"Gue akan ngasih waktu kalau memang itu perlu. Namun, gue juga ingin dia tahu."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*painting by Daniel Dell'Orfano
—Arvin Sayudha Aiden
Rasanya.... menarik. Mengenal satu per satu perihal tentang Aldi. Gue sempat ragu apakah ini artinya gue memang tertarik padanya ataukah ini semua muncul karena gue udah lama nggak merasa penasaran dengan seseorang. Mungkin semenjak gue 'putus' dari Kalista, mantan terakhir gue tiga tahun yang lalu gue belum lagi merasakan hal seperti ini.
Sebenarnya, hubungan lama gue itu berakhir tanpa kejelasan karena dia, perempuan itu, memilih menghilang dari kehidupan gue begitu aja. Bahkan keluarganya hanya tahu kalau ia masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja —katanya— melalui surat tanpa alamat pengirim yang jelas. Tulisnya gadis itu berada di Jogja, lain hari ia menggunakan alamat Bandung. Namun di manapun ia menuliskan, pencarian gue ke kota-kota itu nggak pernah berujung temu. Seakan ia sengaja benar memutus sejarah di antara kami dan kembali menjadi orang asing tanpa masa lalu. Menjadi orang lain tanpa pernah tahu. Hal yang sejujurnya nggak gue inginkan mengingat bagaimana gue pernah menyayanginya.
Gue nggak sedang menyerah. Gue hanya sedang lelah ketika usaha gue untuk membuat segalanya menjadi baik-baik saja, kembali seperti semula, hanya menjadi tepukan sebelah tangan karena sekali lagi, gadis itu memilih lari. Menempuh jalan termudah untuk menyelesaikan semuanya. Mungkin gue nggak mengerti soal traumanya atau sebesar apa penyesalan yang tertinggal jika kami kembali. Mungkin memang, ada hal-hal di dunia ini yang harus berakhir dengan cara tidak semestinya.
Hingga gue berjumpa dengan awal yang baru saat bertemu dengan Aldi. Sejujurnya, saat pertemuan pertama dengannya gue nggak menyangka kalau gue akan melangkah hingga sejauh ini. Soal perasaan gue yang mulanya hanya ketertarikan sesaat. Soal rasa penasaran gue karena ia memiliki kebiasaan aneh terhadap malam dan pergi sendirian. Hingga kini berubah menjadi sebuah pemahaman bahwa ia hanyalah satu di antara orang-orang yang mencoba bertahan dalam dunianya.
Gue nggak tahu apa yang menyebabkan Aldi sering mimpi buruk. Hasil pencarian di google memang membantu, tetapi itu tidaklah personal. Gue memang memiliki pertanyaan tetapi masih bisa gue urungkan untuk ditanyakan. Rasanya gue nggak pengen memaksa Aldi buat cerita kalau memang dia belum mau bercerita dengan sendirinya. Untuk sekarang, cukup gue paham tentang alasannya. Karena ada hal lain yang gue inginkan yakni agar dia merasa nyaman berada di sisi gue.
Aldi masih nggak mau gue temenin tidur. Dia masih merasa canggung di deket gue. Sekarang memang ia sudah lebih jarang keluar malam sendirian karena tahu it can bedangerous, tapi kekhawatiran gue juga nggak berkurang kalau dia nggak ada temen tidurnya. Temennya tempo hari itu—Ratna gue sekarang memanggilnya setelah berkenalan lagi lewat direct message— sudah bilang kalau ia akan menemani Aldi ketika nggak ada jadwal kerja malam. Kemudian gue juga akhirnya berkenalan dengan Mela, teman yang masih satu kantor dan gue tahu memang dekat dengan Aldi. Dan setelah tahu perempuan itu suka main game, gue jadi ngedeketin dia (in term of friend, supaya agak naik level daripada sekedar workplace acquaintance) dari game yang lagi ngehits sekarang ini. Padahal gue sebenernya jarang main game sih, sampai gue niatin semingguan main ke rumah Jaff mulu minta diajarin among us supaya bisa ngalahin Mela. Kan lumayan sama taruhannya.