Teman tapi ngarep, begitulah peran Johnatan dalam hubungan persahabatannya dengan Veronica. Johnatan mencintai Veronica dalam diam, rela menjadi tempat curhat tanpa dibayar, dan ruang peristirahatan tanpa benar-benar disinggahi.
Meskipun sering pat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•
•
Johnatan menepikan motor di parkiran. Setelah memastikan motornya terparkir dengan baik, dia segera melepaskan helm. Tangan kanan Johnatan terulur, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan karena mengenakan helm.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, itu artinya dia masih memiliki waktu sekitar setengah jam sebelum kelas dimulai. Kebetulan hari ini Johnatan hanya ada kelas sesi tiga dan empat. Hari yang paling menyenangkan untuknya karena dia jadi bisa bangun jam sembilan pagi. Walau tubuhnya tetap terasa lelah karena akhir-akhir ini dia baru bisa tidur pukul empat pagi.
Johnatan melangkahkan kaki melewati lobi utama. Di sana ada beberapa mahasiswa yang sedang duduk-duduk menunggu kelas berikutnya. Ada juga di antara mereka yang sibuk menawarkan dagangan, sekali melihat saja dapat ditebak mereka adalah pejuang USDA alias usaha dana organisasi.
Awalnya Johnatan tidak merasa ada yang aneh dengan pemandangan itu. Namun, lama-kelamaan dia mulai merasa ada yang aneh. Kening Johnatan berkerut dalam, merasa sejak tadi ada saja mata yang memerhatikannya. Bukannya sok ganteng, tapi dia yakin orang-orang memang sedang melihat ke arahnya, bahkan banyak di antar mereka berbisik-bisik seperti sedang membicarakannya.
Johnatan jadi nething. Apa jangan-jangan ada cabai menyelip di giginya? Tapi tidak mungkin karena dia bahkan belum sarapan apa pun sejak bangun tidur tadi. Waktu bercermin di sepion juga wajahnya oke-oke saja. Tidak ada yang aneh.
Saat melihat Jeno, Chandra, Jisabian, Najendra, sedang berkumpul di gazebo, tanpa pikir panjang Johnatan langsung menghampiri mereka.
"Ada apa, nih?" Tanya Johnatan tanpa basa-basi.
Jisabian menaikkan kedua alisnya. "Bang John belum tahu?"
"Tahu apa?" Johnatan mengerutkan kening. "Gue baru aja dateng ke kampus."
"Enggak baca grup, Bang?" Jeno menyahut, "Tadi pagi Bang Theo ada kirim foto."
"Ohiya?" Johnatan segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas ransel. "Gue belum buka handphone. Tadi cuma sempet matiin alarm."
"Daripada lihat dari handphone mendingan langsung aja, Bang. Tuh, lihat di mading ada apa," kata Najendra.
"Mading?"
Chandra bangkit berdiri, tanpa izin menggamit tangan Johnatan. "Sini gue temenin, Bang. Biar enggak plonga-plongo lagi."
Johnatan tidak tahu harus senang atau kesal mendengar ucapan Chandra. Tetapi karena sedang kebingungan dia memilih diam, patuh dengan Chandra yang terus menarik tangannya menuju mading kampus yang berada di depan ruangan TU.
Di sana ternyata sudah ada Tama dan Jaeffry yang tampak sangat fokus melihat mading.
"Gue lihat tegang bener muka-muka lo pada," Johnatan terkekeh.