10 - Video call

594 111 116
                                        

Happy reading

******

Setelah kejadian tadi di meja makan, Aris terlihat murung. Bahkan di dalam mobil Aris tidak bersuara sedikitpun. Airen merasa bersalah sudah membocorkan kepada semuanya.

"Bang, masih ngambek ya sama Nasha?" Aris menghiraukan pertanyaan Airen. Menengok sedikit saja dia tidak mau.

Di perjalan hanya ada kesunyian menemani mereka. Airen yang tidak berani membuka suara dan Aris yang masih marah dengan Airen. Sampai mobil itu memasuki pekarangan rumah Aris tetap membisu.

"Bang, udah dong jangan marah," ucap Airen menyesal. Seharusnya dia tidak menceritakan kejadian itu kepada orang lain. Aris langsung memasuki rumah tanpa memikirkan Airen.

"Bang Aris kok baperan sih," gumam Airen kesal sendiri. Ini kan bukan masalah besar kenapa Aris begitu marah kepada Airen.

*****

Malam ini cukup dingin. Jendela kamar yang sengaja Airen buka, membuat angin masuk ke dalam kamarnya. Terpaan angin menemani malam harinya. Kali ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Entah ada apa yang mengganggu pikirannya.

Suara dering telepon memenuhi seisi kamar. Airen langsung bangkit dari duduknya dan mengambil ponselnya yang ia simpan di atas nakas. Layarnya memunculkan nama si penelopon. Ray–orang yang meneleponnya saat ini.

"Ray? tumben banget dia ngehubungin aku," ucap Airen heran. Tanpa basa-basi Airen langsung mengangkat sambungan teleponnya.

"Hallo," sapa Ray di seberang sana.

"Hallo," sahut Airen gugup. Ini bukan telepon biasa, Ray menghubunginya dengan video call yang artinya dia langsung bertatap muka dengan Ray.

"Belum tidur hmm?"

"Belum ngantuk," jawab Airen dengan senyum kikuknya.

"Kenapa? gak bisa tidur?" tanya Ray lagi.

"Ya, bisa dibilang gitu," ungkapnya tak sepenuhnya bohong. Airen sebenarnya ngantuk tapi dia tidak bisa tidur.

"Berarti gue gak ganggu kan?"

"Engga kok, gak ganggu sama sekali," ucap Airen.

"Bagus deh, ya udah gue temenin lo sampai lo tidur."

Mereka berbincang-bincang untuk menemani satu sama lain. Di selah-selah perbincangannya Ray sesekali memberikan gombalannya yang membuat Airen semakin gugup.

Ya ampun sejak kapan Ray semanis ini sikapnya. Bahkan baru pertama kalinya Airen merasakan terbang ke angkasa saat mendengar gombalan dari Ray. Tanpa dia berpikir jika dia bisa saja jatuh.

"Mending lo tidur deh udah malem gak baik cewek secantik lo jam segini belum tidur," ucap Ray. Memang benar sekarang sudah larut malam, sudah waktunya untuk mereka tidur.

"Ya udah gue tidur, lo juga tidur," perintah Airen.

"Iya, ya udah sana tidur. Eh tapi jangan dimatiin teleponnya," pinta Ray.

"Loh kenapa?"

"Gue mau liat kalau lo beneran udah tidur, udah buruan sana tidur," ungkap Ray yang langsung dituruti oleh Airen.

"Ya udah iya." Airen langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ponselnya ia senderkan di bantal agar Ray bisa melihat dirinya sudat tertidur.

Perlahan Airen menutupkan matanya. Ray di seberang sana hanya memperhatikan gadis itu tertidur. Tanpa ia sadar bibirnya mengukir sebuah senyuman. Apa dia mulai jatuh cinta kepada Airen?

Saat merasa Airen sudah benar-benar tidur, Ray mematikan sambungan teloponnya. "Good night sayang," ucapan itu dilontarkan oleh Ray begitu saja. Setalah kata-kata itu terucap, Ray memutuskan sambungan teleponnya.

Airen membukakan matanya. Sejak tadi dia hanya pura-pura tidur. Dia mendengar jelas saat Ray mengucapkan, "Good night sayang." Oh ya ampun betapa bahagianya Airen mendengar ucapan itu.

Airen begitu senang dengan sebutan 'sayang' di kalimat terakhir yang Ray ucapkan. Bibirnya mengukir sebuah senyuman bahagia. Apa ini rasanya jatuh cinta? Begini kah rasanya dicintai oleh seseorang yang amat dikagumi oleh para wanita.

Airen langsung melanjutkan tidurnya. Walaupun matanya tertutup, bibirnya masih saja tersenyum. Dia sangat bahagia malam ini. Jangan tanya lagi, mimpinya pasti indah.

Paginya, Airen bangun dengan senyum yang terus terukir di bibirnya. Dia sudah bersiap-siap menggunakan seragamnya. Airen tidak menggunakan make up sedikitpun. Seperti yang kalian tau Airen adalah gadis sederhana.

Saat Airen membuka pintu kamarnya, suara ponselnya berbunyi. Menampilkan nama Ray di layarnya. Pagi-pagi seperti ini Ray sudah menghubunginya. Tidak menunggu lama Airen segera mengangkatnya, dia tidak ingin Ray menunggu.

"Hai, udah bangun rupanya," ucap Ray di seberang sana.

"Udah lah, gue kan rajin makanya jam segini udah bangun," ungkap Airen sombong.

"Iya deh tau, lo anak rajin gak kaya gue pemalas," gumam Ray.

"Hahaha." Airen menertawakan semua kata yang di ucapkan oleh Ray.

"Kok malah ketawa sih, gak ada yang lucu tau."

"Iya iya maaf," sesal Airen sudah menertawakan Ray.

"Gue jemput lo boleh?" tanya Ray. Airen langsung kaget mendengar pertanyaan tersebut. Dia tidak ingin Ray mengetahui rumahnya secepat ini. Mereka kan baru kenal, Syafira saja yang sudah lama berteman dengannya tidak mengetahui rumahnya.

"Gak perlu, gue bisa berangkat sendiri kok," sahut Airen menolak ajakan Ray. Ray begitu kecewa dengan jawaban Airen. Tapi ini masih tahap awal, suatu saat nanti Ray yakin jika Airen bisa terbuka dengan dirinya.

"Ya udah deh gue tunggu di sokalah," ungkap Ray.

"Oke, gue tutup teleponnya," ucap Airen menyudahi pembicaraannya dengan mematikan sambungan teleponnya.

Airen langsung bergegas pergi ke meja makan. Di sana sudah terdapat keluarganya. Tumben sekali mereka sudah berkumpul. Biasanya Airen yang sering datang lebih awal di meja makan. Kini dia yang terakhir datang.

"Tumben kalian udah pada di sini?" tanya Airen heran.

"Kamu yang telat turun sayang," ungkap Mahendra. Memangnya selama itu dia di dalam kamar?

"Masa sih?" Airen tidak percaya jika dirinya yang telat sampai di meja makan.

"Sudahlah itu tidak penting, sekarang kamu makan cepetan keburu telat," perintah Arumi sambil mengisi piring Airen yang masih kosong.

Airen menghabiskan sarapan paginya dengan nikmat. Dia ingat bahwa nanti Ray akan menunggunya di sekolah. Airen langsung berpamitan kepada keluarganya. Rasanya dia ingin segera sampai di sekolah.

"Yah, Bun, Bang Aris, Nasha pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Airen dan bersalaman kepada semuanya.

"Waalaikumsalam, hati-hati," sahut Arumi.

Airen menunggu angkutan umun yang melewat di depannya. Tapi mengapa lama sekali, angkutan umum yang Airen tunggu belum datang juga. Membuat Airen kesal harus menunggu lama. Dan akhirnya angkutan umum yang ditunggu-tunggu datang.

*******

Akhirnya bisa up lagi hehehe.. Mon maaf yahh mood ku lagi jelek makanya lama buat up nya:(
Menurutku ini part nya pendek hanya 900 lebih kata. Biasanya sampe 1k kata lebih hehehe.

Dahlah aku gk mau banyak bacot. Jangan lupa voment nya.😊

See you in the next part👋👋

INSECURE (Segera Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang