21 - Terlambat

531 39 5
                                        

Happy reading

*****

"Nasha, bangun sayang. Ini udah jam berapa kamu mau kesiangan pergi ke sekolahnya," ucap Arumi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Airen.

"Hmm." Arumi semakin geram mendengar jawaban dari Airen.

Karena waktu sudah menunjukan pukul 06.30, akhirnya Arumi memutuskan untuk mengguyur Airen. Untung saja Airen menyimpan segelas air minum di kamarnya. Arumi segera mengambil air itu dan ia tumpahkan ke muka sang anak.

Byur ....

"Huaaaa banjir!" teriak Airen kencang. Airen langsung bangun dari tidurnya dan bergegas untuk keluar dari kamarnya. Tapi sebelum itu, Arumi sudah menghadangnya.

"Mau kemana kamu?" tanya Arumi kepada Airen.

"Huaaa ... Bunda banjir, ayo kita ngungsi," sahut Airen polos dengan mata yang masih setengah menutup.

"Di sini gak banjir, Nasha. Bunda yang sengaja guyur kamu pake air," ucap Arumi menegaskan. Airen pun langsung membulatkan matanya.

"Loh kok Bunda tega sama Nasha," kesal Airen.

"Bunda lebih kasian kalau kamu telat sekolah," ucap Arumi.

"Ini kan masih pagi, Bunda." Sesekali Airen menguap. Terlihat sekali jika gadis itu masih mengantuk.

"Pagi dari mana, Sayang. Sekarang udah jam 06.30. Bentar lagi bel masuk berbunyi," ungkap Arumi kesal.

"HAH JAM 06.30, AAAAAAA!" teriak Airen kencang.

"Gak usah teriak cepetan kamu mandi sekarang!" perintah Arumi.

Airen langsung bergegas pergi ke toilet. Tak lama kemudian Airen sudah menggunakan seragam lengkapnya. Airen langsung turun dari kamarnya.

"Ayah sama Abang kemana, Bun?" tanya Airen heran.

"Mereka sudah pergi dari tadi, cepetan kamu berangkat ini bekal buat kamu makan nanti," sahut Arumi sambil memberikan sebuah kotak bekal.

"Ya udah kalau gitu Airen berangkat dulu, Bun. Assalamualaikum," pamit Airen.

Jalanan begitu macet, Airen tidak mungkin bisa sampai di sekolah tepat waktu. Dia harus siap menerima hukuman yang akan menimpanya nanti. Setelah turun dari angkot, Airen langsung berlari ke arah gerbang.

Dari seberang sana sudah terlihat jika gerbang sudah ditutup. Airen menghembuskan napas kasar. Baru kali ini dia telat berangkat sekolah.

"Pak Satpam bukain gerbangnya dong, Airen mau masuk!" teriak Airen kencang. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Pak Satpam.

Dari arah belakang terdengar suara mobil yang berhenti. Airen menolehkan pandangannya ke belakang. Turunlah seseorang dari dalam mobil itu.

"Mampus gue telat," ucap seorang lelaki yang baru saja turun dari mobil. Airen yang sedari tadi berada di hadapannya mengerutkan keningnya. Siapa cowok itu?

"Kenapa lo liat-liat gue kaya gitu?" tanyanya kepada Airen.

"Dih, siapa juga yang liatin lo. Gue cuman aneh aja, kayanya gue gak pernah liat lo di sekolah ini," sahut Airen.

"Gue murid baru, kenalin gue Danial Savian Altezza," ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

"Gue Airen," sahut Airen sambil menjabat tangan Danial.

Kini keduanya menatap lurus ke arah gerbang yang sudah tertutup. Hari ini adalah hari tersial bagi mereka berdua.

"Lo udah lama kan sekolah di sini, berarti lo tau dong jalan lain biar kita bisa masuk ke dalem," ucap Danial sambil menatap Airen penuh harapan.

INSECURE (Segera Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang