"Ada tuh di dapur. Samperin aja, Suk. Makan Mulu tuh dari sore."
Percakapan mama dan Hyunsuk di ruang tengah bisa gue denger. Gue yang lagi makan puding cuman benerin posisi duduk, ya gimana pun Hyunsuk cowok ya kali gue duduk dengan posisi kaki yang gue naikin selonjoran ke kursi sebelah.
"Jean," sapa Hyunsuk lemes. Langsung duduk di depan gue gitu aja.
Gue mendelik pas dia buka mulut minta disuapin. "A." Ujarnya gerakin mata ke puding di depan gue, ngode.
"Ambil sendiri tuh di kulkas."
Hyunsuk menutup mulut, mengerucutkan bibirnya sok imut. Nurut ambil sendiri pudingnya.
"Jangan diabisin, bang Junkyu belum makan. Ntar ngamuk."
Hyunsuk noleh, "salah sendiri elah tidur mulu." Protesnya ngambil potongan besar puding di kulkas. Nyisain sedikit buat bang Junkyu.
"Astaghfirullah tamu macam apa si Lo." Gue geleng-geleng kepala. Hyunsuk gak jawab, malah nyuapin satu sendok penuh ke mulutnya.
"Duduk, Ncuk. Keselek entar ih." Peringat gue.
"Nggak kakak nggak adek nggak ada yang sopan ke orang yang lebih tua." Protesnya. Gue mencibir, "dulu siapa yang ngamuk di panggil kakek hah?!"
"Ya masa kakek, mamas gitu biar romantis." Celetuknya asal.
Dih?
"Ncuk."
Dia langsung noleh, "kenapa?" Tanyanya dengan satu alis terangkat.
"Club dance gue kan mau ikut lomba ya, ngewakilin sekolah. Masa gara-gara gue gendutan, mereka gak ngasih gue kesempatan." Curhat gue, tersenyum miris.
"Jadi gegara itu Lo makan mulu dari sore?" Hyunsuk nunjuk bungkus makan di kresek besar di atas meja.
Gue ngangguk, emang Hyunsuk udah sehafal itu tentang gue. "Ngapain diet, nggak ada gunanya." Misuh lagi kan. "Gue udah turun empat kilo sebulan ini, tapi tetep aja mereka gak akan pernah ngehargain gue."
Hyunsuk terdiam, gak jawab omongan gue malah lanjut makan pudingnya.
"Bukan mau gue juga kan punya berat badan lebih." "Timbangan gue gak pernah lebih dari enam puluh kok. Mentok mentok lima puluh tujuh kan, tapi emang di mata orang-orang gue gendut banget." "Dari awal ikut club, gue diem aja waktu tau mereka diem-diem ngomongin gue." "Tapi malah makin-makin." "Gue capek sendiri, Ncuk." Gue nutup acara misuh gue dengan nyuap potongan terakhir puding di piring gue.
"Udah?"
Gue ndongak, natap Hyunsuk yang sekarang udah duduk tegak di depan gue. Gue gak sadar ternyata dia udah selesai makan dari tadi.
"Dengerin gue, Jean."
"Oke bentar. Gue mau nyalahin Lo dulu." Katanya, gue ngangguk pasrah. Siap dengerin omelannya dengan khidmat.
"Pertama, Lo salah karena membenarkan perkataan mereka tentang fisik Lo. Lo sempurna dengan apapun yang Lo punya sekarang. Kedua. Lo salah karena dengan senang hati bergabung di antara manusia-manusia toxic itu. Ketiga. Lo salah karena gak bisa mencintai diri Lo sendiri. Dan terakhir. Lo salah karena Lo diem aja."
"Dan gue salah karena gak pernah dengerin Lo selama ini." Lirih gue yang diangguki Hyunsuk. "Sekarang gue harus apa?"
"Keluar club." Jawabnya santai. Gue mendelik, yang bener aja.
Dance hobi gue kalo gue keluar ya buat apa selama ini gue bertahan?!
"Ikut academy aja. Atau daftar trainee sekalian ke agensi bokapnya Hanna-Haruto, Om Hanbin."
"Gini ya, Jean. Lo tuh berbakat, dance Lo bagus, gak kaku dan emang ada talenta buat dikembangin lagi. Sayang aja kalo Lo masih mau bertahan di club toxic itu. Mereka gak bisa ngehargain Lo, mereka cuman iri dan malah bikin Lo makin down. Saran gue, mending tutup telinga dari omongan orang-orang kayak mereka."
"Lo cantik, Lo berbakat. Lo cuman perlu cari tempat yang akan menghargai Lo."
"Gue gendut. Mana bisa jadi trainee."
Hyunsuk menghela napas. "Insecure lagi gue tendang juga lama-lama."
Ngelihat Hyunsuk yang udah emosi gue ketawa, mukanya lucu gak cocok buat marah-marah. Dan Hyunsuk malah makin mendelik jengkel.
Gue ngambil ponsel yang gue taruh di atas meja. "Hai Gaes. Gue Jean Kim mengundurkan diri dari club dance mulai hari ini. Bye." Gue mengirim pesan suara ke grup chat club.
Hyunsuk natap gue kaget, "udah. Jadi besok temenin ke kantornya om Hanbin ya." Dia senyum seneng, ngehampirin gue dan meluk gue tiba-tiba.
"Nah gitu, baru kesayangannya tuan muda Choi." Ucapnya sambil mengusak rambut gue asal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.