17. Go Best Friends

477 78 14
                                        

Hasnan menatap Jean horror, begitu pula dengan Senja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hasnan menatap Jean horror, begitu pula dengan Senja.

Keduanya mampir di kediaman Jean untuk menanyakan keberadaan Felix karena anak itu tidak ada di rumah, mereka berdua berniat mengembalikan topi jerami yang tertinggal di kelas-biasa dipakai Felix saat berangkat ke Sekolah atau bermain.

Tapi yang didapatkan keduanya malah berita tidak menyenangkan.

"Lo.... di-bully? Terus Felix tadi juga dipukulin?"

Demi Tuhan, jika Jean bisa lari saat ini maka akan dilakukan. Nada pertanyaan Hasnan membuatnya tidak nyaman.

Di sisi lain, Senja duduk di sebelah Jean mengusap pundaknya.

"Kenapa gak cerita? Berapa lama?" tanya Senja, Jean mau tidak mau harus jujur kalau Jeno kerap mengganggu dia sudah cukup lama. Sedangkan Felix tahu juga beberapa hari ini.

Felix dan Jean sudah berjanji akan terus merahasiakan ini karena Felix bilang dia tidak mau Jeno dilaporkan ke Sekolah karena mereka sudah kelas tiga, dan ia tidak mau Jeno harus mendapatkan masalah sehingga mempengaruhi pendidikannya. Felix ingin menyelesaikan masalah ini secara personal, karena ia tahu bahwa hal ini bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik.

Dan semua alasan itu Jean jelaskan ke Senja dan Hasnan.

"Makanya kak Felix pulang, karena mukanya tadi kayak gitu." Jean tidak berani menatap Hasnan, hanya merunduk seperti anak rubah yang ketakutan.

Hasnan masih berdiri mematung berdiri, matanya mengawang lurus pada dua orang di depannya. Tapi entah pikirannya kemana.

Sedekat-dekatnya Jean dengan Felix, Hasnan dua kali lipat lebih dekat dengan anak itu.

Kalau bisa dideskripsikan, Hasnan mungkin tahu Felix lebih dalam karena mereka sempat satu Sekolah saat SMP. Berbeda dengan Jean dan Senja yang hanya menjadi teman bermain di rumah.

"Terus lo?" sahut Hasnan setelah jeda panjang, Jean baru berani mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan laki-laki tinggi itu.

"Ya?"

"Terus lo gak masalah kalo di-bully sama dia sampe dia lulus?"

Jean kembali terbungkam.

"Hasnan, jangan gitu. Pelan-pelan ngomongnya." Sambar Senja.

Hasnan mengusak rambutnya sendiri frustasi, ia hanya khawatir dengan kedua sahabatnya kok. Dia peduli. Makanya saat mendengar hal ini ia rasanya kesal, marah, dan khawatir.

Palette [Changlix]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang