Notes: apa yang tertulis di sini adalah fiksi dan tidak bisa menjadi patokan dalam melakukan atau menjatuhkan diagnosis pribadi. Warning: mention harm.
—Aldila Devan
Mendung. Ini adalah sebuah siang yang mendung. Awan abu-abu muda sedang berdempetan satu sama lain menghalau biru untuk terlihat dari bawah sini. Menutup sebagian cahaya matahari untuk turun sehingga hari terasa muram. Barang kali aku bisa, melihat angkasa yang luas tidak terbatas kalau saja aku terbang lebih tinggi dari awan-awan itu. Atau menemukan tempat yang lain seperti sebuah negeri di atas awan di mana aku bisa merayakan hidup dengan sukacita?
Aku menghela napas. Menggeleng perlahan mengusir pikiran-pikiranku yang datang hanya karena aku sedang duduk di dekat jendela dan memandangi awan di atas. Sebelum aku melamun terlalu lama dan menghabiskan waktuku tanpa makna.
Tanganku pelan melepaskan syal yang melilit leherku. Bulan Maret masih belum mau memberikan tanda-tanda musim semi segera datang. Suhu kadang masih terasa membekukan meski hari ini sebenarnya tidak begitu. Beberapa orang tampak mengenakan jaket yang lebih ringan, tidak seperti diriku yang mungkin karena begitu terbiasa dengan iklim tropis, masih memilih mengenakan padding dan syal. Untuk berjaga-jaga kalau boleh aku beralasan. Aku di sini hidup sendiri jadi kalau sakit akan sangat menyulitkanku.
"Table number six, your order. One potato chicken bowl and one cup of sweet hot tea. Any else?" Pelayan datang ke mejaku menurunkan menu yang kupesan sepuluh menit yang lalu.
"No, thank you." Aku tersenyum tipis.
"Enjoy." Perempuan berambut pirang itu membalas senyumanku sebelum pergi dengan nampannya.
Aku beralih. Tanganku mengelap kepala sendok dengan tisu yang disediakan di meja sebelum mengaduk makananku pelan. Mengambil satu suap setelah mencampur bumbunya, dan memasukkannya ke mulutku. Lidahku meniti rasanya sebelum menelan makanan itu. Enak. Meski ya, aku rindu makan nasi.
Oxford bukanlah kota yang sulit untukku. Setidaknya sekarang aku sudah lebih beradaptasi ketimbang saat pertama kali menjejakkan kaki di tanah ini. Kota ini masih ramai hampir selalu. Meski tidak seramai London. Setidaknya mungkin itu yang membuatku merasakan lebih banyak kehadiran manusia lain meski aku sendirian, secara metafora.
Awalnya aku ingin ikut dengan Ratna saja ke Jepang. Tapi aku tidak bisa bahasa Jepang. Sahabatku itu masih berada di lingkup ilmiah yang membuatnya lebih banyak bertemu dengan orang yang bisa berbahasa inggris, tapi aku? Kurasa aku tidak akan bertahan di sana.
Di sini, orang biasa berbahasa inggris, tentu saja. Jadi aku tidak terlalu kesulitan dalam hal komunikasi. Di sini juga banyak tersedia transportasi umum, bus, railway, underground, atau jika ingin berjalan kaki trotoar di kota ini masih lebih ramah ketimbang Jakarta. Dan di sini, aku juga lebih sering melihat bunga tulip. Ditanam di taman-taman terutama di sekitar bangunan kerajaan. Aku melihatnya bermekaran di musim semi saat pertama kali kemari, satu tahun yang lalu.
Aku membuka tasku untuk mengambil benda persegi berlayar gelap. Handphone-ku yang terasa dingin. Jari telunjukku menyentuh tombol power untuk membuat benda itu menyala. Ya, sampai sekarang aku masih sering mematikannya. Mungkin ini salah satu hasil latihan kebiasaanku.
Sejak pertama kemari aku sudah berniat untuk membantu diriku sendiri. Dan begitulah. Aku sering menonaktifkan alat komunikasi itu agar membantuku fokus ketika berkegiatan di dunia nyata. Juga agar aku tidak mudah menyerah. Mencegahku untuk refleks menelepon orang lain terutama ketika aku terbangun dari mimpi buruk. Menahanku untuk merengek pulang dan menghambur di pelukannya. Tidak untuk itu. Waktu-waktu lebih kugunakan untuk menenangkan diri dan meyakinkan kalau aku masih hidup dan baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lala Aide
BeletrieKatanya, kita selalu tahu jika kita bertemu dengan orang yang tepat. Seperti tidak lagi ada syarat perlu dipenuhi karena kita hanya tahu, dia untuk kita. *** R 17+ | Bahasa Indonesia © ami 2020 Little AU Asaldi, a sosmed au on highlight intsagram sk...
