Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
--------------
Bukannya Jun yang kulihat, malah seorang pria seumuran denganku. Ia membawa tembakan ditangannya. "Dimana kau gadis cantik" ucapnya. Suaranya menggema di ruang tamu rumah Jun.
Siapa dia dan apa yang ia mau. Hari ini tidak ada satupun orang dirumah. Jadi mau tidak mau aku harus bersembunyi hingga Jun datang. Untung saja Jun memberi tahuku password ruang bawah tanahnya.
Dari bawah sini aku bisa mendengar ia beberapa kali berteriak. Memaki Jun, atau memanggil "gadis cantik". Ia juga sepertinya membanting beberapa barang.
Aku memejamkan mataku dan mencoba menghubungi Jun. Ia tak mengangkat telfonku, atau membaca pesanku. Ini juga hampir pukul 6.
"Apa aku harus keluar?" batinku. Tanganku sudah menggenggam gagang pintu dan siap membukanya. Namun tanganku berhenti ketika mendengar suara Jun.
"Ya! Apa yang kau lakukan mengacak-acak rumahku seperti ini?!" hardiknya. Tak lama aku bisa mendengar seseorang yang terbanting di lantai. Aku tak bisa tahu siapa itu.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jun. "Aku? Tentu aku akan menghabisi gadis cantikmu itu.. seperti kau menghabisi adikku".
Ingatanku kembali pada hari dimana Jun membawaku ke sebuah tempat untuk melihat pemandangan malam. Apa lelaki itu adalah lelaki yang Jun ceritakan.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh gadisku!" suara Jun menggema ke seluruh penjuru rumah. "Kau saja berani menyentuh gadis kecilku, lalu kenapa aku tak boleh?" jawab lelaki itu.
Tanganku bergetar, aku ingin tahu siapa yang tadi terbanting ke lantai. Aku ingin tahu apakah Jun baik-baik saja. Tapi aku terlalu takut untuk keluar, ia mengincarku.
"Kalau kau dendam, bunuh saja aku.. jangan gadis itu" ucap Jun. Tidak.. tidak boleh. Jun harus tetap hidup. "Aku tak berminat membunuhmu, aku hanya ingin kau menderita bukannya mati".
Ucapan lelaki itu sama dinginnya dengan Jun dulu saat pertama kali bertemu. Ia terdengar tak bernyawa dan setiap kalimat yang ia lontarkan tidak terdengar berperasaan.
"Sekarang cepat katakan dimana gadis itu!" bentaknya.
-Jun POV-
Bahuku terasa sakit karena ia menginjakku begitu kuat. Aku tak bisa melawan juga, tak ada salah satu bawahanku yang mengikutiku pulang. "Teruslah bersembunyi Y/N-ah" batinku.
"Kau mau aku mencarinya sendiri, huh?.. baiklah kalau aku menemukannya aku akan membunuhnya tepat didepanmu" ancamnya.
Tenggorokanku terasa sakit, siapapun asalkan jangan Y/N. "Kau mencariku bukan?" suara itu muncul dari belakang kami. Jantungku berhenti berdetak, kenapa ia harus keluar.