Teman tapi ngarep, begitulah peran Johnatan dalam hubungan persahabatannya dengan Veronica. Johnatan mencintai Veronica dalam diam, rela menjadi tempat curhat tanpa dibayar, dan ruang peristirahatan tanpa benar-benar disinggahi.
Meskipun sering pat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•
•
"Jis, cutter gue mana?" Tanya Fani.
"Terakhir dibawa Chandra," Jisabian menoleh ke kanan dan ke kiri. "Lah, anaknya ke mana?"
"Lagi di dapur sama Nana," Jeno menyahut tanpa menoleh. Kedua tangannya fokus melipat koran yang sudah dipotong persegi oleh Fani.
"Tolong ambilin, dong, Jis. Mau gue pake," pinta Fani pada Jisabian.
Jisabian mengangguk patuh. Tanpa banyak bicara dia langsung berjalan menuju dapur. Menghampiri Chandra dan Najendra.
"Di antara temen-temen Chandra, Jisabian yang paling kalem," komentar Veronica.
Nabilla mengerutkan kening. "Mereka semua sebenernya sama kayak Chandra, Kak. Tapi kalau dibandingin memang dia yang paling mending, sih."
"Masa, sih?" Veronica terkekeh. "Mungkin karena gue jarang lihat tingkah mereka yang aneh-aneh, yah. Tuh, sejarang Jeno lagi manis banget."
Fani dan Nabilla refleks menoleh, memerhatikan Jeno yang sedang konsentrasi melipat koran menjadi kupu-kupu. Pemandangan itu sangat kontras dengan Lucas, Jaeffry, Markus, Juan, Arjune, Yudha, dan Johnatan.
Masing-masing dari mereka membawa selembar koran yang sudah dipotong persegi dalam keadaan kusut. Terlihat sekali mereka berusaha melipat koran itu menjadi kupu-kupu meski belum berhasil juga. Untung saja di antara mereka masih ada Dominic, Leo, Winston, Rendi, Theo, Kasteen, dan Tama yang cukup pandai melipat. Meringankan pekerjaan Veronica, Nabilla, dan Fani.
Hari ini mereka kembali berkumpul di apartemen Leo untuk diskusi tentang perkembangan proker masing-masing Divisi dan juga mulai mengerjakan dekorasi panggung.
Untuk mengurangi budget, mereka memilih koran bekas sebagai bahan dasar untuk membuat dekorasi. Koran tersebut akan dipotong persegi sebelum dilipat menjadi kupu-kupu. Setelah dilipat menjadi kupu-kupu, baru dipilok dengan warna emas sebelum ditempel ke sehelai benang. Nantinya hiasan itu akan digantung di tiang panggung agar terlihat menggantung di udara.
Ide ini muncul dari otak Fani yang kebetulan pernah ujian praktek membuat kerajinan dengan barang bekas. Niatnya mereka juga akan menggunakan botol bekas untuk dijadikan lampion. Masalahnya acara berlangsung malam hari. Lampion itu tidak akan menonjol jika tidak dihiasi dengan lampu. Sedangkan harga satu bola lampu cukup untuk membeli beberapa benang.
"Thank you," Fani meraih cutter yang dibawakan Jisabian. "Chandra sama Nana lagi apa, sih?"
Jisabian kembali duduk di samping Jeno. "Lagi nyeduh kopi."