Chapter 27-Rem Atau Gas?

1.6K 376 22
                                        

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Johnatan menepikan motornya di parkiran Burjo Andeska. Dari kejauhan dia sudah dapat melihat sosok Yudha, Juan, dan Jaeffry sedang terlihat serius menatap ponsel masing-masing, sepertinya mereka sedang bermain game. Johnatan tersenyum geli. Pasti ketiga temannya itu bosan menunggunya yang telat satu jam dari waktu yang telah dijanjikan.

Bukan tanpa alasan Johnatan terlambat sampai satu jam. Sebelum datang kemari ada urusan yang harus dia selesaikan terlebih dahulu. Namun, diperjalanan tadi tiba-tiba gerimis, membuat pakaiannya basah dan tidak nyaman. Karena itulah setelah menyelesaikan urusannya, Johnatan memilih kembali dulu ke kos untuk membersihkan tubuhnya.

Barulah setelah itu dia langsung mengendarai motornya menghampiri teman-temannya yang telah jauh lebih dulu sampai di Burjo. Untung saja teman-temannya ini setia kawan, jika tidak mungkin mereka sudah pulang dan meninggalkan Johnatan begitu saja.

Untuk menebus kesalahannya, Johnatan tidak datang dengan tangan kosong. Dia tahu betul cara membuat teman-temannya tidak kesal lagi.

Johnatan meraih totebag berwarna merah yang semula menggantung di sepion motornya sebelum berjalan menghampiri Yudha, Juan, dan Jaeffry.

"Hoi," sapa Johnatan.

Yudha melirik sekilas Johnatan. "Dateng-dateng main hoi, hai, hoi aja lo. Dikira gue simpanse."

"Gue panggil hewan peliharaan aja pake nama," kompor Juan.

Jaeffry meletakkan ponselnya di atas meja, bibirnya melengkungkan senyuman memerhatikan Yudha, Juan, dan Johnatan bergantian. Seperti biasa, Jaeffry lebih senang menikmati keributan daripada ikut terlibat di dalamnya.

"Gue udah nebak lo berdua bakalan sensi kayak cewek lagi PMS. Makanya gue bawain yang manis-manis." Johnatan meletakkan totebag ke atas meja.

Tatapan Yudha dan Juan langsung tertuju pada totebag itu.

Yudha yang semula menampilkan ekspresi ketus seketika berubah ramah. "Eh, kapan sampe lo, John? Udah gue tungguin dari tadi."

"Dih, gampang banget disogok!" Gerutu Juan. Tapi tangan kirinya bergerak meraih totebag Johnatan, membawanya mendekat.

Johnatan mengulurkan tangannya, berjabat tangan akrab pada Jaeffry, Yudha, dan Juan. "Sorry, nunggu lama."

"Lo dari mana, sih?" Tanya Juan.

"Dari rumah tante gue," Johnatan duduk di samping Jaeffry. Tatapannya tertuju pada buku menu, hendak memesan minuman.

"Ngapain?" Yudha memasukkan satu butir kue nastar ke dalam mulut.

TEMAN TAPI NGAREPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang