Teman tapi ngarep, begitulah peran Johnatan dalam hubungan persahabatannya dengan Veronica. Johnatan mencintai Veronica dalam diam, rela menjadi tempat curhat tanpa dibayar, dan ruang peristirahatan tanpa benar-benar disinggahi.
Meskipun sering pat...
Nabilla menghampiri ranjang, duduk di samping Fani. Keduanya sontak saling bertukar pandang, ekspresi bingung tercetak jelas di wajah mereka.
Wajar jika mereka berdua bingung, Veronica saja bingung kenapa tiba-tiba dia meminta driver ojek untuk mengantarnya ke kos Nabilla bukannya kembali ke kosannya sendiri. Dia hanya tidak ingin sendirian di kos saat ini dan satu tempat yang terbesit di benaknya adalah Nabilla. Tanpa pikir panjang dia langsung mengganti tempat tujuannya, Veronica bahkan memberi beberapa tip pada driver yang telah sabar menghadapi kelabilannya.
Parahnya, penampilan Veronica sangat memprihatinkan. Mata sembab, hidung merah seperti tomat matang, dan rambut setengah basah karena di tengah perjalanan tadi tiba-tiba gerimis.
Saat pertama kali melihat kedatangannya yang tiba-tiba dalam keadaan sekacau itu, Nabilla tampak sangat terkejut. Nabilla langsung menawarkan Veronica untuk mandi di tempatnya, bahkan meminjamkan pakaian hangat untuknya. Untung saja Nabilla tidak pergi ke mana-mana. Akan sangat terlihat menyedihkan jika ternyata Nabilla sedang tidak ada di kos.
Bukan hanya Nabilla yang khawatir melihat kondisi Veronica— yang tidak biasanya seperti ini— bahkan Fani sampai berkunjung ke kamar Nabilla untuk berbagi brownies yang dikirim orangtuanya. Mungkin mereka pikir Veronica sedang terkena musibah. Tebakan mereka tidak salah. Veronica memang sedang kacau sekali malam ini.
Veronica menundukkan wajah, menatap kosong uap panas yang mengepul dari susu cokelat hangat dalam gelas. Perlahan dia menyesapnya. Rasa manis membuat perasaannya jadi lebih tenang.
Nabilla dan Fani memilih diam, tidak ingin mengusiknya. Meski keduanya sangat penasaran karena selama ini selalu mengenal Veronica sebagai perempuan yang kuat. Tidak pernah terbayangkan suatu hari mereka akan melihat Veronica sekacau ini.
"Lumayan," Fani tersenyum kecil. "Tapi seneng, soalnya Kak Veve enggak pernah main ke sini sebelumnya."
Veronica terkekeh. "Menangnya gue enggak pernah mampir, ya? Dulu kayaknya pernah sekali waktu gue minta semua nota Divisi Usda buat bantu Markus pembukuan."
"Pernah tapi cuma duduk di teras sama Kak John juga," ucap Fani seketika membuat Veronica bungkam.
Entah mengapa nama Johnatan jadi terdengar berbeda di telinga Veronica.
Meski hanya sekejap mata, Nabilla menyadari perubahan ekspresi Veronica saat Fani menyebut nama Johnatan. Nabilla mengulum bibirnya, dengan hati-hati berucap, "Kak Veve lagi ada masalah, ya?"