Chapter 10-More Than Friend

1.6K 360 28
                                        

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




"Siapa aja yang pesen teh manis hangat?"  Tanya Tama.

Theo, Dominic, dan Markus kompak mengangkat tangannya.

"Itu wedang jahe punya gue," Juan mencondongkan tubuh, meraih gelas yang berada di meja Tama.

"Es jeruk punya gue," sambung Yudha.

"Bentar sabar satu-satu," ucap Tama. Tangannya sibuk membagikkan gelas minuman sesuai pesanan masing-masing.

"Loh," Theo mengerutkan kening. "Ada yang pesen kopi?"

"Gue," jawab Johnatan dan Jaeffry serempak.

"Buset," Markus menggelengkan kepala. "Udah jam sebelas malem minumnya kopi, Bang?"

Jaeffry tersenyum. "Minum kopi atau enggak gue baru bisa tidur subuh."

"Gue, sih, tetep bisa tidur. Enggak ada efeknya malah jadi lebih fokus," kata Johnatan.

"Kebiasaan," Dominic menatap prihatin Jaeffry dan Johnatan. "Lo berdua masih muda jadi efeknya belum terasa. Sering begadang dan konsumsi banyak kafein enggak bagus buat kesehatan."

"Jadi inget bokap pernah nasihatin gue gini," Tama berdeham sejenak. "Sehat itu murah, sakit itu mahal. Percuma punya banyak duit kalau badannya sakit. Lo enggak bakalan bisa menikmati."

Markus mengangguk setuju. "Kalau kata Lucas, selamat menikmati mati."

"Mereka berdua udah biasa kayak gitu. Paling lagi banyak pikiran," Yudha mengibaskan tangannya. "Udah bagus minumnya kopi bukan amer."

"Karena di Burjo enggak jual amer," sahut Juan, "Kalau jual udah pasti mereka pesennya amer."

Johnatan terkekeh. "Gue enggak lagi banyak pikiran, kok. Memang lagi pingin kopi aja."

Kalau dipikir-pikir sudah lama sekali mereka tidak nongkrong di Burjo ramai-ramai seperti ini. Johnatan jadi teringat saat masih menjadi mahasiswa semester awal. Dulu hampir setiap malam mereka bisa nongkrong seperti ini tanpa perlu memikirkan tugas. Saat itu belum ada Markus di dalam circle mereka dan Veronica masih menjadi satu-satunya cewek yang tergabung di sana.

Tetapi, Johnatan tidak pernah mengizinkan Veronica ikut nongkrong malam-malam bersama temannya yang lain. Karena bagaimanapun mereka tetaplah seorang laki-laki normal yang terkadang topik obrolannya tidak disaring dengan baik.

"Baru-baru ini gue cari tahu tentang band Hera. Ternyata mantep bener," Yudha mengaduk es jeruknya. "Padahal tahu Hera nge-band dari semester satu."

TEMAN TAPI NGAREPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang