Teman tapi ngarep, begitulah peran Johnatan dalam hubungan persahabatannya dengan Veronica. Johnatan mencintai Veronica dalam diam, rela menjadi tempat curhat tanpa dibayar, dan ruang peristirahatan tanpa benar-benar disinggahi.
Meskipun sering pat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—Studio Band Cool Kids Never Sleep
•
•
Di mana kamu? Apakah kau rindu? Sungguh susah buat lupa Hati tak bisa berdusta~
Walau kutahu Kau bukan untukku Tapi tetap kau terindah Cinta tak salah Aku yang salah~
Hera, Rendi dan Chandra bersenandung pelan menyanyikan lirik lagu berjudul Aku Yang Salah milik Mahalini dan Nuca. Untuk menambah suasana sendu, Najendra mulai memetik senar gitarnya. Memberikan nada-nada akustik yang semakin menghidupkan suasana.
Sore tadi Theo tiba-tiba mengabari di grup, meminta semua anggota untuk berkumpul karena akan ada rapat dadakan. Berhubung hari ini band ada latihan, mereka memutuskan untuk berkumpul di studio.
Untungnya studio Hera memiliki ruang tamu yang cukup luas. Setidaknya mampu menampung delapan belas laki-laki bongsor dan empat perempuan tanpa harus berdesak-desakkan dan kepanasan karena ruangan ini dilengkapi AC.
Selagi menunggu anggota lain datang, Hera mengajak Rendi untuk berlatih duet dengannya daripada membuang waktu latihan mereka. Karena terbawa suasana, Chandra tiba-tiba ikut nimbrung.
"Temen lo lagaknya kayak lagi patah hati aja, tuh." Komentar Juan membuat Jeno terkekeh.
"Si Chandra memang lagi patah hati beneran, Bang." Kata Jisabian.
Tama menaikkan kedua alisnya. "Patah hati sama siapa?"
"Memang Chandra ada cewek?" Tanya Yudha.
"Jangan dianggep serius, Bang. Nanti nyesel," ujar Jeno.
Leo menggeleng. "Dia galau karena Sizuka akhirnya nikah sama Nobita."
Mendengar itu Yudha dan Tama spontan mengumpat.
Chandra—yang merasa sedang dibicarakan—menoleh. "Patah hati gue. Kalau dilihat-lihat apa bagusnya Nobita dibanding gue?"
"Sadar enggak kalau cita-cita Nobita dari dulu cuma nikah sama Sizuka. Akhirnya cita-citanya bisa diraih juga," Juan tersenyum. "Sama kayak Dominic."
Dominic mengerutkan kening. "Kenapa jadi gue?"
"Lo lupa siapa yang kasih lo ide waktu project layang-layang kemarin—hmpft!" Juan membelalakkan mata kaget saat Dominic langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangan.