Chapter 20- Suami Takut Istri

1.7K 381 50
                                        

—Kampus I, Universitas Pemuda Indonesia, Mrican, Yogyakarta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kampus I, Universitas Pemuda Indonesia, Mrican, Yogyakarta




————

Alexander_W : Ve, entar malem jadi? Kalau iya kirim alamat kos, dong. Nanti gue jemput.

————

Veronica refleks menggigit bibirnya saat membaca direct message dari Alex. Ragu untuk membalasnya. Sampai hari ini Veronica memang belum memberikan Alex nomor ponselnya meski cowok itu telah meminta berulang kali. Bukannya kenapa-napa, Veronica memang sulit untuk percaya dengan orang asing. Dia memang ramah, tetapi dia tidak mudah membuka diri. Tidak heran banyak orang menilainya sangat tertutup dan sulit bergaul. Padahal dia hanya lebih berhati-hati saja.

Biasanya, Veronica akan langsung mengabaikan pesan seperti ini. Namun Veronica teringat ucapan Johnatan bahwa selamanya dia tidak dapat bergantung dengan cowok itu. Veronica mulai lelah jika harus makan sendirian di kos karena tidak bisa makan sendirian di tengah keramaian. Biasanya Johnatan selalu ada untuknya. Setiap kali Veronica lapar, dia cukup mengirim pesan pada Johnatan dan masalahnya terselesaikan.

Tapi sekarang semuanya tidak lagi sama. Sudah masuk hari ketiga Veronica tidak berbicara dengan Johnatan. Begitu juga sebaliknya, Johnatan sama sekali tidak berusaha membuka percakapan dengannya. Sekarang kalau ada urusan organisasi, Veronica selalu nebeng Juan. Jarak di antaranya dan Johnatan memang cukup jelas, dia yakin teman-temannya juga menyadari itu. Meski tidak ada satu pun yang berani berkomentar.

Johnatan sudah punya Alisa. Veronica tidak boleh mengganggu hubungan orang lain. Itu adalah fakta yang berusaha Veronica tekankan dalam kepalanya. Maka, dia memutuskan untuk keluar dari zona nyaman. Belajar untuk terbuka dengan orang lain meski ini bukan sesuatu yang dia sukai.

"Delapan belas, sembilan belas, dua puluh.." Nabilla menghitung jumlah nama yang telah terdaftar di tabel excel di layar laptopnya. Nama-nama itu adalah mahasiswa yang telah membeli tiket konser amal.

"Itu termasuk banyak atau sedikit?" Tanya Fani.

Nabilla menggeleng. "Enggak tahu. Tapi, fans Kak Hera banyak, loh. Apalagi dari tadi belum ada chat masuk juga dari kampus sebelah. Padahal semalem katanya Kak Do sama yang lain udah  nempelin poster di kampus kita sama kampus dua."

Percakapan Nabilla dan Fani mencuri perhatian Veronica.

Sabtu kemarin mereka sudah berunding memikirkan cara untuk mulai promosi dan mencari sponsor. Terbesitlah ide untuk membuka stan tiket dan juga menempelkan poster pada mading kampus, juga papan acara di depan ruang kelas. Papan itu memang disediakan untuk event mulai dari seminar, lowongan kerja sambilan, dan info lainnya.

TEMAN TAPI NGAREPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang