30. Make up, Talk, Surprise

157 32 0
                                        

Setelah kejadian yang berlangsung hari itu, hari selanjutnya rumah seperti sedang dirundung atmosfer yang asing

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Setelah kejadian yang berlangsung hari itu, hari selanjutnya rumah seperti sedang dirundung atmosfer yang asing.

Atmosfer dimana semua orang tidak berbicara, bahkan berbicara seadanya.

Changbin hari ini bangun siang, tidak ada niat untuk turun dan menyapa teman-temannya. Ia tahu orang di bawah sudah bangun, bahkan tadi pagi sayup-sayup sempat mendengar suara Felix yang entah sudah datang sejak kapan. Tapi sepertinya anak itu pergi lagi untuk sekolah.

Sekarang jam sepuluh dan ia lagi-lagi hanya menatap langit-langit kamar seolah ada hal menarik yang sedang diperhatikan, dari ujung jendela sana ada sinar matahari berusaha menembus ke kamarnya namun tidak berhasil.

Dinding-dinding rumah yang terbuat dari kayu itu membuat Changbin sedikit mudah untuk mendengarkan percakapan yang sedang terjadi, begitupun dengan Han yang saat ini sedang memberi banyak masukan kepada Lino untuk berbicara dengannya.

Walaupun samar-samar, ia tahu Lino tetap menjadi orang dewasa yang akan berusaha untuk mendekatinya nanti. Untuk memperbaiki dan menjelaskan keadaannya.

Meski setelah itu, ia tidak mendengar apa-apa lagi.

Sebenarnya ada perasaan yang membuatnya merasa seperti ditelanjangi dan diejek oleh sisinya yang lain, bagaimana masih tidak dewasanya ia dalam memecahkan masalah. Ia hanya akan menjadi orang yang pergi, menghilang, dan mengucilkan semua orang karena merasa tidak diperlakukan dengan adil.

Apa semua ini karena kebiasaannya ketika menghadapi masalahnya selama ia hidup? Apa faktor ini terjadi karena berbagai masalah yang masih belum selesai dengan dirinya dan keluarganya sendiri-sehingga ia lagi-lagi membuat orang lain tidak nyaman?

Jawaban itu tidak kunjung datang meski ditunggu, karena jawaban hanya akan muncul saat dicari.

Dengan tungkai yang ia bawa ke bawah, akhirnya ia pergi sekedar untuk mandi, melakukan aktivitas lain seperti biasa dengan keadaan saling diam. Begitupun Lino yang terlihat sedang ragu-ragu untuk menyapa.

Tau, gimana Han yang lihat?

Kesal.

Perang dingin tidak akan selesai kalau tidak ada yang mengalah, terlebih ia juga terlalu capek buat menjadi jembatan komunikasi untuk kesekian kalinya bagi Changbin.

Maka dengan langkah cepat, Han meninggalkan lantai satu. Menyusul Changbin yang kali ini sedang mengusak rambutnya usai mandi. Gurat alisnya menukik, terlampau geram.

Dengan melipat tangan, Han hanya memperhatikan dalam diam.

"Apa?" kata Changbin singkat.

Mendengar itu, emosi Han yang meletup-letup tadi menghilang. Sisa helaan nafas panjang.

"Mau diem-dieman sampe kapan?" tanyanya.

Changbin menoleh, menatap Han lamat.

"Sampe dia sadar dia udah ngapain."

Palette [Changlix]Stories to obsess over. Discover now