Chapter 25- Cuma Teman

1.5K 356 41
                                        

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Veronica menggigit daging bibir dalamnya, sesekali melirik jam di layar ponselnya. Jam menunjukkan pukul enam sore, itu artinya sudah setengah jam berlalu sejak mereka —Veronica dan Johnatan—sampai di ruko tempat pertemuan dengan Pak Tejo.

Namun, hingga saat ini sosok Pak Tejo belum muncul juga. Hanya ada tikar tempat Pak Tejo biasa tidur setiap harinya. Johnatan sempat bertanya pada pedagang kaki lima di sekitar ruko, menanyakan tentang keberadaan Pak Tejo. Nama Pak Tejo sudah tidak asing lagi di telinga para pedagang, mereka mengatakan beliau mungkin sedang keliling untuk memulung barang-barang yang masih laku dijual di Juragan Rongsok.

Biasanya Pak Tejo akan kembali sekitar jam tujuh atau setengah delapan paling lambat. Karena tidak ada yang tahu kepastiannya, terpaksa Veronica dan Johnatan menunggu di sana. Mereka duduk lesehan di depan ruko, menunggu Pak Tejo kembali.

Dulu, mungkin menunggu berdua seperti ini bukan masalah besar. Malah hal itu sangat lumrah karena ke mana pun Veronica pergi, Johnatan pasti menemaninya.

Masalahnya sekarang hubungan mereka sedikit berbeda. Dari yang biasanya selalu bertukar kabar kini tidak pernah saling mengabari. Dulu Johnatan selalu menemaninya sarapan, makan siang, makan malam, dan berburu cemilan tengah malam.

Sekarang?
Jangankan makan bersama, bertemu saja hanya di kampus dan rapat organisasi.

Jarak yang entah kapan tercipta itu benar-benar merubah banyak hal. Sekarang mereka merasa asing, seperti tidak pernah mengenal satu sama lain.

Canggung.

Satu kata itulah yang menggambarkan suasana di antara Veronica dan Johnatan saat ini. Sejak setengah jam yang lalu, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Johnatan berlagak asik menikmati pemandangan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang, sedangkan Veronica berlagak fokus melihat postingan di sosial media.

Veronica benci suasana canggung. Tetapi, dia lebih benci lagi menerima fakta bahwa suasana itu harus tercipta saat dia sedang bersama Johnatan. Satu-satunya orang yang sangat dekat dengannya selain orang rumah alias keluarga. Johnatan satu-satunya cowok yang berhasil membuatnya merasa nyaman tanpa harus memikirkan harus berpenampilan seperti apa. Bersama Johnatan, dia tidak perlu memikirkan topik apa yang harus dia bahas agar ada bahan pembicaraan. Bahkan saat sunyi pun tidak terasa canggung.

Namun semuanya berubah dalam sekejab mata. Veronica mulai mengingat-ingat awal mula semua ini terjadi. Tetapi dia tidak mendapatkan jawabannya. Entah ini berawal dari dirinya yang mendapat pesan dari Alex atau malah jauh sebelum itu. Karena dia tidak tahu pasti sejak kapan Johnatan dan Alisa mulai akrab. Hingga akhirnya cowok itu memilih jaga menjarak dengannya.

Kata-kata yang masih terngiang adalah saat Johnatan mengaku ingin memprioritaskan pacar bukan teman. Satu pengakuan yang mampu meruntuhkan hubungan pertemanan di antara mereka.

TEMAN TAPI NGAREPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang