"Dudidudi dam dam dudidudi dam~"
Chandra bersenandung pelan, berusaha memecah keheningan yang terasa ganjil. Padahal semua anggota Organisasi PERMAMSA sedang berkumpul di gazebo, menunggu Theo berbicara dengan Pak Hengky di ruang dekan.
Kecanggungan ini terjadi karena onkum bernama Johnatan dan Veronica yang tiba-tiba saja terlihat social distancing. Biasanya kedua orang ini ke mana-mana selalu berdua. Bahkan duduk saja sering bersebelahan. Tapi hari ini, teman-temannya yang lain menemukan Johnatan dan Veronica duduk di kursi gazebo yang berbeda. Terlebih, keduanya saling mendiamkan satu sama lain. Johnatan sibuk bermain game di ponselnya, sedangkan Veronica fokus membaca buku.
Orang yang pertama kali menyadari kecanggungan itu adalah Jisabian. Karena di antara temannya, dia yang pertama kali sampai di gazebo. Melihat langsung dengan mata kepala sendiri saat Johnatan dan Veronica tidak saling menyapa dan langsung duduk memisah. Jisabian yang kebetulan duduk di antara meja Johnatan dan Veronica hanya bisa bungkam. Menunggu teman-temannya yang lain menyusulnya.
Di antara semua anggota, hanya Juan, Jaeffry, dan Yudha yang tidak terlihat kebingungan. Sisanya bereaksi sama seperti Jisabian. Antara bingung dan canggung bercampur menjadi satu.
Demi mengurangi ketegangan, Nabilla dan Fani duduk bersama Veronica. Sesekali mereka berdua berusaha mengajak Veronica bicara, memastikan bahwa cewek itu diam bukan karena sedang marah. Untungnya reaksi Veronica biasa saja, tidak ada ekspresi kesal seperti dugaan mereka sebelumnya.
Sedangkan di sisi lain, Juan, Yudha, dan Jaeffry duduk di damping Johnatan. Berbeda dengan Nabilla dan Fani, mereka bertiga hanya diam. Sama sekali tidak berusaha mengajak Johnatan bicara.
Chandra, Jeno, Jisabian, Najendra, Rendi, Leo, Lucas, Markus, Arjune, dan Kasteen yang tidak tahu menahu apa pun memilih untuk memisahkan diri. Tidak ingin ikut campur masalah kakak tingkatnya.
Hanya Dominic dan Tama yang sepertinya tidak terlalu memusingkan kecanggungan itu. Mereka berdua lebih excited menunggu kabar dari Theo. Berharap ada berita baik saat cowok itu keluar dari ruangan nanti.
Yudha dan Juan saling bertukar pandang. Mulai jengah dengan suasana seperti ini. Sebenarnya tidak masalah jika Johnatan dan Veronica memang sedang ingin jaga jarak. Bagaimana pun itu adalah urusan privasi mereka. Tapi yang jadi masalah adalah jika kecanggungan ini berlangsung setiap hari. Padahal di luar organisasi mereka masih satu squad yang otomatis akan sering bertemu.
"Mendung banget," Yudha mendongakkan kepala, menatap langit sore. "Gara-gara Juan, nih. Udah gue bilang jangan ditinggal kemarin."
"Kalau ada gue di sana kayaknya sekarang bukan mendung lagi tapi hujan badai," bantah Juan, "Lagian gue pikir bakalan ada yang berubah, enggak tahunya malah makin runyam."
Ucapan Juan membuat Johnatan langsung menghentikan kegiatannya. Tiba-tiba dia teringat ada sesuatu hal yang harus Juan jelaskan padanya.
Johnatan meletakkan ponselnya di atas meja. "Ju, lo enggak merasa punya hutang penjelasan sama gue?"
Juan—yang semula sedang menguap lebar—seketika bungkam. Mimik wajahnya berubah tegang seperti anak kecil yang baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan.
"Eh, penjelasan apa?" Juan tersenyum kaku.
"Hutang?" Yudha mengerutkan kening. "Gue ketinggalan berita apalagi, nih?"
Jaeffry menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menyimak.
"Jangan buat gue ulang pertanyaan dua kali," Johnatan memijat pelipisnya. "Gue tahu lo paham."
KAMU SEDANG MEMBACA
TEMAN TAPI NGAREP
Novela JuvenilTeman tapi ngarep, begitulah peran Johnatan dalam hubungan persahabatannya dengan Veronica. Johnatan mencintai Veronica dalam diam, rela menjadi tempat curhat tanpa dibayar, dan ruang peristirahatan tanpa benar-benar disinggahi. Meskipun sering pat...
