarinya.

Gue tersenyum membaca pesan yang dikirim profesor Yoshi. Bangga aja rasanya.

"Kakak ada pacar tuh ma, senyum-senyum liat hp!" Seru Adek mencoba menggoda gue.

Mama yang kini terbaring di ranjang rumah sakit hanya tersenyum, "nggakpapa kan kakak udah gede." Jawabnya.

"Asa belum ada pacar ma," jawab gue singkat membuat kedua wanita itu menghela napas dengan kecewa.





________

Author note :

"Are you human too?"

Bayangin aja itu Sahi sama Sahi.😭

Oh ya, Yedam mungkin bakal lama walaupun fantasy Yedam sudah ada dalam kepala. Sabar yaaa.

Yang gak sabar si Flow ya bukan kalian kayaknya maah..

-Flow

Treasure ImagineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang