"Ini mana yang mau dipilok?" Tanya Jeno.
"Semua yang ada di dalem kardus," Fani berlari kecil menghampiri empat kotak kardus yang berada di samping sofa. "Satu kotak dulu aja, deh. Keringnya agak lama soalnya."
Jisabian mengamati kupu-kupu kertas—yang telah mereka buat sebelumnya—dari dalam kardus. "Langsung disemprot semuanya atau satu-satu?"
"Agak banyak enggak papa. Digerai di atas kertas koran atau apalah biar enggak ngotorin lantai," kata Nabilla.
"Mendingan di luar aja enggak, sih?" Najendra mengocok kaleng pilox berwarna emas. "Baunya nyengat."
"Iya di luar aja," Rendi menunjuk tumpukan koran di atas meja. "Chan, tolong ambilin koran lima lembar."
Chandra mengangguk. "Oke."
"Yakin aman cuma pake alas koran?" Juan menatap ragu. "Kalau tiba-tiba tembus mampus banget. Udah numpang apartemen Leo, masa harus ngotorin juga?"
"Definisi enggak tahu diri kalau sampe kejadian," celetuk Markus.
"Kayaknya di gudang masih ada plastik besar. Bentar gue ambilin." Leo bangkit berdiri hendak menghampiri gudang apartemennya.
"Gudang?" Jisabian ikut bangkit berdiri menyusul Leo. "Ada di mana?"
"Samping dapur," jawab Leo.
"Si kecil dengan segala keingintahuannya." Veronica terkekeh melihat Jisabian mengekori Leo dengan ekspresi berbinar selayaknya anak kucing yang sedang penasaran.
Hera—yang duduk di samping Veronica—menoleh. "Suka anak kecil, Ve?"
Veronica sedikit terkejut karena Hera tiba-tiba mengajaknya bicara. Selama ini mereka tidak pernah terlibat obrolan selain topik yang berkaitan dengan project organisasi.
Seperti dugaannya, Hera memang sangat tertutup. Meski ramah dia terlihat hati-hati dalam berteman. Kedatangan Hera di apartemen Leo hari ini saja membuat gempar anggota lain termasuk Jaeffry. Bahkan Hera bersedia membantu membuat dekorasi untuk panggung nanti. Benar-benar sebuah keajaiban.
"Banget," Veronica tersenyum. "Gue dari dulu pingin punya adik cowok. Tapi takdirnya jadi anak tunggal."
"Padahal enakan jadi anak tunggal. Semua perhatian dari orangtua buat lo seutuhnya," ujar Hera.
Veronica menaikkan sebelah alis. "Lo pasti punya adik, ya?"
"Ada satu," Hera menggulung sisa kertas marmer metalik—untuk dekorasi banner—dengan kedua jari telunjuknya. "Belum pernah ketemu langsung, sih."
Mendengar jawaban Hera, Veronica langsung terdiam. Banyak pertanyaan dan dugaan langsung muncul di benaknya, namun tidak ada satu pun yang berani dia utarakan. Veronica takut salah bicara karena sepertinya ini termasuk topik sensitif.
"Bingung, ya? Wajar, gue aja bingung. Intinya kita berdua belum pernah ketemu sama sekali," Hera terkekeh.
Veronica menggigit bibirnya. "Tapi pernah kontakan?"
"Enggak pernah. Orang dia aja enggak tahu kalau punya kakak," Hera mengedikkan bahu. "Rugi banget dia enggak tahu punya kakak keren kayak gue. Vokalis band, banyak fans, mandiri, naik Moge pula."
Jika orang lain mendengar ucapan Hera, pasti mereka akan menilainya sombong. Hera memang sering besar mulut membanggakan dirinya sendiri. Tapi justru itulah yang membuat Veronica menganggap Hera salah satu cewek terkeren yang pernah dia temui. Sebelum mengenal Hera saja dia sering mengagumi penampilan cewek itu. Dan sekarang setelah berbicara secara langsung, Veronica semakin dibuat kagum.
KAMU SEDANG MEMBACA
TEMAN TAPI NGAREP
JugendliteraturTeman tapi ngarep, begitulah peran Johnatan dalam hubungan persahabatannya dengan Veronica. Johnatan mencintai Veronica dalam diam, rela menjadi tempat curhat tanpa dibayar, dan ruang peristirahatan tanpa benar-benar disinggahi. Meskipun sering pat...
