Chapter 14-Berhenti Menanti

1.5K 325 51
                                        

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Johnatan menyesap pelan vodka dalam gelas kaca di tangannya. Cairan bening dengan kadar alkohol tinggi itu membuat kepalanya terasa berat.

Sudah setengah botol lebih dia habiskan seorang diri. Tindakannya itu membuat Juan dan Yudha memberinya tatapan khawatir sekaligus prihatin.

Mereka bertiga memang sering mengadakan perjamuan. Menikmati sebotol anggur merah sambil bercerita tentang banyak hal mulai dari kegiatan kampus, masalah hidup, cita-cita, dan cinta. Namun, segelas anggur merah tidak mempan untuk membuat Johnatan tetap berpikir jernih malam ini.

Dia membutuhkan sesuatu yang lebih keras. Sesuatu yang dapat membuatnya sedikit mengalihkan beban di hatinya. Juga rasa sakit yang sejak tadi terasa menekan dadanya.

Johnatan menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang Juan. Tatapannya menerawang mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Saat Veronica menyebut nama cowok lain di hadapannya. Veronica mengaku akan mencoba membuka hati dengan seorang cowok yang bahkan belum pernah bertemu secara langsung dengannya.

Bukan salah Veronica. Johnatan tidak pernah sedikit pun menyalahkan Veronica yang lebih melirik cowok lain daripada dirinya. Johnatan hanya benci pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia jadi orang sebodoh ini?

Bodoh sekali bermimpi suatu saat dia akan mendapatkan panggung untuk tampil. Bisa-bisanya dia berharap naik pangkat dari tokoh sampingan menjadi tokoh pendamping.

Lucu sekali harapannya. Sampai-sampai Johnatan ingin menertawakan dirinya sendiri.

Kedua mata Johnatan terpejam erat mengabaikan suara ketukkan pintu kamar Juan.

Juan segera bangkit berdiri untuk membuka pintu. Sosok Jaeffry langsung muncul dari sana.

Jaeffry dan Juan memang tinggal di satu atap yang sama. Bedanya kamar Jaeffry ada di lantai atas sedangkan Juan di lantai bawah.

Kening Jaeffry berkerut dalam melihat kondisi Johnatan. Perlahan dia berbisik, "What happen?"

"Cedera serius," sambung Yudha.

Hati-hati Jaeffry melangkahkan kaki mendekati Johnatan. Duduk lesehan di sampingnya. Jaeffry mengernyitkan hidung saat menghirup bau alkohol yang menguar kuat dari mulut Johnatan.

"Kok bisa?" Tanya Jaeffry pada Yudha dan Juan.

Juan memberikan ponselnya pada Jaeffry.

"Alexander Wirawan?" Jaeffry membaca nama yang tertera di layar ponsel Juan. Membuka satu-persatu foto di sosial media Alex. "Siapa, nih?"

TEMAN TAPI NGAREPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang