Rail-e cafe menjadi pilihan kita untuk bertemu sore ini. Asahi jauh-jauh datang dari Solo untuk menemui gue, semalam dia bilang ada hal yang ingin bicarakan - dua minggu lebih cepat dari rutinitas kita yang sebulan sekali saling mengunjungi. Setelah bulan lalu gue yang ke Solo menemuinya, bulan ini Asahi yang ke Jakarta menemuiku.
Gue melambaikan tangan begitu melihat Asahi membuka pintu kafe membunyikan denting lonceng di atas pintu, "sini."
Ia langsung melangkah ke arah tempat gue duduk, wajah datarnya terlihat lelah setelah perjalanan panjang.
"Belum lama, kan?" Tanyanya memastikan. Gue menggeleng dengan yakin. "Engga kok, jam pulang begini kan emang macet jadi baru sampe juga aku."
Dia mengangguk, meletakkan barang bawaannya yang hanya berupa tas selempang. "Kamu ngga nginep?" Gue bertanya, "ah, udah dari hotel ya?" Sambung gue begitu saja. Menepiskan pertanyaan yang sedikit tidak mungkin. Lagi pula Asahi sudah jauh-jauh ke sini mana mungkin dia hanya membawa tas selempang begitu.
Gelengan dari asahi membuat gue mengerutkan dahi bingung. Biasanya ia akan menyewa penginapan untuk dua malam.
"aku cuman sebentar, Na."
"Loh?" Gue bingung sendiri, "aku kira mau realisasiin rencana kita dua minggu lalu." Ujar gue tak enak hati. "Aku udah beli tiketnya buat ke Jakarta Aquariumnya." Sembari menunjukkan e-tiket yang sudah pesan gue secara online.
Belum sempat Asahi menjawab, pelayan datang mengantarkan dua gelas matcha latte pesanan gue sebelumnya.
"Na. aku mau nikah."
Kalimat itu membuat gue tersedak begitu mendengarnya.
Gue berdehem, menenangkan diri. Mencoba tertawa pelan menutupi gugup. "Apasi kok tiba-tiba?"
"Kamu ngga ngelamar dulu? Ini mana cincinnya?" Gurau gue berusaha menggodanya meski dapat gue lihat jika raut mukanya menunjukkan kekhawatiran. entah apa.
"Na."
Dia mengeluarkan selembar undangan dari tas selempangnya.
Gue tertawa lagi, "ngga lucu sa becandaanmu." Kataku meraih selembar undangan yang bertuliskan namanya dengan wanita lain.
"maaf,"
Salma Renjani.
Hati gue seketika hancur. dunia gue runtuh.
Gue menatapnya tajam, meski pandangan gue makin memburam karena gue yakin sudah banyak air mata di pelupuk mata gue. "Sa, aku tau kamu bukan yang bakal prank aku gini tapi please bilang ini cuman prank." mohon gue.
Asahi menggeleng. "Maaf, Na." Ujarnya, gue menggeleng lagi menolak permintaan maafnya. "Ngga sa, aku ngga butuh maaf kamu."
"Orang tua kita udah buat keputusan itu, Ayahnya Salma kritis, dan-"
"Apa?!"
"Kamu kira itu masuk akal Sa buat aku? Mana ada si orang tua bakal ambil keputusan gitu tanpa persetujuan kamu?" Marah gue meluap.
Asahi menunduk, "mereka ngga tau, Na kalau aku dan Salma udah putus. Makanya waktu Ibu salma minta Orangtuaku buat menikahkan kita Ibu langsung mengiyakan."
"Sa?"
Gue menggeleng ngga percaya.
"Kamu bahkan ngga cerita soal aku? sama sekali, Sa?"
Dia menggelengkan kepalanya pelan. Membuat tawa gue menguar dengan air mata yang masih saja menetes.
Lucu sekali.
"Tiga tahun, Sa. Udah tiga tahun lho kamu putus sama dia."
"Kamu nganggep aku lelucon beneran ya? kamu ngeremehin aku karena mau aja dua tahun jalanin hubungan ngga jelas sama kamu? karena terima aja ngga kamu kenalin ke orang tua mu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Treasure Imagine
Fanfictionyou with treasure member - Za Start : 20 feb 2021 End : 31 Des 2021 restart : 11 Mei 2024 31,8. 4,41.
