28. Where I Belong

1.9K 122 61
                                        

Epilog


cie epilog


..


ngga deng, intermezzo aja sekarang extra chapter aku pindahin ke karyakarsa. mungkin sekarang masih terbatas tapi tak menutup kemungkinan aku kangen dan baper #halah. so.. yeah sapa mereka di sana juga ya. 

karyakarsa.com/amidyra



and enjoy




—Arvin Sayudha Aiden

... percayalah, di mana pun aku berada, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu. Maka aku harap kamu juga, berusaha untuk menjadikan harapanku itu kenyataan.

Gue menghembuskan napas pelan. Menutup dan melipat lembar tipis buram itu pada garis lipat yang sudah semakin rapuh dan memburamkan huruf-hurufnya, tampaknya sudah terlalu sering untuk terlipat dan terbuka. Setiap larik kata yang tertoreh di sana sudah tertanam lebih erat di otak gue meski gue masih merasa perlu untuk membuka dan membacanya berulang kali. Karena itu merupakan satu-satunya kata yang terakhir Aldi tinggalkan untuk gue.

Tangan gue pelan meletakkan lipatan surat itu pada kotak kado berbentuk persegi berwarna coklat yang di dalamnya juga terletak sebuah wish bracelet gue yang putus beberapa hari lalu. Di sebuah hari yang cerah. Kalau boleh gue tambahkan, di sebuah hari di mana Aldi mengunggah foto langit setelah hilang setahun tanpa kabar.

Tangan gue menyalakan handphone untuk membuka ingatan itu. Menyaksikan gambar yang tersimpan dalam tangkapan layar untuk gue abadikan. Karena ini hanya satu, barangkali entah kapan lagi, gue mendapat tanda kehidupan darinya.

Setidaknya dia bahagia, kan? Gue bertanya sendiri. Apakah dengan berada jauh dari kami semua—gue, Bu Mala, Andre, dan teman-temannya, ia memperoleh impiannya. Jika jawabannya adalah iya, maka gue juga akan bahagia.

Rasanya seperti ada yang menghantam pelan dada gue karena entah mengapa gue merasa sesak.

Nyatanya, kata sederhana itu menjadi lebih sulit untuk gue lakukan. Meski sudah berkali gue mencoba ikhlas dan melapangkan dada. Meski gue sudah mencoba memilih jalan lain. Kisah gue, rasanya, nggak akan kembali pada warna yang sama ketika bersamanya.

Ting!

Ada bunyi notifikasi masuk yang mengalihkan perhatian gue. Sebuah pesan. Dari Kalista.


Kalista

Will be ready in 10 mins.


Sebenarnya kehadiran Kalista enggak membuat hati gue ragu. Justru, karenanya gue jadi semakin yakin atas apa yang Kakins katakan, kalau semesta selalu punya waktu untuk kita semua.

Gue mengetikkan oke dan menekan tombol kirim sebelum mematikan layar ponsel. Berdiri untuk mengambil jas gue yang sudah disiapkan rapi sejak pagi tadi di atas kasur. Mengenakannya dari sekarang.

Lala AideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang