Grup Organisasi PERMAMSA
Theo: Panitia langsung kumpul di Ruang RKF
Dominic: Telat bayar denda lima puluh ribu
———————
"Buset, naik lagi denda telatnya?" Veronica menggelengkan kepala membaca pesan di grup organisasi.
Untung saja tadi dia mengurungkan niatnya untuk mengulur waktu datang ke kampus karena tiba-tiba malas beranjak dari kasur. Jika tidak, dia pasti akan menyesal harus kehilangan uang lima puluh ribu denda keterlambatan.
Hari ini, panitia mengadakan rapat pertemuan untuk pertama kalinya dengan Guess Star yang akan mengisi acara konser amal. Pertemuan diadakan di kampus. Sejak berita yang mengabarkan project pertama mereka di Rumah Bakti Kudus, Pak Hengky bersikap lebih baik daripada sebelumnya. Kemarin saja saat Theo meminta izin meminjam ruang kelas karena ingin mengadakan pertemuan di kampus, Pak Hengky dengan berbaik hati meminjamkan Ruang RKF.
Ruang RKF adalah ruangan meeting yang biasa digunakan untuk seminar dan pertemuan penting lainnya. Sepertinya lambat laun organisasi mereka mulai tidak dipandang sebelah mata lagi. Meski masih banyak yang menganggap tujuan mereka hanya ingin sok baik dan mencari perhatian saja.
Veronica menghentikan langkah kakinya tepat di anak tangga ketiga. Napasnya tersengal-sengal dengan wajah memerah. Akhir-akhir ini dia kurang tidur, alhasil staminanya jadi kurang fit. Masa hanya berjalan kali dari kos ke kampus saja energinya terkuras habis. Padahal jarak antara kos dan kampus tidak jauh.
Dia jadi menyesal kenapa tadi menolak tawaran Juan yang hendak menjemputnya di Kos dan malah bergaya ingin jalan kaki saja. Sekarang dia bahkan tidak sanggup melanjutkan perjalanannya menaiki tangga menuju lantai tiga.
"Gila, ya?" Veronica berdecak kesal. "Ini kampus atau Candi, sih? Tangganya banyak bener mana tinggi-tinggi!"
Sepanjang jalan menuju Ruang RKF Veronica terus menggerutu. Menyalahkan kampusnya yang tidak memperbolehkan mahasiswa menggunakan lift. Dia sering merasa tidak adil karena cabang kedua kampus mereka yang gedungnya berada di Jalan Babarsari memperbolehkan mahasiswa menggunakan lift.
Dasar manusia, sering merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Selalu menyalahkan keadaan padahal kesalahan ada pada dirinya sendiri.
"Keringetan pula," Veronica menyeka keningnya dengan tisu. "Padahal gue baru mandi—Eh, John!"
Johnatan— yang baru saja keluar dari pintu Ruang RKF— menaikkan sebelah alis, menatap datar Veronica.
"Panitia udah dateng semua?" Tanya Veronica.
"Lihat aja sendiri," ucap Johnatan sebelum kembali melangkahkan kaki melewati Veronica begitu saja.
"Eh," Veronica meraih tangan Johnatan. "Mau ke mana lo?"
Johnatan tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada tangan Veronica yang menggenggam pergelangan tangannya.
"Suka-suka gue mau ke mana."
"Hah?"
"Minggir," Johnatan menepis pelan tangan Veronica.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Johnatan berlalu pergi meninggalkan Veronica yang masih cengo di tempat.
"Sensi amat," Veronica berdecih. "Dateng bulan lo?"
Veronica memerhatikan Johnatan yang berjalan menjauhinya. Seumur-umur mengenal Johnatan, baru kali ini Veronica melihatnya bertingkah seperti itu. Johnatan tidak pernah membentak Veronica, bahkan dalam kondisi sangat emosi pun cowok itu tetap sabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
TEMAN TAPI NGAREP
Teen FictionTeman tapi ngarep, begitulah peran Johnatan dalam hubungan persahabatannya dengan Veronica. Johnatan mencintai Veronica dalam diam, rela menjadi tempat curhat tanpa dibayar, dan ruang peristirahatan tanpa benar-benar disinggahi. Meskipun sering pat...
