"You're my color and I'm your masterpiece."
Perihal Changbin kepada lukisannya dan belajar menjadi diri sendiri melalui laki-laki yang ia temui bernama Felix.
Genre: bxb, slice of life, fluff, comedy, romance, and drama.
Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.
Setiap hari, langit cerah.
Ia akan selalu menjadi langit yang cantik.
Tapi setiap hari yang selalu ia tatap itu rasanya telah berbeda semenjak si Pelukis dari negeri dongeng itu muncul, menjejak warna bagai oleh-oleh dari tempat sebelumnya ia berkelana.
"Mau?"
"Mau banget!" Yang lebih muda antusias saat Lino mengajaknya untuk datang ke Rumah, dengan kebiasaannya yang serba grasak-grusuk itu, tangan mungil ikut membantu yang lebih tua bersiap untuk rencana hari ini.
Merayakan selesainya project mural dari Changbin dan Han. Juga menyambutnya pulang dari Rumah Sakit.
Felix teringat beberapa tahun lamanya yang sudah berlalu itu, tungku dan tong besar yang sedang berada di pekarangan rumah Lino pernah menjadi bagian dari hidupnya sebelum Lino pergi mengejar pendidikan di kota.
Senang bisa bernostalgia, karena si tungku itu bisa berjumpa lagi dengannya.
Tidak hanya Felix, beberapa waktu berlalu kedatangan yang lain akhirnya ikut meramaikan suasana.
Sampai sosok laki-laki yang ditunggu-tunggu kedatangannya muncul, berdiri tegak tanpa bergerak seinci pun. Terlampau terkejut dengan kedatangan tamu yang ramai.
"Siapa yang punya hajatan njir kok rame banget."
Caranya berbicara penuh penekanan.
Caranya mengulum senyum dalam diam saat semua orang berbondong-bondong menghampirinya.
Felix tidak pernah tahu hal seperti ini akan memberikan kejutan hangat pada Changbin.
Apalagi orang-orang lain dari Dusun, yang tentu saja sudah berkongkalikong dengan Felix untuk datang setidaknya membawakan sesuatu.
Dibawakannya cerita tentang si pelukis oleh Felix ke semua orang, tentunya disambut hangat di sana.
Hasnan bangkit menghampiri Changbin yang baru datang itu, sedangkan Felix masih sibuk dengan urusannya sendiri. Si laki-laki bersurai pirang itu hanya tertawa ketika Changbin bersenda gurau dengan sahabatnya.
Tangan mungil Felix ambil sepotong daging, dengan iseng ia berikan kepada setiap orang satu persatu. Sampai pada giliran Changbin yang sudah membuka mulut, disambar oleh Hasnan.
"Lo bener-bener ya, jing." geram tuh Changbin, habisnya sedari tadi Hasnan mengikutinya kemanapun ia pergi sekaligus merebut bagiannya saat Felix sudah hendak menyuapinya.
Hasnan menjulurkan lidah, mengejek Changbin.
"Udah, udah... Hasnan jangan gitu ih!" Felix ambil lagi daging untuk disuapin ke Changbin, pergelangan tangan Felix digenggam Hasnan sampai daging itu masuk lagi ke dalam mulutnya.
Changbin melongo, kemudian ambil baskom kosong untuk ia lempar ke Hasnan.
Felix hanya menghela nafas panjang sambil tersenyum maklum, mengingat perkataan Hasnan beberapa hari yang lalu.