12. Value of experience

536 125 9
                                        

Changbin menyesap es tebu yang sudah dibuat oleh Kakek dan temannya; Paman bima, kali ini mereka duduk di sebuah gubuk kecil tidak jauh dari balai

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Changbin menyesap es tebu yang sudah dibuat oleh Kakek dan temannya; Paman bima, kali ini mereka duduk di sebuah gubuk kecil tidak jauh dari balai.

Terik matahari rasanya membakar semangat orang-orang hari ini, kecuali Leo.

Ia mengibaskan kaosnya merasakan kegerahan usai giring bebek tadi, tapi Felix yang sedari tadi tidak dapat diam bersama Hasnan itu menarik perhatiannya. Terkadang topi jeraminya terkadang nyaris ikut terbang terbawa angin siang.

"Gimana rasanya abis coba giring bebek?"

Changbin yang ditanyai hanya terdiam, memikirkan jawaban yang tepat.

"Pengalaman baru yang random sebenernya, agak kesusahan di awal.."

Kakek di samping ketawa keras, "Susah ya? Dulu kakek awal punya bebek juga gitu, karena gak kuat pelihara akhirnya kakek jual semua ke paman Bima!"

Gue juga gak kuat... Batin Changbin.

Paman Bima ikut tertawa, "Hahaha, emang susah kalau gak dicoba. Kalau udah dicoba pasti seneng, tergantung niat juga."

Pundak Changbin ditepuk, "Jangan kapok ya bin, anggep aja pengalaman."

Changbin bingung mau setuju apa tidak setuju, cukup sekali saja menggiring bebek karena ternyata secapek ini

Padahal sedari tadi saat menggiring bebek, ia mendumal kesal. Bahkan sampai sumpah serapah kebun binatang ia sebut di dalam hati saking kesalnya.

Big respect untuk para peternak bebek di luar sana, pikirnya.

Mending menggiring bebek sih daripada menggiring opini, Changbin sering lihat orang-orang seperti ini.

"Apapun yang kelihatan sepele, suka atau gak suka jadiin pengalaman buat belajar ya bin."

Changbin memandangi kedua orang tua di dekatnya, bingung.

"Iya."

Pemandangan sederhana, duduk bersama orang yang berbeda umur dan telah melewati berbagai hal di dalam hidup mereka sambil duduk di gubuk.

Peluhnya mengalir karena terik, tapi senyumnya sama sekali tidak luntur. Asik membicarakan banyak hal, termasuk pengalaman di berbagai pekerjaan yang pernah dilakukan.

Berbeda sekali dengan ayahnya, setiap pulang dari kerja pasti wajahnya terlihat lesu.

Orang dewasa sulit dimengerti, kenapa yang kerjanya nyaman justru memasang muka lebih masam?

🎨

"Dadah kak Leo!" Felix melambaikan tangannya kemudian mengekor Hasnan untuk berangkat les.

"Oh, iya.. hati-hati lo berdua."

Tepat setelah itu tungkai Changbin memasuki halaman rumah Lino.

Palette [Changlix]Stories to obsess over. Discover now