"You're my color and I'm your masterpiece."
Perihal Changbin kepada lukisannya dan belajar menjadi diri sendiri melalui laki-laki yang ia temui bernama Felix.
Genre: bxb, slice of life, fluff, comedy, romance, and drama.
Chapter ini dibuat dari sudut pandang orang pertama.
Oops! Ang larawang ito ay hindi sumusunod sa aming mga alituntunin sa nilalaman. Upang magpatuloy sa pag-publish, subukan itong alisin o mag-upload ng bago.
- Changbin Leodra Nasution.
Ada sisi lain gue ngerasa semuanya aneh ketika gue mendapati Papa dateng kesini. Perjuangan gue yang bertahun-tahun dengan isi kepala yang penuh bisa diselesaikan dengan cara kayak gini.
Pikiran gue perang batin, rasanya marah, kesal, gak adil. Gue pengen Papa gue bisa menderita sama kayak gue.
Gue sadar itu ego brengsek gue.
Tapi Papa juga sadar kalo ego dia sama brengseknya dengan ego gue.
Mungkin ini semua karena gue yang udah terlalu muak dikaitkan-kaitkan sama keluarga gue selama ini.
Atau mungkin karena gue yang terlalu rendah diri karena gak bisa seimbang sama keluarga gue.
Tapi ternyata, Papa pernah ada di posisi kayak gue. Bedanya dia nyerah sama mimpinya dan akhirnya gue yang bisa kejar mimpi gue sendiri.
Mimpi gue yang ternyata pernah jadi mimpinya.
Itu yang membuat sebuah kalimat meluncur dari bibir gue ke dia, “Leo juga bangga sama Papa,” tanpa di sadari, itu bikin dia tiba-tiba senyum.
Awalnya, gue selalu bilang kalau gue gak mau jadi orang yang hidup buat nerusin mimpi orang tua gue.
Karena gue yakin, anak hidup untuk dirinya sendiri. Bukan untuk siapa-siapa, cuma dia. Menurut gue saat seorang anak lahir di dunia, dia udah punya tanggung jawab sama dirinya sendiri ketika bertumbuh.
Gue selalu berusaha lari dari sebutan ‘Meneruskan mimpi orang tua’, tapi siapa sangka walaupun gue udah berhasil lepas dari jeratan itu, gue sadar satu hal.
Gue tetep anak orang tua gue, dan gue selalu berusaha memberikan ego gue hal yang lebih.
Melihat Papa yang kayak gitu sekali lagi akhirnya bikin gue sadar kalo itu yang gue takutin, gue takut menyesal seumur hidup karena gak bisa melakukan hal yang gue inginkan kayak beliau.
Gue gak mau hidup dengan menyesali keputusan hidup gue dengan mengikuti bokap gue, walaupun keputusan itu tampak benar secara logika.
Karena yang benar pada suatu logika, bisa saja meninggalkan sebuah lubang besar kehampaan di dalam hati pada seseorang.
Boleh gak sih gue sekarang akrab sama Papa? Setelah semua yang terjadi? Kesalahpahaman, miskomunikasi, asing, perasaan ganjel ini.
Tapi lagi-lagi, gue kepikiran. Seberapa menakjubkannya orang-orang yang bisa merelakan mimpi mereka demi sesuatu yang berharga dan gue gak akan pernah bisa melakukan itu.
Itu bikin gue sadar kalo, orang yang ngerelain mimpinya pergi sama dengan orang yang bisa mempertahankan mimpinya. Mereka punya nilai yang sama besarnya.