"By."
"By?"
"Hm. Dobby. Jadi boleh kan panggil By?"
"Kirain By baby anjir." Gerutunya melempar satu kacang atom ke arah gue.
"Ya serah lu mah mau nganggep baby juga. Sama-sama By." Tegas gue.
"Nggak bisa. Hati gue nggak aman!" Gue mencibir mendengar jawabannya. Padahal mah buaya jadi-jadian yang nyasar dari rawa.
"Besok pergi yuk? Nonton? Atau ke cafe deh." Ajak gue, Dobby yang asik mengemili kacang atom sambil nonton upin-ipin di tivi depan kami menoleh.
"Tumbenan, biasanya Minggu gue ajakin joging juga nggak mau."
Ya bener. Dia mah apal sama rutinitas gue senin-minggu, bangun tidur sampai tidur lagi.
Gue menghindari tatapannya. Memeluk setoples kripik lebih erat. "Pengin aja." Saut gue pendek.
"Dih." Dia mencibir. Membuat gue mendelik tak terima. "Yaudah kalo nggak mau. Gue pergi sendiri." Kata gue sewot.
"Jujur dulu baru gue iyain." Katanya.
"Setelah gue bilang lu nggak akan ngiyain." Balas gue lirih.
"Kenapa si, hmm?" Tanyanya lembut, kini merubah posisi duduk jadi menyamping. Menghadap ke gue sepenuhnya. Tangannya menyiku ke sandaran sofa, menopang kepala.
Gue mengalihkan wajah, melihat suasana rumah yang siang ini sepi.
"Besok siang mau ke rumah eyang. Tante om semuanya Dateng." Gue menjelaskan pelan. Di samping gue Dobby masih memperhatikan dengan pose yang tidak berubah. "Gue malu." Lirih gue, "gue takut, Dob."
Dobby maju, kini meraih pundak gue supaya merapat, menarik gue ke dalam pelukannya.
"Karena masalah semester sebelumnya?" Tanyanya ragu di samping telinga gue. Gue mengangguk di pundaknya, tak mampu bersuara lagi.
"Tapi emang harusnya itu yang Lo lakuin dari kecil, Flow." Ujarnya pelan, mengusap belakang kepala gue. "Bagus malah semester kemarin Lo ngelawan. Mereka jadi tau batas, kalo dengan mereka membandingkan Lo dengan Abang itu bikin Lo sakit hati."
"Lo ya Lo. Bukan Yedam. Kalian beda. Nggak seharusnya dibanding-bandingin." Lanjutnya seolah mendukung apa yang pernah gue perbuat sebelumnya itu benar.
"Tapi dengan gue ngelawan, gue bikin malu papa dan mama." Lirih gue sesenggukan.
"No." Tegasnya langsung. "Hanya karena Lo nggak secerdas Yedam, mereka berhak merendahkan Lo begitu. Enggak Flow."
"Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hanya karena kalian kakak - adik bukan berarti kalian harus sama." Dobby melepas pelukannya. Menatapi wajah gue yang udah sembab.
Ibu jarinya bergerak, mengusap air mata di pipi gue. "You also have something that others may not necessarily be able to. maybe Yedam though."
Gue menggeleng lemah, "Yedam is too perfect to have a gap. I'm the weakness."
"Not like that, princess." Ujarnya pelan. "Asal kamu tahu, you are strength to him."
"Yedam sering cerita ke anak-anak. Dia nyoba segala sesuatu biar lo bangga punya dia. Supaya Lo bisa selalu ngandelin dia dalam situasi apapun. Biar dia bisa jadi idola Lo dalam segala hal."
"Tapi apa yang Abang lakuin bikin gue keliatan selalu kurang di mata orang. Terutama keluarga besar, Dob. Usaha gue selalu dianggap remeh hanya karena gue nggak bisa menempati posisi pertama layaknya Abang."
"But, you have me. Your dad, mom and your brother. Kita nggak pernah menuntut itu dari Lo, kan?"
"Nope." Balas gue dengan gelengan kecil.
"Flow, selalu ada yang di atas kita, dan ada yang di bawah kita. Kita nggak bisa nyenengin semua orang, kita nggak bisa jadi kebanggaan setiap orang. Sebaik apapun yang kita lakuin, akan tetep ada orang yang benci, bukan tugas Lo buat menuhin ekspektasi mereka. You are only obliged to achieve your dreams."
"But, I always feel hurt every time I hear what they say."
"Itu wajar kok. Tapi jangan benci Yedam karena ini. Ini bukan salah dia." Lanjutnya menatap mata gue dalam.
Gue mengangguk, "nggak pernah gue benci sama Abang. he is everything to me."
"Nanti, coba izin sama papa,mama, Abang juga. Kalo dibolehin, nanti sore ke rumah gue aja. Lo bisa tidur bareng kak Daisy."
"Kalo enggak?"
"Yedam pasti jagain Lo, nggak usah takut." Ujarnya pelan. Beralih lagi menatap layar televisi yang sedari tadi kami abaikan.
"Thanks dob. Gue ke dalem dulu." Pamit gue berlalu ke kamar mandi, mau cuci muka.
Tampang dobby mungkin nggak meyakinkan untuk menjadi tempat bercerita yang baik. Tapi dia selalu menjadi orang yang gue butuhkan. Sama dia bisa bikin gue ngerasa 'everything will be okey'.
Dari dobby gue jadi tahu gimana dan bagaimana Abang gue menanggapi ini. Dia pendengar dari dua arah, jadi gue pikir dia akan lebih tahu mana yang benar, kan?
-Flow
KAMU SEDANG MEMBACA
Treasure Imagine
Fanfictionyou with treasure member - Za Start : 20 feb 2021 End : 31 Des 2021 restart : 11 Mei 2024 31,8. 4,41.
