Chapter 29-Heart Beat

1.6K 368 47
                                        

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.






"Perfect," gumam Johnatan.

Veronica memejamkan mata, menahan umpatan yang sudah mengantri di ujung bibirnya. Emosinya semakin meluap saat melihat Johnatan tersenyum lebar. Sama sekali tidak ada ekspresi penyesalan di sana. Bahkan cowok itu tampak sangat excited. Sepertinya dia memang sudah merencanakan ini jauh sebelum Veronica menyetujui ajakannya untuk makan siang bersama.

Di luar dugaan, Johnatan mengajaknya makan di Mall Ambarukmo Plaza. Padahal biasanya Johnatan paling anti masuk Mall karena parkirannya tidak praktis. Tapi hari ini tiba-tiba temannya itu berubah pikiran hanya demi semangkuk Beef Curry Udon.

Bodohnya, Veronica mau-mau saja mempercayai Johnatan. Membuatnya terjebak dalam rencana cowok itu. Veronica lengah, dia lupa Johnatan bukan tipe orang yang rela melakukan hal-hal yang tidak disukai hanya demi makanan. Apalagi ini karena mie udon. Mie gendut yang sering Johnatan ejek terlalu lama berendam di dalam air.

"John.."

Johnatan tidak mengindahkan ucapan Veronica. Tanpa ragu cowok itu menggandeng tangannya masuk ke game center yang ada di mall itu.

"John," Veronica berusaha melepaskan genggaman tangan Johnatan. "Gue mau pulang."

"Keburu-buru banget?" Johnatan menaikkan sebelah alis. "Ve, habis makan berat itu badan harus dibuat gerak. Biar makanannya jadi energi bukan lemak."

Veronica menghela napas. "Gue enggak peduli makanan dalem perut gue jadi lemak atau energi. Gue cuma mau pulang."

"Jangan, dong. Nanti kalau lo pulang gue kayak orang hilang main sendirian di game center," protes Johnatan.

"Enggak ada yang peduli sama lo kali. Semuanya pada sibuk main," Veronica memutar bola matanya malas. "Gue balik naik ojek aja."

Veronica hendak mengeluarkan ponselnya dari dalam tas untuk memesan ojek, namun tindakannya dihentikan oleh Johnatan. Cowok itu dengan cekatan merebut ponselnya.

"Hobi bener pesen ojek lo akhir-akhir ini," gerutu Johnatan.

"Naik taxi mahal sayang duit."

"Duit terus yang disayang. Gue kapan?"

"Eh?"

Veronica membelalakkan mata, refleks termundur saat Johnatan hendak kembali merangkul pundaknya. Tindakannya itu membuat Veronica nyaris menabrak anak kecil yang lewat di sampingnya. Untungnya Johnatan dengan cekatan menarik tangannya.

Seketika tubuh Veronica menegang, jantungnya berdebar kencang. Bukan karena kecelakaan yang nyaris terjadi, melainkan karena tubuhnya kini berada sangat dengat dengan Johnatan. Dalam jarak sedekat ini dia dapat menghirup aroma parfum maskulin Johnatan. Sudah bertahun-tahun Johantan tidak mengganti parfumnya. Veronica bahkan sampai hapal aromanya.

TEMAN TAPI NGAREPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang