"Ibu!"
Dua anak laki-laki terlihat berlarian menuruni tangga di area dalam sebuah rumah. Mereka lalu berhenti melangkah saat tiba di depan pintu utama. Ekspresi senang mereka berubah saat tidak ada satu mobil pun di sana.
"Kedua orangtua kalian sedang mengunjungi istana terlebih dulu. Mungkin mereka akan pulang saat makan siang nanti" Ucap seorang wanita yang bertugas menjaga mereka berdua.
"Kenapa Ibu harus pergi ke sana?" Tanya Jisung.
"Kakek dan Nenek kalian ingin bertemu dengannya"
"Ku pikir Ibu akan pulang pagi ini. Aku sempat mendengar adanya suara mobil tadi"
"Itu hanya suara mobil lain pengantar sayuran. Kembalilah ke dalam. Cuaca sudah mendung di luar"
Jisung tidak bisa menyembunyikan raut kecewanya. Dia masuk lebih dulu dan meninggalkan sang adik yang pergi berlari ke arah kebun kecil sendirian.
"Pangeran Kang Hoon, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya pekerja di sana padanya.
"Paman, apa kau mempunyai bunga yang bisa ku petik?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin memberikannya kepada Ibu nanti"
Pekerja itu tersenyum dan mulai memilihkan beberapa tangkai bunga dengan jenis yang berbeda untuknya.
"Ini.. Kau bisa meminta pengasuhmu untuk membungkusnya dengan sesuatu supaya terlihat lebih rapih"
Anak itu menerima bunga-bunga itu dengan tangan kecilnya.
"Tidak. Aku akan menempelkannya di gambarku nanti"
"Itu ide yang lebih bagus. Ibumu pasti akan sangat senang menerimanya"
"Terima kasih, Paman"
Pekerja itu melihat kepergian Kang Hoon dengan senyuman di wajahnya. Sepertinya kebanyakan dari mereka lebih menyukai sifat ramah anak kedua itu dibandingkan dengan Jisung yang jarang menyapa seperti Ayahnya. Pria tadi melanjutkan pekerjaannya sebelum hujan turun di wilayah itu.
Sementara di istana utama, Naeun yang masih menggunakan kursi roda harus mendengarkan beberapa ucapan yang disampaikan Ayah dan Ibu mertuanya sejak tadi. Pembicaraan hanya mengarah pada rasa senang mereka akan penyelesaian masalah yang di alami sang Putri kemarin.
"Pihak kepolisian sudah berhasil menangkapnya dan pengadilan pun akan bekerja sama memberikan hukuman yang pantas untuk wanita itu. Bukti-bukti yang kau berikan kemarin sepertinya cukup untuk membuatnya bersalah dalam persidangan nanti" Ucap sang Raja.
"Aku tidak melakukan banyak, Yang Mulia. Hanya saja aku merasa sedikit menyesal tidak bisa melepasnya di saat aku sudah memberikan kesempatan padanya. Dia bukan tipe wanita yang bisa merencanakan tindakan kriminal seperti itu"
"Kau tidak mungkin langsung mengenalinya dengan baik hanya karena pernah sekali atau dua kali bertemu dengannya, Son Naeun. Aku sangat mengapresiasi usahamu untuk mendapatkan bukti akurat mengenai tindakannya"
"Itu hanya kebetulan yang terjadi padaku. Kalau aku tidak tersadar waktu itu, mungkin dia akan selalu mengincar nyawaku sampai keinginannya tercapai. Dia sangat menyukai Pangeran dan aku juga ingin berterima kasih kepada kalian karena telah membantu dalam penawaranku selama ini"
Kedua orangtua di depan Naeun mulai melihat ke arah satu sama lain. Mereka juga beralih untuk melihat ke arah sang anak lelaki yang sejak tadi belum membuka suaranya.
"Aku sudah memberikan kesaksianku juga pada pihak polisi beberapa waktu yang lalu. Aku juga merasa menyesal sudah membuat Jung Soojung menjadi seperti itu. Dia menaruh harapan besar padaku dan membuatnya bisa merencanakan kejahatan pada Naeun" Kai mulai berbicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Crown Story
Fanfiction[COMPLETED] Seorang pangeran yang bernama Kai akan menjadi pewaris tahta kerajaan sang Ayah suatu saat nanti. Namun dia justru harus menikah selain dengan wanita yang dicintainya. Jung Soojung harus menerima keputusan itu dan menyuruh Kai mencari wa...
