"You're my color and I'm your masterpiece."
Perihal Changbin kepada lukisannya dan belajar menjadi diri sendiri melalui laki-laki yang ia temui bernama Felix.
Genre: bxb, slice of life, fluff, comedy, romance, and drama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat seseorang putuskan untuk melakukan sesuatu dengan kuasnya, saat ia pun mulai menorehkan warna, saat itu juga ia tidak bisa mundur.
Saat seseorang memulai tekadnya untuk yakin melukiskan sesuatu di atas canvas, saat itu juga ia harus yakin bahwa karyanya akan berjalan lancar sampai akhir.
Lebih tepatnya semua media lukis.
Yakin.
Jika dokter melaksanakan operasi dan harus berjalan sekitar empat jam, dan bahkan bisa lebih lama dari itu, maka seorang seniman juga memiliki waktu bisa lebih dari sehari untuk bisa mempertahankan daya imajinasinya.
Dokter harus siap menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi di dalam ruang operasi, dan hasil akhirnya. Begitu pula dengan seorang pelukis yang harus siap menghadapi proses dan hasil akhirnya.
Lebih tepatnya, hasil akhir yang memuaskan.
Changbin tidak mengatakan bahwa dokter dan pelukis sama, tapi ia tahu beban dalam mengemban sesuatu pasti dimiliki setiap individu pada umumnya.
Ketakutan.
Kecemasan.
Kegagalan.
Gagal, Changbin sering dengar kalimat itu. Bahkan dari Ayahnya sendiri menyuruhnya untuk mundur dan tinggalkan mimpi bodohnya.
Mimpi dan tujuan hidup seseorang itu bukan kebodohan.
Changbin adalah perfeksionis. Satu saja tarikan garisnya timpang, maka ia akan mengulanginya dari nol.
Satu saja, kesalahan di dalam lukisannya maka ia merasa tidak puas.
'Gapapa itu udah bagus' menurutnya kadang adalah omong kosong. Karena mereka tidak melihat sesuatu yang ia lihat, sesuatu yang buat ia merasakan penyesalan jangka panjang walaupun itu hanya satu tarikan garis yang melenceng.
Ia tahu, gambar bagus atau jelek itu relatif.
Walaupun melukis adalah kebebasan berekspresi, tapi ia juga harus ingat untuk tidak terlalu meninggalkan konsep yang sudah ia susun rapi di dalam kepalanya.
Satu kesalahan, harus siapkan seribu cara untuk menyamarkan kesalahan itu.
Ia pernah berpikir, apakah ia terlalu berlebihan?
Changbin setidaknya harus memiliki satu waktu dimana ia butuh waktu sendirian untuk fokus mengumpulkan mood-nya. Tentu saja agar yang ia kerjakan berjalan lancar.