Teman tapi ngarep, begitulah peran Johnatan dalam hubungan persahabatannya dengan Veronica. Johnatan mencintai Veronica dalam diam, rela menjadi tempat curhat tanpa dibayar, dan ruang peristirahatan tanpa benar-benar disinggahi.
Meskipun sering pat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—Heha Sky View Gunung Kidul Regency, Yogyakarta.
•
•
"John, lo bener-bener udah gila." Veronica tidak sanggup menyelesaikan ucapannya. Terlalu syok melihat bangunan yang ada di hadapannya.
"Your welcome," Johnatan mengulum bibir, menyembunyikan senyuman bangga yang nyaris terukir di sana.
Tempat random yang mendadak terpikirkan olehnya adalah Heha Sky View. Rumah makan tiga lantai yang berada di kawasan perbukitan Gunung Kidul. Tempat ini bukan sebuah restoran biasa. Bukan hanya lidah yang akan dimanjakan oleh santapan lezat, tapi juga indra penglihatan.
Pada siang hari, pengunjung akan dimanjakan oleh pemandangan alam berupa langit cerah, udara sejuk, dan ketenangan suasana perbukitan. Sedangkan pada sore menjelang malam, pengunjung akan dimanjakan dengan langit senja dan juga lampu-lampu yang berasal dari bangunan di kota terlihat sangat indah seperti bintang-bintang yang menyala. Tidak heran penduduk sering menyebut tempat ini sebagai bukit bintang.
Veronica menoleh. "Gue enggak lagi muji lo barusan."
"I know," Johnatan tersenyum. "Dan gue juga tahu lo enggak kesel karena gue ajak ke sini. Jadi, gue anggep kata-kata lo tadi sebagai ucapan terima kasih."
"Sok tahu banget, sih?" Veronica berdecih sinis. "Lo pikir lo tahu semua tentang gue? Merasa sekenal itu?"
Johnatan mengangguk yakin. "Kalau di dunia ini cuma ada bilangan seratus persen, gue berani jamin seratus satu persen. I know you better than yourself, correct me if i wrong."
Sesaat Veronica hanya diam menatap tajam Johnatan. Perlahan Veronica menghela napas berat. "Sepercaya diri itu?"
"Iya," Johnatan kembali mengangguk. "Kenapa? Lo mau denial kalau gue salah? Silahkan. Tapi gue yakin lo suka tempat ini, sih."
"Suka?" Veronica mendengus sinis.
Veronica melangkahkan kaki mendekati Johnatan dengan gaya menantang. Ekspresinya terlihat sangat marah. Namun, hanya sekelebat mata mimik wajahnya seketika berubah. Matanya yang semula menyorot tajam berbinar senang. Bibirnya yang awalnya cemberut kini melengkungkan senyuman lebar.
"Suka banget, lah!"
Tanpa izin Veronica langsung menggamit tangannya, menarik Johnatan selayaknya anak kecil yang tidak sabar ingin dibelikan ice cream.
Sebelum masuk, mereka diharuskan membeli tiket terlebih dahulu. Tiket masuk perorang dikenakan biaya lima belas ribu pada jam malam, sedangkan pada siang hari dikenakan biaya sepuluh ribu rupiah.