3.10

1.1K 88 0
                                    

Ini saat yang tepat untuk meninggalkan mereka berdua. Kay berjalan melewati Te, senyum menggoda dan mengedikkan alis. Kemudian menepuk bahunya sebelum berlalu turun.

Sekarang perhatian Te kembali pada Nyuwi. Laki-laki januari itu tidak berkedip sampai Te berdiri di depannya.

06:00 AM, ruang ganti pengantin pria

"Mah,"

"Hmm"

"Mamah tau kan aku cuma mau Hin"

Mamah berdecak tak senang lalu lanjut memasang dasi.

"Mamah juga tau kalo pernikahan ini bakal gagal"

Kali ini Mamah menghela napas panjang. Menunjukkan kesabarannya menipis. Dasi terpasang. Mamah melihat penampilan Te di cermin lalu berkata.

"Kamu gak usah mikir yang aneh-aneh. Abis ini dijamin kamu bakal happy"

Happy? Seberapa yakin Te bahagia tanpa Nyuwi. Te memandangi Mamahnya sebelum pergi.

"Apa Hin belum cukup baik buat gantiin Jane?"

Mamah Wira menatap Te dengan tatapan jengkel. Walaupun tak ada satu kata yang keluar tapi sikap dingin telah menjawab pertanyaannya. Te melepas tangan dan membiarkan Mamah keluar ruang ganti.

Dinding penyekat ruangan sangatlah tipis. Menyebabkan cekikikan dari ruang sebelah terdengar. Ruang ganti penganti wanita.

"Kamu cantik banget, sayang. Mamah senang liat kamu pakai gaun pengantin"

"Me too, Mommy"

Ibu dan anak itu tersenyum bersama di depan meja rias. Tante Jiran memeluk anak perempuannya yang cantik dengan gaun sederhana. Tidak perlu rok menjuntai, Jane sudah keliatan mempesona.

TOK. TOK. TOK.

Tiga ketukan buat mereka menoleh ke pintu yang terbuka sesaat setelahnya. Mbak Muk menjulurkan kepala.

"Tante, boleh saya bicara sama Jane sebentar?"

"Boleh"

Tanpa berpikir dua kali Tante Jiran mempersilakan masuk. Mbak Muk bergumam terima kasih di pintu. Kemudian menarik kursi ke dekat meja rias ketika tinggal berdua.

"Mbak, riasanku menor gak?"

"Gak kok. Aku suka shade-nya,"

No! Bukan itu tujuannya bicara berdua dengan Jane. Mbak Muk berdeham mengubah nada bicara menjadi serius.

"Jane, Mbak tau ini salah tapi Mbak minta tolong batalin pernikahannya"

Jane terbelalak. Tentu saja tidak. Ini impiannya sejak kecil. Menikahi pria yang sekaligus teman kecilnya, layaknya cerita cinta klasik, di resepsi yang ia atur sendiri.

"Dulu Mbak emang dukung kalian tapi setelah semua ini," Mbak Muk angkat tangan, mengedikkan bahu.

"Mbak lebih milih Te sama Nyuwi?"

Mbak Muk gak mau ada salah paham. "Mbak cuma mau Te bahagia. Nikah itu bukan cuma sehari tapi selamanya"

"Emang aku gak bisa buat Te bahagia?"

"Apa Te pernah keliatan senang waktu kalian bareng? Senyum lebar kayak waktu dia bareng Nyuwi?"

Jane teringat kejadian di kolam belakang waktu makan malam bersama. Mbak Muk benar, Te gak pernah ketawa lepas bahkan sebelum Nyuwi ke Jakarta.

Trilogy of Us | TayNew ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang