19. Si Muralis dan Si Pengacau

273 49 5
                                        

Ruangan serba putih, tirai hijau yang bergelantungan, suara air conditioner yang tadinya mengisi keheningan kini diisi suara Felix yang menggerutu sebal

Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.

Ruangan serba putih, tirai hijau yang bergelantungan, suara air conditioner yang tadinya mengisi keheningan kini diisi suara Felix yang menggerutu sebal.

Bahu kanan Felix digerakkan dengan gerakan berputar, "Serius padahal aku pijet aja bakal sembuh kok!!! Pake dibawa ke rumah sakit." seru Felix berteriak tepat di telinga Hasnan di sampingnya sampai ia harus menutup telinganya sendiri.

Lantas dengan cepat Hasnan berusaha meniupkan tangannya yang sudah dikepalkan lalu ditempelkan ke telinganya sendiri, alternatif supaya tidak budeg.

"Nggak nggak, nggak! Lo itu tanggung jawab gue juga, kak Christ mempercayakan semuanya ke gue!" semprotnya.

"Oh, sama biar dokter Vero tahu sih lo abis ngapain." tambah Hasnan lagi kali ini menyeringai menatap ke arah Dokter muda di depan keduanya.

"Bener Hasnan, pinter." sahut Dokter Vero usai mendengar ucapan Hasnan sambil membuka tirai, ia kira hari ini akan ada pasien lain yang datang.

Ternyata, Felix.

"Cih," Felix melipat kedua tangannya sembari cemberut, tidak lupa menghempaskan badannya ke senderan kursi.

Sebelum kesini, Hasnan mati-matian membujuk yang lebih muda untuk mengikutinya. Mengingat kemarin ia mendapati Felix yang memekik kecil saat bahunya ditarik. Dokter Vero sudah hafal betul saat suster Maria bilang 'Ada yang cari', maka kemungkinan lima puluh persen orang itu adalah Felix.

Lalu swalaa, benar.

Dapat ia tangkap sosok kecil cengar-cengir itu melambaikan tangan mungilnya dari jauh di depan pintu dengan muka penuh tempelan plester luka warna-warni yang sudah jadi favorit anak itu sedari dulu.

Dokter Vero mengambil stetoskop yang sudah menemaninya dari jaman koas dari tangan Felix yang mulai usil, kemudian ia letakkan di meja. Meletakkan semua atensi pada Felix sepenuhnya melalui kedua matanya yang tegas dari balik kacamata yang bertengger di tulang hidung mancung itu, bayangan Felix yang ekspresif semuanya terekam jelas ke dalam sorot mata kelam sang Dokter.

Lalu ia berucap, "Padahal hari ini saya ada janji, tapi terpaksa harus ditunda gara-gara kamu dateng loh. Kamu hobi ya jadi pasien rutin saya?"

Tidak dijawab melainkan hanya suara tawa ringan, "Hehehehe." sambil memainkan pena mahal milik dokter Vero lantaran stetoskop tadi diambil darinya, "Tapi kan emang jarang kesini sebagai pasien!"

"Kamu abis berantem sama siapa lagi? Dateng-dateng mukanya kayak ondel-ondel gitu."

Mendengar itu mimik wajah Felix yang cengar-cengir berubah.

"Aku gak berantem kok, tanya Hasnan deh."

Hasnan mengangguk, "Iya dok katanya abis memberantas kejahatan kok, bukan berantem. Eeeeh tapi dia sih yang diberantas." Sarkasnya.

"Wooooy!" dumal Felix menyikut perut Hasnan, sampai yang disikut bersuara 'Ohok' menahan sakit, "Aku ngalah, bukan kalah. Jagoan mah gak perlu menang, ngalah tuh juga menang."

Palette [Changlix]La tua prossima ossessione. Scoprilo ora