Suara sebuah ponsel berbunyi kembali terdengar di dalam kamar. Sang pemilik hampir saja kehilangan kesempatannya untuk menjawab panggilan tersebut karena sang Ibu yang kebetulan sedang berada di dekat benda kotak miliknya itu hendak meraih ponselnya. Dengan terburu-buru, Naeun menjauh dari Ibunya dan menekan layar ponselnya.
"Ha-halo?"
"Kirimkan alamat rumahmu padaku" Suara seorang pria terdengar di ujung telepon.
"Apa?"
"Aku biasanya selesai melakukan semua pekerjaan di malam hari. Jadi aku bisa langsung menjemputmu di sana"
"Ta-tapi........."
"Kirim melalui pesan teks sekarang" Kai mengakhiri panggilan lebih dulu.
Sementara wanita itu masih dilanda kebingungan dan seakan hal yang kemarin dibicarakan pria itu tidak sepenuhnya akan terjadi hari ini.
"Ada apa?" Kehadiran Ibunya tampak mengejutkannya.
"Ti-tidak ada apa-apa. Kau akan pulang sekarang?"
"Iya. Ayahmu sudah menunggu di dalam mobilnya. Apa kau yakin tidak akan berangkat ke tempat kerja bersama dengan kami?"
Naeun menganggukkan kepalanya.
"Aku bisa berangkat sendiri nanti. Lagipula aku juga masih harus bersiap-siap terlebih dulu"
"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Jaga dirimu baik-baik, Naeun"
Dia membalas pelukan singkat Ibunya sebelum membiarkannya berjalan ke arah pintu utama. Naeun bisa bernafas dengan lega setelah harus menutupi rencana kencannya nanti dari wanita yang melahirkannya itu.
"Apa aku harus mengirimkannya alamat rumah ini?" Dia mulai merasa ragu sambil menatap layar ponselnya.
Namun dia mengambil keputusan untuk mengetik sebuah pesan supaya tidak membuat sang pangeran menunggu terlalu lama. Setelahnya, dia kembali ke kamar untuk mengganti pakaian tidurnya dan bersiap memulai harinya di tempat kerja kembali.
Sementara itu, sebuah ponsel berbunyi tanda adanya sebuah pesan masuk. Kai mengecek dan melihat sebuah alamat tertera di sana. Sedikit senyuman yang terpancar pada wajahnya mulai menarik perhatian pria paruh baya yang sedang duduk di sebelahnya.
"Apa ada sesuatu yang menarik?"
Kai menoleh ke arah Ayahnya sebentar.
"Tidak ada" Ucapnya sambil menurunkan ponselnya.
"Fokus lah untuk mengikuti rapat bersama dengan dewan pemerintahan nanti. Akan ada banyak pembahasan baru yang mungkin belum pernah kau dengar sebelumnya"
"Iya, Ayah"
"Rencana pembangunan ulang rumah milikmu akan berjalan di akhir bulan nanti"
"Aku tahu..." Ucap Kai sambil merasa sedikit terkejut karena Ayahnya membicarakan hal itu lebih dulu.
"Kau hanya mempunyai waktu sampai batas yang telah ku tentukan. Selebihnya, aku akan melanjutkan rencanaku itu sampai selesai. Kau juga tidak pernah terlihat menggunakan bangunan itu sampai saat ini, jadi aku berusaha memanfaatkannya untuk hal lain"
"Aku berencana untuk menempatinya nanti bersama dengan istriku"
"Rencanamu masih terlalu lama untuk terlaksana. Aku harus bertindak cepat untuk membantu kehidupan warga sekitar sana. Lagipula mereka juga membutuhkan banyak lahan untuk digunakan sebagai sumber penghasilan"
Kai terdiam sejenak.
"Kau lebih memperdulikan mereka dibandingkan warisan yang sudah kau berikan padaku"
"Apa maksud ucapanmu itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Crown Story
Fanfiction[COMPLETED] Seorang pangeran yang bernama Kai akan menjadi pewaris tahta kerajaan sang Ayah suatu saat nanti. Namun dia justru harus menikah selain dengan wanita yang dicintainya. Jung Soojung harus menerima keputusan itu dan menyuruh Kai mencari wa...
