31 - Cerita Masa Lalu

389 28 0
                                        

Happy reading

*****

"Sebenarnya gue itu trauma sama masa lalu gue," ucap Airen sambil menutup matanya. Sampai kapan dia harus menutupi masa lalunya. Mungkin ini saatnya orang lain tau kenapa dirinya enggan untuk bernyanyi di depan banyak orang.

"Masa lalu?" tanya Danial heran. "Oke, lo boleh cerita sama gue alasan lo gak mau jadi vokalis di band ini," lanjut Danial.

"Gue bakal cerita, tapi gak di sini," sahut Airen.

"Gimana kalau pulang sekolah lo ikut gue," ajak Danial dan langsung disetujui oleh Airen.

Mereka akhirnya kembali melakukan kegiatan awalnya. Airen yang kembali membantu teman-temannya dan Danial yang kembali ke ruang musik.

"Gimana Airennya mau?" Baru saja Danial kembali ke ruang musik sudah ditanya-tanya oleh Dava.

"Dia masih nolak ajakan kita," sahut Danial pasrah. "Tapi gue bakal berusaha buat bujuk dia," lanjutnya.

"Oke kalau gitu kita tunggu kabar baiknya dari lo," ucap Dava memberikan kepercayaan kepada Danial.

Waktunya pulang sudah tiba, Danial langsung menghampiri Airen yang masih merapikan bawaannya.

"Udah beres?" tanya Danial.

"Udah kok yuk," ajak Airen sambil menarik tangan Danial ke parkiran. Kejadian itu tidak lepas dari pandangan seseorang. Matanya memanas melihat kepergian Airen dengan Danial.

"Gue gak akan biarin Airen jatuh ke tangan lo," kesal seseorang. Dia langsung berniat menghampiri Airen dan Danial.

"Ray, ayo pulang," ajak Ghina yang meghampiri Ray. Karena kedatangan Ghina, Ray mengurungkan niatnya untuk menghampiri Airen.

Di dalam mobil hanya ada kesunyian di antara mereka berdua. Entah kenapa rasanya canggung sekali bagi keduanya untuk mendahului pembicaraan. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah taman yang tidak jauh dari sekolahan.

Mereka langsung turun dari mobil dan mencari tempat yang cocok untuk dijadikan tempat bercerita. Melihat tempat yang begitu ramai membuat Airen bingung dengan keputusannya untuk membicarakan masalahnya di tempat ini.

Karena mengetahui jika Airen tidak nyaman berada di taman itu, akhirnya Danial membawa Airen ke sebuah tempat yang tidak jauh dari taman tersebut. Terlihat pohon yang menjulang tinggi di hapadannya. Di atas sana terdapat rumah pohon yang sangat indah. Menurut Danial ini sangat cocok untuk mereka beristirahat sambil bercerita.

"Waw indah banget rumah pohonnya," ucap Airen takjub.

"Biasa aja deh perasaan. Udah mending lo naik duluan, gue mau cari cemilan dulu," sahut Danial dan pergi meninggalkan Airen sendirian.

Tanpa menunggu lama, Airen langsung bergegas menaiki anak tangga di pohon itu. Sesampainya di atas dia memilih untuk duduk di pinggiran pembatas rumah pohon. Kakinya ia turunkan agar bisa bergelantungan di atas. Rasanyanya nyaman berada di tempat itu.

Beberapa menit kemudia Danial datang dengan membawa beberapa cemilan di tangannya. Ia memberikan sebotol minuman kepada Airen. Airen yang merasa haus langsung meminum minuman itu hingga setengah habis.

"Gimana lo mau cerita sekarang?" tanya Danial memulai pembicaraan. Airen mengangguk dan memulai bercerita.

"Jadi dulu itu ...."

Siang hari yang begitu panas membuat orang tua murid tidak betah menunggu sang anak keluar dari kelasnya. Arumi yang setia menunggu putri kesayangannya tidak menghiraukan betapa panasnya hari ini.

INSECURE (Segera Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang