29. His past, his present, incoming call

198 32 7
                                        

Changbin lupa kapan terakhir kali ia menyetir mobil dengan tenang, biasanya di saat senggang ia hanya akan menyetir mobil kemanapun sendirian

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Changbin lupa kapan terakhir kali ia menyetir mobil dengan tenang, biasanya di saat senggang ia hanya akan menyetir mobil kemanapun sendirian.

Lari kemanapun asal tidak di rumah.

Dengan dirinya sendiri, tanpa siapapun, tanpa ada yang mengganggunya, tanpa ada yang tahu ketika ia memukul-mukul setir mobil demi melampiaskan perasaan rumitnya dengan dirinya di lampu merah karena merasa payah dengan dirinya sendiri.

Tapi sekarang, ia sedang duduk di bangku supir sebuah Jeep hitam yang lebih terbuka sehingga angin sepoi-sepoi bisa ikut duduk bersamanya sebelum berangkat mengantar seseorang. Menemani perjalanan dengan Om Wira yang saat ini sedang mengucapkan doa-doa baik untuk anaknya yang sedang memperhatikannya dari jauh dalam diam.

Those eyes.

Yes those eyes who trapped Changbin into the unknown place—a beautiful place lebih tepatnya.

Dan setiap mata mereka bertemu Changbin hanya akan memalingkan wajah, kemanapun selain Felix.

Because he always bring me a peaceful glare from afar, an unknown color through his sight, monolog Changbin.

Changbin bahkan bisa mendengar namanya disebut samar-samar oleh Wira, entah sedang membicarakannya apa.

Di perjalanan, keduanya mengobrol sesekali. Melewati jalan-jalan yang lengang, menembus setiap meternya dengan deru mesin mobil jeeo yang gagah. Walaupun lampu merah di sini tidak banyak layaknya di kota, mereka tetap teratur berhenti. Lantaran banyaknya pejalan kaki para petani dan peternak yang berlalu-lalang, sesekali anak-anak kecil yang berlarian pergi untuk bermain.

Tempat yang begitu tenang untuk pikiran yang ramai.

“Jadi, kamu betah gak di sini, Yo?” om Wira bertanya ketika ketika Jari-jemari Changbin mengetuk setir, seolah berpikir.

Betah, kah?

“Lumayan, om.”

Wira mengangguk, “Kalo gak betah juga gapapa, Yo. Om paham kamu pasti sering kesusahan gara-gara Felix.” ia tertawa geli.

“Hahahaha.” ia hanya bisa membalas dengan tawa canggung, kalau boleh jujur memang awalnya kurang betah sih. Nyaris setiap hari ia merasa terganggu karena anak itu.

Di sisi lain, semakin hari kok semakin biasa aja ya? Justru mungkin hari-harinya akan lebih terasa biasa saja kalau tidak ada Felix.

Bagaimana kalau ia tidak pernah bertemu Felix?

Bagaimana kalau Dusun itu tidak ada Felix?

Apakah tetap akan sama?

Apakah setiap ceritanya akan sama berharganya?

Atau justru sangat berbeda?

Banyak hal yang melintas menjadi sebuah pengandaian sampai Om Wira membongkar semua lamunannya, “Kamu suka sama anak Om gak?”

Palette [Changlix]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora