Happy reading
*****
Beberapa hari berlalu sudah Airen lalui bersama dengan Ray. Rasanya begitu indah. Momen-momen yang sudah mereka lalui tidak pernah lepas dari ingatan keduanya.
Besok lusa adalah hari ulang tahun Ghina. Ghina dan juga teman-temannya mempersiapkan acara itu bersama dengan Ray dan kedua sahabatnya. Mulai dari undangan dan dekorasi.
"Ray, gue gak sabar deh besok lusa lo bakalan jadi milik gue sepenuhnya," ucap Ghina sambil memeluk Ray dari belakang tubuhnya.
"Oh ya karena gue pengennya lo putusin Airen sesudah kita jadian, jadi gue gak akan ngundang Airen ke acara nanti." Ray berpikir sejenak, ucapan Ghina ada benarnya juga. Jika Airen datang ke acara nanti mungkin hatinya akan lebih hancur.
"Terserah lo aja," jawab Ray sambil melepaskan pelukan Ghina.
"Akhirnya gue bisa liat Airen menderita. Gue gak bisa bayangin gimana hancurnya Airen setelah Ray putusin dia dan tau bahwa gue adalah pacarnya." Ghina tersenyum sambil membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Keesokan harinya anak-anak ribut membicarakan acara ulang tahun yang diadain Ghina. Semua orang sibuk memperbincangkan kado apa yang akan mereka bawa ke acara nanti. Berbeda dengan Airen, dia merasa ada yang aneh.
"Lo kenapa bengong gitu sih, Ren?" tanya Syafira yang menyadari sahabatnya sejak tadi diam tak bersuara.
"Gak papa kok, oh ya besok Ghina ulang tahun ya?" tanya Airen penasaran.
"Iya besok dia ulang tahun dan semua murid sekolah ini diundang ke acaranya nanti," sahut Syafira. "Lo diundang juga kan?" lanjutnya.
"I-iya gue diundang kok," jawab Airen berbohong. Pasalnya sampai detik ini pun Ghina sama sekali tidak mengundang dirinya. Apa dia kelupaan atau sengaja tidak ingin mengundang Airen?
Airen tidak mau mempermasalahkan itu, Syafira bilang semua murid di sekolah ini diundang oleh Ghina. Berarti dirinya pun diundang ke acara ulang tahun Ghina nanti.
Malamnya Airen mempersiapkan kado yang akan ia bawa besok. Dia mempersiapkan baju untuk dia pakai ke acara nanti. Walaupun Ghina tidak mengundangnya secara langsung, tapi Airen yakin bahwa semua murid diundang ke acara tersebut.
Hari yang dinanti-nanti sudah tiba. Ghina keluar dari kamar menggunakan gaun yang serasi dengan jas yang dipakai oleh Ray. Tidak mau kalah cantik dan ganteng, teman-teman mereka pun berpenampilan elegan layaknya menghadiri acara ulang tahun.
Muka Ray begitu muram, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti. Dia sama sekali tidak ingin menyakiti Airen, tapi dia juga tidak ingin mengecewakan Ghina di hari ulang tahunnya.
"Duh kado buat Ghina di mana sih, perasaan disimpen di sini deh. Kok gak ada sih," gumam Airen kesal. Kado yang sudah Airen siapkan seketika hilang entah kemana.
"Bunda, liat kado Nasha gak?" tanya Airen panik.
"Kado? Engga tuh, bunda gk liat," jawabnya.
"Aduh acaranya bentar lagi mulai, tapi kadonya belum ketemu juga. Gimana dong?" Airen kebingungan harus mencari kemana lagi kado itu.
"Kamu nyari apa sih sayang?" tanya Mahendra.
"Nasha cari kado. Ayah liat gak?" tanya Airen sambil mencari kado itu di seisi rumah.
"Oh kotak kecil yang kamu bawa semalem itu?" sahut Mahendra.
"Kok ayah bisa tau? Ayah liat?"
"Kamu ini gimana sih, sayang. Semalem kamu tunjukin itu ke ayah terus ketinggalan tuh di ruang kerja ayah." Mendengar ucapan Mahendra, Airen langsung bergegas mencari ke ruang kerja ayahnya.
"Akhirnya ketemu, ishh dasar kado nakal," geram Airen.
Semua orang sudah berkumpul untuk merayakan acara yang Ghina nanti-nantikan. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol sebelum acara dimulai. Ghina dan Ray menyapa tamu undangan yang datang.
Ketika Syafira datang dan melihat kedekatan mereka berdua rasanya dia ingin menjambak rambut Ghina. Bisa-bisanya Ray mendampingi Ghina menyambut para tamu bagaimana jika Airen datang dan melihat ini semua.
"Ray ikut gue," ajak Syafira. Dia langsung menarik Ray menjauhi Ghina.
"Apaan sih main tarik-tarik aja," kesal Ray.
"Lo yang apa-apaan, kenapa lo dampingin Ghina? Gimana kalau Airen liat?" tanyanya menggebu-gebu.
"Airen gak akan datang ke sini," sahutnya dan pergi meninggalkan Syafira sendirian.
Waktu sudah semakin siang, acara akan segera dimulai, tetapi Airen belum sampai di sana. Dia masih menunggu angkutan umum yang melewat rumahnya.
"Aduh ini angkot pada kemana sih. Gimana kalau gue telat coba," geramnya kesal.
"Airen!" panggil seseorang yang baru saja mendekati Airen dengan mobilnya.
"Danial kok lo ada di sini?" tanya Airen.
"Lo gimana sihh, tempat acara ulang tahunnya Ghina kan lewat sini," jawabnya. "Lo mau ke sana juga kan? Mending lo bareng sama gue aja gimana?" ajaknya.
"Emm boleh deh gue bareng lo aja, nungguin angkot dari tadi gak dateng-dateng." Airen langsung menaiki mobil Danial.
Mereka pun kini sedang dalam perjalanan menuju tempat acara ulang tahun Ghina. Di sana, acara pun sudah dimulai. Ghina membuka acaranya dengan baik.
"Hallo semuanya, gue mau ucapin makasih buat kalian yang udah menyempatkan waktu untuk datang di acara ulang tahun gue. Gue juga mau ucapin makasih buat Ray yang udah mau dampingin gue di acara ini."
"Kalau gitu kita mulai acara tiup lilinnya ya," ucap Ghina.
Semua orang bernyanyi dengan riang dan menikmati acaranya. Sampailah pada lirik terakhir, Ghina meniup lilinnya. Setelah meniup lilinnya, Ghina langsung memotong kuenya.
"Potongan pertama dikasih ke siapa nih kira-kira?" tanya Rendi penasaran.
"Potongan pertama ini mau gue kasih ke orang yang udah berjuang sejauh ini buat gue. Siapa lagi kalau bukan Ray," ucap Ghina sambil memberikan potongan pertama kepada Ray.
Syafira begitu kaget melihat kejadian itu. Bagaimana bisa? Ada apa sebenarnya antara Ghina dan Ray.
Ghina menyuapi kue itu ke Ray. Semua orang bersorak melihat kejadian itu. Setelah acara tiup lilin dan potong kue, Ghina melanjutkan acara yang sudah ia nanti-nantikan.
"Ray," panggil Ghina memberikan kode kepada Ray untuk melakukan permintaan dia kala itu.
Ray yang menyadari maksud Ghina langsung menarik napas kasar. Dia sangat tertekan dan tidak ingin melakukan ini semua. Namun, dia tidak ingin mengecewakan Ghina. Akhirnya dia memutuskan untuk menembak Ghina saat ini juga.
Ray naik ke atas panggung sambil menggenggam tangan Ghina. Semua tatapan mata para tamu tertuju pada keduanya. Ray langsung berjongkok di hadapan Ghina. Dia mengeluarkan setangkai bunga dari kantung celananya.
"Ghina, gue gak tau harus ngomong kaya gimana dan gue gak tau harus ungkapinnya dengan cara apa. Di tempat ini dan di depan semua orang gue mau ungkapin bahwa gue sayang dan cinta sama lo. Gue pengen mereka semua jadi saksi cinta antara kita berdua. Will you be my girlfriend?"
Brak!
*****
Yuk bantu vote dan jan lupa comentnya.
Bentar lagi ending loh.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSECURE (Segera Terbit)
Teen FictionCOMPLETED!! Gadis cantik dengan penampilan sederhana membuatnya menjadi bahan bully-an teman-temannya. Berhati malaikat yang sering kali menutupi kesedihannya. Bertarung hebat dengan perasaannya, bertahan atau mengikhlaskan. Dia adalah Airen Nasha R...
