Happy reading
******
"Airen!" panggil Ray. Dia tidak ingin jika Airen melihat Ghina ada di toilet itu.
"Aku mau cek toiletnya bentar," ucapnya dan mulai berjalan menuju toilet.
"Aku bilang jangan ke sana!" sentak Ray.
"Kenapa gak boleh?" tanya Airen heran.
"Kalau gue bilang gak boleh ya gak boleh, ngerti gak sih!" Ray meninggikan suaranya.
Airen tak habis pikir jika Ray bisa membentaknya seperti ini. Tapi kenapa? Cuma gara-gara dia ingin cek toilet, Ray sampai marah seperti ini.
"Emm ... oke," sahut Airen lirih.
Kini Airen kembali duduk di samping Ray. Gerak-gerik Airen menandakan jika dia sangat tidak nyaman.
Di dalam toilet, Ghina menggerutuki apa yang sudah ia lakukan tadi. Hampir saja Airen mengetahui keberadaanya.
"Hufft ... Airen gak boleh lama-lama di sini. Kalau dia kelamaan di sini, dia pasti bakala nemuin gue," ucapnya gelisah.
Ghina harus memikirkan sesuatu agar Airen cepat pulang dari apartemen Ray. Pada akhirnya Ghina menemukan sebuah ide.
"Ran, lo bisa bantu gue gak?" ucap Ghina saat orang di seberang sana mengangkat teleponnya. Ya, Ghina menghubungi Randi untuk membantunya.
"Bantu apaan?" tanya Randi di seberang sana.
"Gue lagi ada di apartemen Ray, dan sekarang Airen juga ada di apartemen Ray," sahut Ghina menjelaskan.
"Hah, kok bisa?" Randi sama sekali tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
"Udah gak usah banyak tanya. Mending lo buruan ke sini sama si Rendi juga." Setelah mengucapkan itu Ghina langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Di seberang sana Randi terburu-buru untuk menghampiri Rendi yang ada di kamarnya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Randi langsung masuk ke dalam kamar Rendi.
"Kalau masuk tuh ke-," ucapan Rendi terpotong karena Randi tiba-tiba saja menarik tangannya.
"Apaan sih lo datang-datang main narik-narik tangan gue." Sambil berdiri Rendi melepaskan tangannya dari genggaman Randi.
"Gak usah banyak tanya sekarang kita ke apartemennya Ray!" perintah Randi dingin.
"Ngapain?" tanya Rendi kebingungan.
"Airen datang ke apartemen Ray, dan di sana ada Ghina," jelasnya dan langsung pergi meninggalkan Rendi untuk bersiap-siap.
"What? Ja-jadi mereka berdua dateng barengan? Ya ampun kalau Ray tau ini ulah gue, dia pasti marah besar." Monolog Rendi. Setelah itu Rendi bersiap-siap untuk pergi ke apartemen Ray bersama saudara kembarnya itu.
Mereka berdua akhirnya sampai di apartemen Ray. Tanpa menunggu lama Rendi langsung membuka pintu kamar Ray yang memang sengaja tidak Ray kunci.
"Heh gak baik berdua-duaan di apartemen nanti yang ke-3 nya setan," canda Rendi saat melihat keberadaan Airen di samping Ray.
"Dateng-dateng tuh pake salam bukan teriak-teriak," ucap Ray malas.
"Hehehe maaf. Eh Ren lo ngapain di sini?" tanya Rendi berbasa-basi.
"Gue lagi jenguk Ray," sahut Airen pelan.
"Mending lo balik deh Ren." Kini bukan Rendi yang bersuara melainkan Randi.
"Ta-tapi gue baru datang." Airen merasa terganggu dengan kedatangan Randi dan juga Rendi.
"Tenang aja, Ray biar kita berdua yang jagain mending lo balik." Ray sedikit heran dengan kelakuan sahabatnya ini.
Rendi memberi sebuah kode kepada Ray. Pada akhirnya dia menyadari apa yang dimaksud oleh kedua sahabatnya itu. "Ah iya kamu pulang aja, Ren. Aku udah baikan kok, lagi pula ada mereka berdua yang jagain aku," ucap Ray.
"Emm ... ya udah deh aku pulang," pasrah Airen. Dia langsung bersiap-siap untuk pulang.
"Kalau gitu gue balik ya. Kalian berdua jagain Ray, dan kamu Ray banyak-banyakin istirahat biar cepet sembuh," ucap Airen dengan senyum manisnya.
"Iya siap, Sayang." Ray membalas senyuman Airen.
Ketika Airen sudah pergi dari apartemen Ray, semuanya bisa bernapas lega. Tanpa menunggu lama Rendi langsung memanggil Ghina yang masih bersembunyi di dalam toilet.
"Ghin, buruan keluar si Airen udah pulang tuh!" teriak Rendi yang mampu terdengar sampai ke toilet. Setelah mendengar teriakan itu, Ghina langsung keluar dari tempat persembunyiannya.
"Hufft ... kalian lama banget sih datengnya," gerutu Ghina.
"Dihh udah dibantuin bukannya bilang terima kasih malah marah-marah gak jelas," sindir Rendi.
"Heh kutu badak, yang tau Ray sakit cuman lo berdua. Berarti salah satu dari kalian ada yang bocorin ke Airen. Ngaku siapa yang bocorin?" tanya Ghina kesal.
"Gue gak pernah bocorin apa-apa ya ke si Airen," ungkap Randi dingin. Semua tatapan menuju ke Rendi. Sudah jelas bukan jika Randi tidak membocorkannya, bererti Rendi lah orangnya.
"Hehehe ... santai dong liatnya. Iye iye gue yang kasih tau Airen kalau Ray lagi sakit. Gue minta maaf ye." Pada akhirnya Rendi mengakui kesalahannya.
"Minta maaf lo bilang? Heh gue hampir aja ketauan sama si Airen," kesal Ghina.
"Ya maaf, Ghin. Gue mana tau kalau kalian berdua bakalan dateng barengan," elak Rendi.
"Udah-udah gak usah pada berantem, yang penting sekarang Airen udah pulang. Gue mau istirahat." Ray langsung pergi meninggalkan kedua sahabatnya dan juga Ghina.
"Kok istirahat sih, Ray. Terus gue ditinggal gitu sama dua anak curut ini?" Pertanyaan Ghina sama sekali tidak direspon oleh Ray.
"Gada akhlak banget lo, Ghin. Tadi lo bilang kita kutu badak, sekarang lo bilang kita curut," kesal Rendi.
"Ya terserah gue lah mau nyebut apa, kenapa lo yang ribet," sahut Ghina santai.
"Udah lah Ren ngalah aja. Percuma lo debat sama cewek, ujung-ujungnya cewek yang menang," ucap Randi menyudahi pertengkaran antara Rendi dan Ghina.
"Nah bener tuh kata kembaran lo. Cewek itu selalu benar, mau sampai kapanpun lo debat sama gue pasti gue yang menang." Tawa Ghina pecah saat menyebutkan kalimat itu.
"Dihh males gue kalau udah ngomongin cewek selalu benar garis keras."
"Ya emang kaya gitu, bener gak Ran?" Ghina balik bertanya kepada Randi.
"Iyain aja dah biar cepet," sahut Randi acuh tak acuh.
Di dalam kamar, Ray sempat memikirkan Airen. Entah kenapa rasanya dia tidak tega menutupi semua ini dari Airen. Sangat terlihat jika Airen menyayangi Ray sepenuh hatinya. Sedangkan Ray? Dia hanya mempermainkannya.
"Apa gue terlalu jahat ya sama Airen?"
"Ishh apaan sih kok gue malah mikirin Airen."
****
Hai hai hai aku balik lagi nih
Eheheh maaf ya udah nunggu lama, akhir-akhir ini aku sibuk banget jadi gak sempet buat up cerita ini.
Jangan lupa voment nya yah. Satu voment dari kalian bikin aku semangat nulisnya😊
See you👋
KAMU SEDANG MEMBACA
INSECURE (Segera Terbit)
Fiksi RemajaCOMPLETED!! Gadis cantik dengan penampilan sederhana membuatnya menjadi bahan bully-an teman-temannya. Berhati malaikat yang sering kali menutupi kesedihannya. Bertarung hebat dengan perasaannya, bertahan atau mengikhlaskan. Dia adalah Airen Nasha R...
