33. Akhir Bahagia Hari Ini, Di Ujung Bukit

165 24 7
                                        


"Leo, anak itu kayaknya daritadi ngintipin kita

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Leo, anak itu kayaknya daritadi ngintipin kita." Ujar Sena.

Changbin terkekeh ketika melihat sepasang mata muncul di kejauhan, menatapnya dengan hati-hati. Dengan tatapan perlahan, Changbin menatap sekitarnya. Lantas berjalan memutar entah kemana setelah membisikkan sesuatu ke Papanya.

Felix yang melihat Changbin pergi akhirnya ikut bertanya-tanya, kemana cowok itu pergi cukup lama meninggalkan Sena sendirian yang mau tidak mau ia lihat terus menerus. Beberapa detik kemudian, sebuah tangan hinggap di bahunya.

"Ketahuan lo!" celetuk Changbin.

"Aduh!" Seru Felix ketika badannya tertimpa beban, Changbin berjalan berputar jauh hanya untuk mengejutkan Felix.

Sena tertawa kecil sambil berjalan ke arah mereka berdua, sampai akhirnya ia tepat berdiri di depan putranya dan sosok yang asing baginya itu, "Siapa?"

Mata Felix membalas tatapan Sena, pikirannya justru malah melalang buana ke sosok Changbin. Pertama matanya, jauh lebih redup dari sosok di sampingnya. Tapi bukan masalah, hal itu tidak merubah fakta bahwa ayah dan anak itu sangat menyerupai satu sama lain. Ada gelombang hasrat yang mengombak sama dahsyatnya di sana, mata penuh ambisi. Yang membedakan adalah sosok Sena yang berwibawa dengan senyum ramah yang sedikit tegas terpatri di mimik wajahnya. Beda dengan Changbin yang lebih jarang memperlihatkan senyuman. Sosok Sena pun rasanya Asing, tapi rasanya sedikit akrab.

"Fel, kenalan dong sama Papa gue." Changbin memotong keheningan sembari memberikan cengiran, terlihat menyembunyikan sedikit rasa gugupnya entah darimana.

Melihat cengiran itu membuat hati Felix sedikit menghangat. Ia hanya ingat beberapa gosip tersebar tentang bagaimana sosok Senandaru dari kabar burung orang-orang di sekitarnya, tapi sosok itu tidak semenakutkan apa yang ia dengar.

Felix mengulurkan tangannya, belum sempat mengeluarkan suara, sebuah suara menginterupsi kembali.

"Fel!" seru Christ sampai akhirnya ketiganya berbalik.

Melihat sosok Christ yang mendekat, mau tidak mau Changbin yang akhirnya membuka suara, "Itu kakaknya, pa. Namanya Christ, kalau yang ini Felix. Mereka tinggal di sebelah."

"Tinggal persis di sebelah?" Sena agak sedikit menyadari sesuatu, "Di rumah Wira?"

"Eh, iya om, Wira ayah saya..." ujar Christ menyahut ketika Sena menyebut nama ayahnya, sontak Sena mendekat sambil menepuk pundak Christ, "Buah jatuh gak jauh dari pohonnya ya, Wira itu sahabat saya dari kecil lho."

Ketiga orang disana menyimak penjelasan Sena, dari semua ini terbukti ternyata Sena sahabat Wira. Hanya saja karena beberapa hal, keduanya harus berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing dan pergi dari sini. Dari cerita ini juga, Christ akhirnya tahu kalau ayahnya pernah membicarakan tentang Christ saat ia masih kecil ke orang lain melalui telpon, salah satunya ke Sena.

Palette [Changlix]Stories to obsess over. Discover now