Chapter 22-Belum Rela

1.6K 345 15
                                        

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Seseorang pernah berkata 'Stop looking for happiness in the same place you lost it'. Berhenti mencari kebahagiaan di tempat yang sama kamu harus kehilangannya.

Dulu, teman Johnatan pernah curhat padanya terkait masalah ini. Temannya sedang terikat dalam relationship yang toxic. Bertahan tidak juga membuatnya merasa bahagia, namun pergi bukan pilihan yang mudah. Saat itu, Johnatan menyarankan temannya untuk mengakhiri hubungan.

Karena menurutnya pasangan yang tepat pasti akan memberikan kebahagiaan dalam sebuah hubungan. Jika kehadirannya hanya menciptakan luka, mungkin ada yang salah di sana. Entah waktu yang kurang tepat atau dia adalah orang yang tepat untuk kisah yang lain.

Tapi setelah mengalaminya sendiri, Johnatan merasa bodoh dengan jawabannya saat itu. Mudah sekali dia memberi saran untuk berpisah. Apalagi temannya itu sudah menjalin hubungan selama tiga tahun.

Sepertinya Johnatan termakan ucapannya sendiri. Sekarang dia harus menjauh dari seseorang yang bahkan belum sempat dia miliki. Parahnya, sejauh apa pun dia berusaha pergi, bayangan Veronica tidak pernah pergi dari benaknya. Semua kenangan berputar di kepalanya dengan sangat jelas.

Memori itu muncul setiap kali Johnatan tidak sengaja melalui tempat-tempat yang sering dia kunjungi bersama Veronica.

Mulai dari jalan menuju kos Veronica, iklan di lampu lalu lintas, balon menari di depan toko besi, juga warung penjual makanan kiloan rekomendasi Veronica.

Entah ini sebuah kutukan atau bukan, yang jelas Johnatan sedikit menyesal menyadari dirinya dan Veronica sangat senang explore cafe di Jogja. Alhasil, sekarang saat Alisa mengajaknya melanjutkan mengerjakan skripsi di cafe, Johnatan malah jadi teringat hal-hal lain.

Tadinya Johnatan dan Alisa mengerjakan skripsi di perpustakaan. Sayangnya perpustakaan tutup pukul tiga sore. Berhubung Johnatan tidak bisa konsentrasi jika mengerjakan di kamar kos—karena kalau tubuhnya sudah menyentuh kasur dia akan menjadi pemalas—dia menyetujui ajakan Alisa.

Eh, tidak tahunya Alisa merekomendasikan cafe yang paling sering Johnatan kunjungi dengan Veronica. Sungguh sebuah kebetulan yang menyebalkan untuknya.

Johnatan sengaja memilih meja yang berbeda saat dia mengunjungi tempat ini bersama Veronica. Berharap usahanya dapat sedikit mengurangi bayang-bayang masa lalunya.

Sayangnya, semakin Johnatan berusaha semakin gencar memori mempermainkannya. Johnatan menyandarkan punggungnya di kursi, kedua matanya terpejam. Tiba-tiba dia teringat kejadian saat masih duduk di bangku SMA dulu. Tepatnya ketika Veronica dengan ganas memukul wajah seorang murid cowok karena ketahuan mengintip WC wanita.

Ini akan terdengar konyol. Tapi jika diingat kembali, sepertinya kejadian itu merupakan asal mula Johnatan jatuh cinta pada Veronica.

Sebelumnya mereka memang sudah akrab. Tetapi bagi Johnatan, Veronica hanya teman sekelas yang seru. Sama sekali belum ada ketertarikan lebih. Dan sejak kejadian itu, Johnatan tanpa sadar mulai memerhatikan Veronica dalam sudut pandang yang berbeda. Dan entah sejak kapan, Veronica menjadi sosok perempuan paling menarik di mata Johnatan.

TEMAN TAPI NGAREPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang