Chapter 13-Give Up

1.5K 355 45
                                        

—Gym SIFC (Sweat Is Fat Crying) , Sleman, Yogyakarta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gym SIFC (Sweat Is Fat Crying) , Sleman, Yogyakarta.




Johnatan meraih handuk kecil di atas ransel. Menghapus bulir-bulir keringat yang membasahi wajah dan juga lehernya. Napasnya memburu cepat efek berlari selama dua puluh menit di atas treadmill.

Payah, staminanya menurun drastis. Baru berlari sebentar saja napasnya sudah ngos-ngosan. Padahal dulu Johnatan mampu berlari selama hampir satu jam dengan napas stabil. Bahkan setelah itu dia masih sanggup angkat beban untuk melatih ototnya.

Semua ini terjadi karena sudah dua bulanan dia jarang berolahraga. Alhasil tubuhnya kualahan saat kembali dipaksa bergerak. Apalagi akhir-akhir ini Johnatan sering mengkonsumsi makanan tidak sehat seperti fast food dan makanan instan lainnya. Perutnya jadi terasa begah, sangat tidak nyaman setiap kali beraktivitas berat.

Karena itulah dia memutuskan untuk kembali melatih fisiknya, jangan sampai di usianya yang masih muda tubuhnya justru mudah lelah seperti pria paruh baya.

Selagi menunggu napasnya kembali normal, Johnatan memerhatikan sekitarnya. Biasanya sore menjelang malam seperti ini ruangan gym pasti ramai. Banyak orang setelah pulang kerja menyempatkan diri untuk berolah raga. Terlihat dari pakaiannya yang masih mengenakan kemeja sebelum menggantinya dengan kaus dan celana olahraga.

Tempat gym langganan Johnatan tidak membedakan gender. Di sini cowok maupun cewek dapat bebas berolahraga. Di lantai satu terdapat restoran dengan menu healty food. Lantai dua untuk fitness, sedangkan lantai tiga biasa digunakan untuk senam aerobik, zumba, dan yoga.

Kebetulan jam olahraganya pasti bertepatan dengan jadwal zumba. Jadi wajar saja jika banyak cewek berlalu-lalang menuju ke lantai tiga. Bagi beberapa cowok, keadaan ini sungguh menghibur. Saat tubuh sedang letih setelah berolahraga, langsung disuguhi pemandangan cewek-cewek cantik. Bahkan Yudha pernah memaksa ikut ke tempat gym hanya untuk melihat pemandangan itu.

Sebenarnya bukan Yudha saja yang seperti itu. Mungkin hampir semua cowok diam-diam merencanakannya juga. Kecuali Johanatan.

Akan terdengar munafik, tapi Johnatan memang tidak pernah memiliki niat lain ke tempat gym selain berolahraga. Yah, maksudnya buat apa dia membayar mahal-mahal jika cuma untuk cuci mata?

Toh, biasanya di sampingnya sudah ada cewek cantik yang bisa dia pandang setiap hari meski belum juga bisa dimiliki.

"John?"

Panggilan itu membuat Johnatan sontak menoleh. Kedua matanya terbelalak kaget mengenali siapa orang yang baru saja menyapanya. "Lisa?"

TEMAN TAPI NGAREPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang