Chapter 34-Pengakuan

4.2K 496 134
                                        

Catatan: Buat yang tanya kapan update, mohon dibaca info di akhir lapak ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Catatan: Buat yang tanya kapan update, mohon dibaca info di akhir lapak ini. Thank you 😊🙏🏻



"Udah lurus belum?"

"Bentar," Juan melangkahkan kaki mundur, menjauh dari panggung. "John, bagian lo kurang naik dikit. Punya Jaeffry udah pas."

John mengikuti arahan Juan. "Segini?"

"Perfect!" Juan mengacungkan dua ibu jari tangannya.

"Gue rada enggak percaya sama matanya Juan," Johnatan menoleh ke sisi panggung. Di sana ada Arjune, Kasteen, Lucas, Markus, Nabilla, dan Fani sedang sibuk berkutat dengan rangkaian kupu-kupu yang hendak digantung di panggung. "Eh, sorry ganggu bentar. Menurut kalian udah pas belum banner-nya?"

Tanpa banyak protes mereka berenam langsung menghampiri Juan, memerhatikan banner yang hendak Johnatan dan Jaeffry pasang.

"Udah." Jawab mereka serempak.

"Oke, thank you."

Tidak terasa hari terakhir untuk persiapan project mereka datang juga. Malam ini semua anggota berkumpul di kampus untuk mulai mendekorasi panggung. Penggarapan panggung—oleh pihak yang menyewakannya—butuh waktu sekitar dua hari kerja. Dimulai sejak kemarin siang dan baru selesai sekitar pukul enam sore tadi. Alhasil, mereka baru bisa melaksanakan tugasnya pada malam hari.

Setelah memasang banner, Johnatan diam sejenak. Memerhatikan teman-temannya yang sedang bekerja. Chandra, Rendi, Jisabian, dan Leo sibuk membuat pagar pembatas dengan menggunakan pita, sedangkan Theo, Yudha, Tama, Dominic, Winston, Jeno, dan Najendra sedang mendirikan tenda konvensional untuk tempat berteduh Guest Star saat menunggu gilirannya tampil.

Setelah menimbang-nimbang, Johnatan memilih untuk menghampiri Theo dan teman-temannya karena sepertinya butuh tenaga lebih untuk mendirikan tenda konvensional.

"Mau ke mana lo?" Tanya Juan membuat langkah Johnatan seketika terhenti.

Johnatan menoleh. "Mau bantu bangun tenda."

"Mending lo istirahat dulu aja. Lo belum makan, kan?" Juan mengedikkan dagunya ke arah meja di depan lobi. Di sana ada dua nasi kotak yang belum terjamah. Karena lembur, para anggota memutuskan memesan nasi kotak agar tidak perlu bergantian meninggalkan kampus untuk sekadar makan malam.

"Cuma gue yang belum makan?" Johnatan mengerutkan kening. "Kok, ada dua nasi kotaknya? Sisa?"

"Veve juga belum makan."

TEMAN TAPI NGAREPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang