Happy reading
******
Kini Ghina sudah berada di depan apartemen Ray dengan sekantung plastik buah-buahan yang ia beli. Ghina langsung memasuki apartemen itu dan menuju ke kamar milik Ray.
Tidak butuh waktu lama Ray langsung membukakan pintu untuk Ghina masuk. Sebelum berangkat ke apartemen sebenarnya Ghina sudah menghubungi Ray terlebih dahulu.
"Yuk masuk," ajar Ray.
"Lo sakit pasti gara-gara gue ya," ucap Ghina sedih.
"Siapa bilang, gue sakit bukan salah lo ya mungkin gara-gara kehujanan kemarin," jelas Ray agar Ghina tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Tapi kalau jaket lo gak gue pake, lo gak akan sakit Ray," ucap Ghina
"Udah gak usah dibahas yang penting sekarang lo udah ada di sini dan gue bakalan sembuh kalau lo ada di deket gue," ucapnya tulus.
"Lagi sakit masih bisa gombal rupanya." Senyumannya mulai muncul dari sudut bibir Ghina.
"Ahahah gue sakit Ghin bukan mati, jadi gue masih bisa gombalin lo," canda Ray.
"Tapi gue lebih suka kalau gombalan lo cuman buat gue bukan buat orang lain," pintanya yang mampu membuat Ray terdiam.
"Ohh iya, gue beli buah-buahan nih. Lo mau? Gue kupasin nih," ucap Ghina mengalihkan pembicaraan.
"Emm ... boleh deh kalau lo yang suapin."
Ghina langsung mengupas buah jeruk yang ia beli tadi. Setelah kulitnya terbuka Ghina menyodorkan jeruk itu ke arah Ray.
"Aaaaa." Jeruk di tangan Ghina mulai dimakan oleh Ray. Sesaat setelahnya suara pintu berbunyi.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu mampu membuat mereka terkejut. Pasalnya tidak ada yang sering mengunjungi apartemen ini kecuali Ghina. Bahkan orang tua nya saja tidak pernah mengunjungi Ray di apartemen.
"Biar gue yang liat," ucap Ghina sambil berjalan menuju pintu. Sebelum dia membuka pintu terdengar suara perempuan yang memanggil Ray.
"Ray," panggil perempuan itu dari arah luar.
"Airen," gumam Ghina. Matanya membulat ketika mendengar suara Airen di luar sana. Di pikirannya saat ini adalah bagaimana Airen bisa mengetahui aparteman Ray.
Ghina segera menghampiri Ray yang masih asik dengan buah-buahan yang sudah dikupas oleh Ghina tadi.
"Siapa?" tanya Ray ketika Ghina sudah sampai di hadapannya.
"Airen," ucap Ghina panik.
Ray langsung tersedak saat mendengar nama Airen.
"Kok bisa?" tanya Ray bingung.
"Gue juga gak tau kenapa dia bisa ada di sini, terus gimana ini? Gak mungkin kalau gue tetep ada di sini yang ada Airen bakalan marah dan rencana lo gagal." Ghina sangat panik saat ini begitupun dengan Ray.
"Hmm ... mending lo sembunyi dulu biar Airen gak ngeliat lo ada di sini!" perintah Ray.
"Gue harus sembunyi di mana?" tanya Ghina bingung.
"Toilet ... iya lo sembunyi di toilet aja. Udah buruan sana." Ghina langsung berlari menuju toilet untuk bersembunyi. Sedangkan Ray dia sedang mengatur napasnya sebelum membukakan pintu untuk Airen.
Ray berjalan dengan keaadan gugup, membuka perlahan pintu yang ada di depannya. Benar saja, saat pintu itu terbuka sosok Airen pun terlihat jelas.
"Airen? Kok kamu ada di sini?" tanya Ray yang sudah kembali menormalkan kegugupannya.
"Emm anu tadi Rendi bilang kamu lagi sakit makanya aku ke sini," ucap Airen menjelaskan.
"Oh gitu, maaf ya, Ren. Aku sengaja gak kasih tau kamu biar kamu gak khawatir sama aku," ucap Ray lirih.
"Kamu itu pacar aku sekarang, jadi kalau kamu sakit aku bisa nemenin kamu di sini dan ngerawat kamu sampai sembuh," kata Airen meyakinkan.
"Ya udah masuk yuk." Ray mengajak Airen masuk ke apartemennya. Dia berdoa agar Airen cepat pulang dan dia bisa berduaan kembali dengan Ghina.
"Kamu sendirian di apartemen?" tanya Airen yang baru menyadari jika apartemen ini sangat sepi.
"Emm iya," sahut Ray.
"Oh iya ini aku bawa bubur buat kamu." Sebelum Airen pergi ke aprtemen dia menyempatkan diri untuk mampir ke tukang bubur terlebih dahulu.
"Ya udah biar aku siapin dulu ya. Emm ... btw dapurnya di sebelah mana?" Airen sama sekali belum pernah mengunjungi apartemen Ray, maka dari itu dia tidak tau posisi dapur ada di mana.
"Di sana," jawab Ray sambil menunjuk ke arah dapur.
"Semoga Airen gak curiga deh kalau di toilet ada Ghina," batin Ray. Ray sangat takut saat ini, pasalnya toilet yang dipakai Ghina sembunyi berada di dapur.
Airen melangkahkan kakinya menuju dapur. Menyiapkan sebuah mangkuk dan sendok, tak lupa dengan segelas air minum.
Haatchihh!
Ketika Airen hendak meninggalkan dapur, ia mendengar suara dari arah toilet. Seperti suara bersin, tapi suara siapa itu?
Ghina yang berada di dalam toilet itu menggerutuki dirinya. Bisa-bisanya saat sedang seperti ini dia malah bersin yang suaranya bisa terdengar sampai ke luar.
"Aduh Ghina kenapa lo bego banget sih, gimana kalau Airen denger," batin Ghina.
Airen menghentikan langkah kakinya. Dia sangat mendengar jelas suara itu. Akhirnya dia memutuskan untuk memutar balik, ya dia mencoba mendekati toilet itu.
Suaranya sih tidak terdengar lagi saat ini. Tapi Airen sangat yakin jika suara itu berasal dari toilet ini. Dia mencoba untuk membuka pintu toilet itu.
Kreek!
Pintu itu mulai terbuka oleh Airen. "Airen kamu ngapain di situ?" Airen mengurungkan niatnya karena mendengar suara Ray yang ada di belakangnya.
"A-anu tadi aku denger suara di dalam toilet ini," sahutnya gugup.
"Suara? Suara apaan gak ada siapa-siapa di sini, Ren. Udah buruan aku laper nih," ucap Ray meyakinkan. Ray langsung membawa Airen pergi dari situ, dia tidak ingin Airen mengetahui jika ada Ghina di dalamnya.
"Nih buburnya, mau aku suapin atau makan sendiri?" tanya Airen sambil memberikan semangkuk bubur kepada Ray.
"Aku makan sendiri aja," sahutnya.
Airen mendudukan dirinya di sebelah Ray. Tapi seperti ada yang aneh di sini. Ya suara itu, suara itu jelas-jelas terdengar dari arah toilet, Airen tidak mungkin salah dengar.
Mata Airen tertuju pada sekantung buah-buahan yang ada di atas meja. Buah-buahan? Kenapa ada di situ? Apa mungkin ada yang menjenguk Ray terlebih dahulu sebelum dirinya? Mungkin begitulah pertanyaan yang muncul di dalam pikiran Airen.
"Ray ini buah-buahan dari siapa?" Airen mencoba untuk bertanya.
"Oh itu emm ... tadi Mamah jenguk aku ke sini," ucap Ray dengan senyum kikuknya. Tidak mungkin jika dia jujur bahwa yang membawa buah-buahan itu adalah Ghina.
"Mamah kamu udah tau kalau kamu sakit?" tanya Airen.
"Udah, semalem aku sempet ngabarin dia kalau aku lagi gak enak badan." Ray mulai berbohong. Pasalnya dia tidak pernah menghubungi orang tuanya.
Bruk!
Suara benda terjatuh terdengar lagi. Airen dan Ray pun sama-sama mendengarnya.
"Kamu serius gak ada siapa-siapa di sini?" tanya Airen tidak yakin.
Airen langsung bangkit dari duduknya dan mulai menghampiri toilet itu lagi.
"Airen ...."
******
Akhirnya bisa up lagi ehehehe maaf ya buat yang nungguin cerita ini.
Jangan lupa vote and comentnya ya biar aku makin semangat buat lanjutin nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSECURE (Segera Terbit)
Teen FictionCOMPLETED!! Gadis cantik dengan penampilan sederhana membuatnya menjadi bahan bully-an teman-temannya. Berhati malaikat yang sering kali menutupi kesedihannya. Bertarung hebat dengan perasaannya, bertahan atau mengikhlaskan. Dia adalah Airen Nasha R...
